Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Raja yang Akhiri Pencalonan Putri Uboltrana Sebagai Calon PM

Ahad 10 Feb 2019 16:51 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Putri Thailand Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi mencalonkan diri sebagai perdana menteri Thailand.

Putri Thailand Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi mencalonkan diri sebagai perdana menteri Thailand.

Foto: AP
Thai Raksa Chart bersumpah setia terhadap Raja.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Drama politik Thailand selama dua puluh jam berakhir. Partai Thai Raksa Chart yang mencalonkan Putri Ubolratana Mahidol sebagai perdana menteri memberikan sumpah setia mereka kepada Maharaja Vajiralongkorn.

Sumpah setia ini diberikan setelah raja menyebut pencalonan Ubolratana  tidak pantas dan inkonstitusional. Dalam pernyataannya Thai Raksa Chart berterimakasih atas kebaikan Putri Ubolratana.

Karir politik Ubolratana tidak hanya berakhir dengan cepat, tapi juga sangat mengejutkan rakyat Thailand. Pasalnya, dia mewakili partai yang memiliki afiliasi dengan mantan perdana menteri yang kini menjadi buronan Thaksin Shinawatra.

Dikombinasikan atas dukungan banyak pihak dan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya ia menjadi kandidat yang sangat kuat. Ubolratana dapat membuat jembatan antara kelompok populis 'seragam merah' yang mendukung Thaksin dan kelompok konservatif royalis 'seragam kuning' yang beralinasi dengan militer.

Perpecahan kedua kubu tersebut menciptakan gejolak politik di Thailand selama beberapa tahun terakhir. Dalam tradisi, kerajaan merupakan institusi yang paling dihormati di Thailand. Mereka berada di luar krisis dan gejolak politik yang telah terjadi selama beberapa dekade.

Para pangamat menilai pencalonan Ubolratana ini diam-diam disetujui saudara laki-lakinya.  Kedua saudara kandung ini diyakini cukup dekat. Ubolratana juga menikahi warga negara Amerika pada 1970-an. Ia pun melepas gelar kerajaannya. Sesuatu yang ia sebut dapat membuatnya maju menjadi calon perdana menteri. Tapi ternyata raja tetap tidak merestui pencalonan Abolratana.

"Walaupun berdasarkan hukum kerajaan ia sudah melepas gelarnya, ia tetap memiliki status dan posisi sebagai anggota dinasti Chakri, keterlibatan petinggi kerajaan dalam politik, dalam hal apa pun, bertentangan dengan tradisi, kebiasaan dan budaya negara dan terlebih tidak pantas," kata Maharaja Vajiralongkorn, seperti dilansir di the Guardian, Ahad (10/2).

Baca juga, Putri Thailand: Saya Ingin Thailand Maju.

Usai raja menyatakan pendapatnya terhadap pencalonan Ubolratana, Thai Raksa Chart mengkonfirmasi pencalonan Ubolratana dibatalkan. Di media sosial Instagram Ubolratana pun menyampaikan terimakasih kepada orang-orang yang telah mendukungnya, tapi ia sama sekali tidak menyinggung raja.

Sejak 2001 Thaksin dan sekutunya memenangkan setiap pemilihan umum. Ia dukung oleh kebijakan-kebijakan populer seperti jaminan kesehatan universal. Ia digulingkan dalam kudeta militer pada 2006.

Pemilihan umum 24 Maret mendatang akan menjadi pemilihan pertama sejak militer melakukan kudeta terhadap adik Thaksin pada 2014. Pemimpin kudeta kala itu Prayut Chan-o-cha menjadi kandidat terkuat dalam pemilihan umum mendatang. Prayut sempat mengatakan ia maju untuk mempertahankan kedamaian dan ketertiban.
Prayut diprediksi akan kembali berkuasa sebagai perdana menteri.

Masuk politik mendadak

Ubolratana masuk ke dalam gelanggan politik secara mendadak setelah berpuluh-puluh tahun bertindak tidak sesuai harapan. Sebagai anak tertua Raja Bhumibol Adulyadej yang meninggal tahun 2016 setelah berkuasa selama 70 tahun, Abolratana menikahi Peter Ladd Jesse, warga AS dan sesama mahasiswa Massachusetts Institute of Technology.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA