Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Baca Ini Kalau Masih Sering Konsumsi Makanan 'Ultraproses'

Kamis 14 Feb 2019 05:00 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Makanan olahan

Makanan olahan

Foto: flickr
Peneliti menemukan kaitan antara konsumsi makanan olahan dengan kematian dini

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Sekelompok ilmuwan Prancis melakukan penelitian yang fokus pada makanan yang diproses secara berlebihan atau disebut ultraproses. Istilah "ultraproses" mengacu pada produk makanan yang telah dimasukkan produsen melalui proses industri, dan mengandung berbagai bahan.

Beberapa contohnya termasuk minuman manis, roti, makanan siap saji, dan daging olahan. Menurut penulis studi terbaru, para ilmuwan telah menghubungkan produk ultraproses dengan berbagai kondisi, termasuk "obesitas, hipertensi, dan kanker". 

Pada umumnya makanan lebih tinggi energi, lemak, dan gula atau garam, rendah serat, yang berkaitan erat dengan risiko penyakit. Makanan juga cenderung mengandung berbagai bahan buatan yang mungkin juga berperan dalam beberapa kondisi.

Produk semacam itu cenderung murah untuk diproduksi, dan terjangkau bagi konsumen. Menurut beberapa penelitian, makanan ultraproses mendominasi pasokan makanan dari negara-negara berpenghasilan tinggi.

Faktanya, makanan ultraproses memproses sekitar 57,9 persen dari asupan energi untuk AS. Meskipun para ilmuwan sebelumnya mengaitkan makanan yang diproses ultra dengan banyak kondisi kesehatan, sampai sekarang, tidak ada yang meneliti dampaknya terhadap kematian secara keseluruhan. Sebuah studi baru, yang sekarang muncul di JAMA Internal Medicine, hadir untuk mengisi celah ini.

Dalam penelitian para ilmuwan mengambil data dari French NutriNet-Santé Study. Secara total, mereka mengikuti 44.551 orang berusia 45 atau lebih dengan rata-rata 7,1 tahun.

Setiap sukarelawan mengisi formulir berbasis web yang menanyakan tentang asupan makanan, dan mereka memberikan informasi tentang gaya hidup, berat badan, tinggi badan, tingkat aktivitas fisik, dan status sosial ekonomi. Para ilmuwan melihat bahwa mengonsumsi makanan dengan tingkat ultraproses yang lebih tinggi dikaitkan dengan lebih muda, berpenghasilan lebih rendah, memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, hidup sendiri, berolahraga lebih sedikit, dan memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi.

Seperti yang mereka perkirakan, bahkan setelah disesuaikan dengan sejumlah faktor, tingkat makanan ultraproses yang lebih tinggi dalam makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian karena semua penyebab. Secara keseluruhan, peningkatan 10 persen dalam jumlah makanan yang dikonsumsi dengan ultraproses setara dengan peningkatan 14 persen dalam risiko kematian.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA