Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Politik, Masjid, Shalat Jumat: 'Deja vu' Ala Kekuasan Jawa

Sabtu 16 Feb 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920

Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920

Foto: Gahetna.nil
Politisasi masjid, shalat, dan Islam hanya mengulang gaya kekuasaan lama di Jawa.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Jawa dan Islam memang terjadi persinggungan unik. Tak jelas apa sebab utamanya mengapa penduduk Jawa yang mayoritas Hindu dan Budha bisa beralih menjadi Muslim, terutama semakin marak semenjak era akhir Majapahit di tahun 1300 M.

Dalam hal itu, tak aneh bila ada sejarawan asing yang ketus menyebut berpindahnya agama orang Jawa -- terutama para Raja Jawa sifatnya politik atau untuk kepentingan oportunis kekuasaan. Mereka hanya pindah dengan tujuan awalnya sebenarnya untuk kepentingan kekuasaan.

Tapi apa pun itu, faktanya orang Jawa sudah kini telah kian banya merasuk menjadi Muslim. Sejarawan Australia, Ricklefs, menulis dalam bukunya tentang 'Mengislamkan Jawa' bahkan sempat menyimpulkan bila Jawa masa kini sudah semakin Islam dan sangat susah untuk kembali mundur ke belakang. Dengan kata lain, orang Jawa 'abangan' kian menipis semuanya berubah drastis mulai dari fenomena meluasnya penggunaan jilbab, tersebarnya pengajian di pelosok Jawa, hingga munculnya fenomena gerakan Islam yang digagas Abu Bakar Baasyir, dan hal lain yang identik.

Lalu apa hubungannya masjid, shalat Jumat, dan politik kekuasaan di kerajaan Jawa itu. Jejaknya sangat mudah terlihat misalnya pada kisah Raja Mataram Sunan Pakubuwono IV hingga para leluhur raja Jawa lainnya. Semua ternyata anak-anak santri bahkan banyak sekali punya leluhur orang Pesantren. Salah satu contoh lainnya ada pada sosok Sultan Hamengku Buwono I (pendiri kerajaan Mataram Yogyakarta yang jelas anak keturunan seorang ulama).

Khusus untuk Sunan Paku Buwono ke IV malah harus diberi catatan khusus. Dia dikenal sebagai 'Raja yang santri'. Tak hanya punya kebolehan memahami ajaran Islam, dia juga mengajarkannya langsung dalam tata kehidupan sehari-hari. Setiap Jumat di selalu memberi khutbah, atau pada hari biasa dia lazim memberi pengajian.

photo
Paku Buwono IV


Tak hanya itu, Sunan Paku Buwono ke IV suka puasa tak hanya pada bulan Ramadhan, melainkan juga melaksanakan puasa Senin-Kamis. Dalam sehari-hari dia memakai pakaian khas Arab yakni jubah dan turban. Bahkan, ketika dia menulis Sunan Paku Buwono IV ini menghasilkan 'serat Wulang Reh' yang berisi ajaran Islam. Bagi warga kerajaan, Sunan Pakubowoni IV ini kerap disebut sebagai 'Sinuhun wali'. Bahkan sosok raja ini sudah menjadi hikayat dengan adanya kisah menjelang shalat Maghrib dia selalu saja di Makkah, yakni selain utuk shalat Maghrib dia bertugas menyalakan lampu di Masjidil Haram saat itu.

Pengaruh Islam saat itu di Kraton Jawa Mataram yang kemudian pecah menjadi dua --kemudian malah pecah tiga--, memang sangat kental. Masjid kala itu menjadi pusat pergerakan. Ini misalnya, saat kerajaan ini berkonflik dengan Belanda, selebaran seruan 'jihad' dari 'Syarif Makkah' tersebar di berbagai masjid yang ada di sana. Kepedulian mereka terhadap hubungan Islam dan politik terus diturunkan kepada generasi berikutnya (meski tidak semua).

Contoh yang sama terjadi pada sosok Paku Buwon X yang menjadi penyokong utama Sarekat Islam. Juga di Yogyakarta, berkat Sultan Hamengku Buwono ke VIII, seorang anak penghulu kraton bernama Mohammad Darwis bisa menuntut ilmu ke Makkah. Dan semua tahu, anak penghulu Kraton inilah yang kemudian mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Sosok Darwis itulah yang kemudian berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan.


 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA