Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Harbolnas Bantu Dongkrak Pertumbuhan Perdagangan 2018

Rabu 06 Feb 2019 20:48 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pekerja menyortir barang pesanan konsumen saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2018 di Warehouse Lazada Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (12/12/2018).

Pekerja menyortir barang pesanan konsumen saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2018 di Warehouse Lazada Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (12/12/2018).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Sektor perdagangan 2018 tumbuh 4,97 persen di atas 4,46 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, peristiwa Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) turut membantu kinerja pertumbuhan lapangan usaha sektor perdagangan. Hal itu bersama dengan tingkat penjualan mobil serta motor, ujarnya, menunjukkan kondisi daya beli masyarakat relatif cukup baik. 

"Kita bisa melihat bahwa peningkatan penjualan mobil dan sepeda motor bagus. Di satu sisi, ini menunjukkan daya beli rumah tangga masih bagus. Penjualan selama Harbolnas juga membantu," kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Rabu (6/2). 

Sektor perdagangan pada kuartal IV 2018 mampu tumbuh 4,39 persen (yoy) meski masih melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal IV 2017 yang sebesar 4,53 persen (yoy). Akan tetapi, secara keseluruhan 2018 sektor perdagangan mampu tumbuh 4,97 persen menguat dibandingkan 2017 yang hanya sebesar 4,46 persen. 

Berdasarkan pengeluaran, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pun berhasil kembali ke level 5 persenan atau tepatnya 5,05 persen. Pada 2017, pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya sebesar 4,94 persen. Kendati sudah memantau fenomena Harbolnas, Suhariyanto mengaku belum bisa mendapatkan data transaksi niaga daring secara keseluruhan. 

"Ini kami hitung secara makro. Bisa diperhitungkan, tapi untuk pengumpulan data e-commerce itu belum," kata Suhariyanto. 

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan, transaksi penjualan makanan jadi melalui kurir daring seperti Go-Food dan Grab-Food turut mempengaruhi tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga 2018. Menurutnya, hal ini turut menegaskan adanya pergeseran pola konsumsi ke komponen leisure

Dia menjelaskan, pertumbuhan konsumsi makanan dan minuman selain restoran pada 2018 melambat menjadi 5,13 persen dari tahun sebelumnya yang 5,26 persen. Sementara, pertumbuhan konsumsi dari restoran dan hotel justru meningkat menjadi 5,74 persen dari sebelumnya 5,43 persen. 

"Terlihat sekarang ibu-ibu agak malas masak, jadi kalau kita belanja makanan jadi, akomodasi, transportasi, rekreasi sekarang shifting ke sana," kata Sri. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA