Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

BUMI Siap Rebut Pasar Australia

Selasa 12 Feb 2019 18:38 WIB

Rep: maman sudiaman/ Red: Hiru Muhammad

Presiden Direktur BUMI Resources, Saptari Hoedaja (tengah)

Presiden Direktur BUMI Resources, Saptari Hoedaja (tengah)

Foto: Republika/Maman Sudiaman
Kualitas ekspor batubara nasioal lebih unggul

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cadangan batubara di Tanah Air yang diperkirakan mencapai 37 miliar ton menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar pemasok batubara di dunia. Meski demikian, menurut Presiden Direktur BUMI Resources, Saptari Hoedaja, masih banyak negara-negara pesaing utama semisal Australia dan Rusia.

Dengan pasar ekspor wilayah Asia, kata Ari-- panggilan Saptari, eskpor batubara nasional khususnya dari BUMI lebih unggul. Salah satunya lantaran posisi Indonesia lebih dekat langsung dengan pasar. Karena kondisi itu menjadikan ongkos jualnya batubara dari negara-negara pesaing lebih tinggi.

Dengan dasar itu pula, pihaknya semakin optimistis menjual produknya di wilayah Asia mulai dari China, Korea, Jepang serta negara lainnya. " Kami juga akan mengembangkan pasar eskpor semisal Vietnam dan Filipina. Ini saatnya merebut pasar Australia," tegas Ari kepada wartawan, Selasa (12/2).

Dibanding negara pesaing, katanya, keunggulan lain dalam eskpor batubara yakni pengiriman yang tepat waktu. Lebih dari itu, kualitas produk yang dimiliki BUMI menjadi hal utama dalam pengembangan pasar ekspor. "Itulah kuncinya," ujarnya seraya mengatakan di tahun 2019 ini pihaknya mulai menekan trader dengan alasan dirrect selling jauh lebih efektif. "Apalagi beberapa negara sudah memilih pola ini, semisal Jepang dan lainnya," tambahnya..

photo
Data permitaan batubata

Didampingi Wakil Direktur PT BUMI, Achmad Reza Widjaja dan Sekper PT BUMI, Dileep Sivasta, Ari menjelaskan, saat ini target produksi batubara hingga saat ini sebanyak 96 juta ton. Produksi itu berasal masing-masing berasal dari Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin.

Diakuinya, faktor cuaca (hujan-red) sangat memengaruhi proses produksi menjadi pemicu penurunan tersebut. Namun, kondisi cuaca diprediksi lebih baik di sisa tahun ini. Sehingga, manajemen BUMI masih optimistis mampu mencapai target. Bahkan, tak menutup kemungkinan produksi batubara BUMI melampaui target."Curah hujan di Kalimantan sangat tinggi. Setelah kering kita jalan lagi untuk mengejar ketertinggalan produksi," ujarnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA