Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Pendapat Ekonom Soal Tantangan Membentuk Holding BUMN

Jumat 08 Feb 2019 02:00 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Muhammad Hafil

Kementrian BUMN (Ilustrasi)

Kementrian BUMN (Ilustrasi)

Foto: ANTARA
Holding masih akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan merger.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Saat ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam proses membentuk dua holding yaitu infrastruktur serta perumahan dan pengembangan kawasan. Ekonom senior yang juga menjadi Komisaris Independen Bank Central Asia (BCA) Cyrillus Harinowo mengatakan mengatakan ada beberapa tantangan yang harus dihadapi saat membentuk holding.

“(Tantangan) paling berat adalah menyatukan budaya. Contohnya di perbankan, pasti masing-masing merasa saya lebih dari kamu, saya lah yang seharusnya menjadi pemimpinnya. Isu ini selalu muncul,” kata Cyrillus di Menara BCA, Jakarta, Kamis (7/2).

Begitu juga dengan membentuk holding BUMN Karya, kata Cyrillus, menurutnya juga akan muncul keinginan masing-masing untuk memimpin. Namun, dia menilai dengan membentuk holding infrastruktur menjadi salah satu cara untuk membesarkan satu bisnis dari yang lokal dan nasional menjadi regional.

“Saya harus mengakat topi kepada teman-teman BUMN (yang menjadi anggota holding inftrastruktur serta perumahan dan pengembangan kawasan,” ujar Cyrillus.

Dia yakin dengan adanya pembentukan holding tersebut maka yang sebelumnya terdapat kekuatan terpecah-pecah maka nantinya dapat dikonsolidasi. Hanya sja, menurut Cyrillus  setiap peerusahaan tersebut harus menghadapi proses terlebih dahulu.

“Jadi nanti pasti pada waktu penyesuaian-penyesuaiannya. Akan ada banyak hal yang harus diatasi mereka (holding BUMN),” tutur Cyrillus.

Meskipun begitu, Cyrillus merasa holding masih akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan merger. Dia menilai, dengan membentuk holding maka akan menghadapi tantangan dalam legalisatas kepemimpinannya dan tanggung jawab yang tadinya ke pemerintah namun sekarang hanya kepada induk usaha.

Sebelumnya, Kementerian BUMN memastikan holding perumahan dan pengembangan kawasan serta infrastruktur akan rampung pada pertengahan Februari 2019. Saat ini rencana pembentukan holding BUMN masih menunggu diterbitkannya akta inbreng atau akta pengalihan aset.

“Seperti kata Bu Menteri (Rini Soemarno) minggu lalu, holding direncanakan (rampung) pertengahan Februari. Kalau lebih cepat, lebih bagus,” kata Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro dalam jumap pers di Gedung WIKA Jakarta, Senin (28/1).

Holding BUMN Perumahan dan Pengembangan Kawasan dipimpin Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas) di mana WIKA, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Virama Karya (Persero), PT Amarta Karya (Persero), PT Indah Karya (Persero) dan PT Bina Karya (Persero) akan menjadi anggotanya.

Ada pun Holding BUMN Infrastruktur akan dipimpin PT Hutama Karya (Persero) dengan anggota holding yaitu PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Yodya Karya (Persero) dan PT Indra Karya (Persero).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA