Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Kepulan Asap Dupa di Rumah Warga Cina Benteng

Kamis 07 Feb 2019 05:37 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Karta Raharja Ucu

Seorang wanita keturunan etnis Tionghoa Tangerang atau Cina Benteng menyalakan hio saat merayakan  Imlek di rumahnya di kawasan Kampung Lebak Wangi, Mekarsari, Tangerang, Banten

Suasana lingkungan RT 01/04 Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasasi, Kota Tangerang, saat merayakan Imlek, Selasa (5/2).

Foto: Bayu Adji P/Republika
Tangerang itu namanya dulu Benteng, karena banyak rumah berbentuk bentengan

Tak lama berselang, adik Ong datang bersama keluarganya. Mereka memberikan ucapan selamat Imlek kepada Ong dan istrinya. Setelah itu, adik Ong menuju ke dalam rumah untuk menyalakan dupa, mendoakan leluhur mereka.

Di atas meja berdoa, terdapat buah-buahan seperti apel, pir, jeruk, dan buah naga. Menurut Ong, buah-buah itu merupakan simbol cinta kasih dan kebahagiaan.

Salah satu warga Kampung itu, Edhi (56) mengatakan, pada dasarnya perayaan Imlek di lingkungannya tak ada yang berbeda dengan perayaan hari besar keagamaan lainnya. Seperti juga Idul Fitri, Natal, dan lainnya.

photo
Suasana lingkungan RT 01/04 Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasasi, Kota Tangerang, saat merayakan Imlek, Selasa (5/2). (Foto: Bayu Adji P/ Republika)
Ia menjelaskan, pada malam sebelum Imlek, warga datang ke kelenteng untuk berdoa. Pada pagi hari, lanjut dia, warga akan saling berkunjung satu sama lain bersilaturahim.

"Tradisinya sama, gak ada berbeda dengan yang lainnya," kata dia.

Namun, kata dia, baru tahun ini dipasang lampion di sepanjang jalanan gang. Sebagai warga, ia pun ikut membantu pemasangan lampion itu. Meski menurut dia, warna lampion yang berwarna-warni itu menyalahi tradisi. Seharusnya, lampion itu berwarna merah.

Ia mengatakan, hampir 10 ribu orang di Kelurahan Mekarsari adalah masyarakat keturunan. Namun, sebagian besar masyarakat keturunan masih hidup di bawah angka kemiskinan. Meski banyak warga Cina Benteng yang masih hidup susah, Edhi mengatakan, kebersamaan di kampung itu selalu terjaga.

"Kerukunannya terjaga. Mangkanya kerusuhan 1998 di sini gak ada masalah," kata lelaki yang lahir dan besar di tempat itu.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA