Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Kiai Maruf Tegaskan Pesantren Bukan Bengkel Anak Nakal

Rabu 06 Feb 2019 08:37 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Indira Rezkisari

KH Maruf Amin

KH Maruf Amin

Foto: Antara
Pesantren bukan sekadar tempat benahi anak yang tidak bisa diurus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon Wakil Presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin kembali menyerukan gerakan 'Ayo Mondok' kepada masyarakat luas. Seruan tersebut disampaikan Ma'ruf dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Al-Hidayat Krasak Temuroso Guntur, Demak, Jawa Tengah, Selasa (5/2).

Ma'ruf menegaskan, generasi muda Indonesia saat ini perlu ada yang dipersiapkan sebagai ulama. Sebab di era yang serba maju seperti sekarang, upaya regenerasi ulama menjadi amat penting untuk digerakkan.  

"Mari kita dukung upaya-upaya para ulama mendirikan pesantren dengan mengirim anaknya ke pesantren. Saya setuju sekali dengan gerakan Ayo Mondok," kata Ma'ruf dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (6/2).

Kiai Ma’ruf berharap kepada para orang tua agar putra-putri yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi digiring untuk mau menuntut ilmu di pondok pesantren. Sebab, Ma'ruf khawatir jika hanya anak-anak yang dengan keterbatasan ilmu dikirim ke pesantren, tidak akan membawa perubahan.

Menurut Ma'ruf, santri yang akan menjadi ulama harus mampu mengimplementasikan banyak ilmu dan bisa membagikan ilmunya kepada masyarakat sehingga menjadi manfaat bagi umat. "Satu anak kita harus kita kirim ke pesantren. Anak tiga, satu ke pesantren. Punya anak lima, satu ke pesantren. Tapi, yang dikirim ke pesantren itu anak yang paling pintar. Jangan anak yang paling bodoh," ujarnya.  

"Yang pintar disuruh jadi dokter, yang pintar disuruh jadi insinyur, yang pintar disuruh jadi ahli, giliran yang bodoh dikirim ke pesantren. Jadi santri itu disebut KW 2. Nanti kalau jadi kiai, kiai bodoh. Padahal kiai itu harus pintar, karena akan membimbing umat," kata Ma'ruf menambahkan.  

Ia pun meminta kepada para orang tua agar tidak menjadikan pesantren sekadar tempat untuk membenahi anak yang tidak bisa diurus, malas-malasan atau bahkan selalu mendapatkan nilai jelek di sekolah umum. Sebab, kata Ma'ruf, pesantren tempat untuk mengurus anak-anak nakal.

"Anak yang sudah tidak bisa diurus, teler terus, rapornya merah terus, lalu dititipkan saja di pesantren. Akhirnya pesantren yang begitu tempat bengkel anak-anak nakal," jelas Ma'ruf.

Ma'ruf meminta semua pihak untuk mendukung program 'Ayo Mondok' di pesantren-pesantren. Tujuannya, agar tercetak ulama-ulama yang berkualitas di masa depan sehingga membawa kebaikan untuk masyarakat Indonesia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA