Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Nilai Rasa Bahasa; ’’Kowe Sontoloyo, Cuk!’’

Ahad 17 Feb 2019 09:53 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Jancuk, antara kemesraan dan makian

Foto:
Sontoloyo dan Jancuk adalah ucapan makian dalam keakraban

Di masa lalu, saling pengaruh Belanda-Indonesia cukup intens. Ada kata-kata yang bertahan tetap dipakai hingga kini, ada pula yang hilang ditelan zaman. Oorlam contohnya, di kamus dicatat dengan makna baru sebagai ransum minuman keras yang dibagikan di kapal di waktu tertentu. Pienter tetap adalah kata kuno yang sudah tidak dipakai tetapi masih dicatat di kamus, berasal dari pinter bahasa Jawa.

Di Indonesia, dulu mengenal golbi (dari gulp). Hingga kini masih tercatat di KBBI, tetapi sudah jarang dipakai. Di Jawa, brug (dari broeg) tetap dipakai untuk menyebut jembatan kecil. Kekelen (dari kakelen) tetap dipakai untuk menyebut terpingkal-pingkal.

Di Indonesia, penggunaan bahasa Belanda sehari-hari memang hilang sama sekali sejak tahun 1960-an. Bahasa Inggris menjadi pengganti yang penggunaannya sering merusak bahasa Indonesia.

photo
Karimah di kelas bahasa belanda Euro Management. (Foto: Priyantono Oemar/Republika)

Kendati begitu, Euro Management masih percaya diri menawarkan kelas Belanda di kelas kursusnya. Masih banyak yang mau mempelajarinya. "Sejak 2016, ada sekitar 100 peserta beasiswa dan 18 nonbeasiswa," ungkap Karimah, pengajar bahasa Belanda di Euro Management.

Dari 100-an peserta itu, sebanyak 40-an merupakan siswa SMA. "Saat ini ada 21 siswa SMA yang kelasnya sedang berjalan," ujar Karimah.

Meski orang-orang Belanda sudah berbicara bahasa Inggris, kata Bimo Sasongko, tetapi masih ada kelas-kelas kuliah di Belanda yang masih menggunakan bahasa Belanda. Karena itulah, kata Direktur Euro Management itu, Euro Management tetap membuka kelas Belanda. Ini bagian dari Program Indonesia 2030, Sejuta Indonesia di Jantung Dunia. Per kelasnya ada 20-30 peserta.

"Meski orang Belanda sudah berbahasa Inggris, jika mahasiswa Indonesia bisa berbahasa Belanda, akan lebih baik," ujar ketua umum Ikatan Alumni Habibie (IABIE) yang juga wakil sekjen ICMI itu.

Rukmi membuktikan bahwa mereka langsung klik begitu orang asing mengajaknya berbahasa Inggris. Selama sebulan di akhir 2018 tinggal di Delft, ia bisa mencoba berbahasa Belanda dengan keponakannya, tetapi belum berani dengan orang Belanda.

Suatu hari, ia seharian jalan-jalan, lalu membeli kentang goreng sebagai camilan. Ia teringat di kelas Belanda ketika pelajaran bertema makanan. Guru kelas Belanda di Euro Management, Nurul Primayanti, pernah membahas patat oorlog (kentang perang) untuk sebutan kentang goreng berbumbu mayonaise dan saus satai. Saus satai ini berbahan kacang, yang biasa dipakai sebagai saus satai di Indonesia.

Saat itu, Rukmi hanya menemukan kentang goreng dengan mayonaise dan saus barbeku yang berbahan bawang dan lada. "Kamu perlu mencicipi patat oorlog," ujar Nurul.

Disebut patat oorlog karena camilan ini muncul di masa perang dunia pertama. Saus satai, kata Nurul, dipakai karena mereka teringat Indonesia, yang saat itu ketika mereka di Indonesia, untuk menikmati kentang goreng, saus yang tersedia adalah saus satai.

Jika patat oorlog menjadi camilan yang masih ada hingga kini di Belanda, perkedel juga camilan yang masih ada hingga kini di Indonesia. Perkedel pada awalnya camilan yang dibuat dengan bahan lokal meniru frikadel di Belanda. Orang Indonesia kemudian cukup menyebutnya dengan lidah lokal: perkedel.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA