Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Harapan Warga Tionghoa di Tahun Babi Tanah

Rabu 06 Feb 2019 05:47 WIB

Rep: Imas Damayanti, Mimi Kartika/ Red: Elba Damhuri

Umat yang merayakan hari raya Imlek nampak melakukan ibadah di Vihara Dharma Jaya Toasebio, di bilangan petak 9, Jakarta, Selasa (5/2).

Umat yang merayakan hari raya Imlek nampak melakukan ibadah di Vihara Dharma Jaya Toasebio, di bilangan petak 9, Jakarta, Selasa (5/2).

Foto: darmawan / republika
Warga Tionghoa mendoakan bangsa Indonesia agar damai dan maju.

REPUBLIKA.CO.ID, Sekilas tak ada yang istimewa dan berbeda dari struktur bangunan di Wihara Dhanagun, Kota Bogor, dari kelenteng lainnya yang ada di Indonesia. Namun, kelenteng yang didirikan sejak 1672 itu memiliki arti mendalam bagi etnis Tionghoa di wilayah tersebut.

Ayung Kusuma (68 tahun), salah satu warga peranakan Tionghoa bermarga Hokkian yang menjadi pengurus harian di Wihara Dhanagun, menceritakan sejarah panjang kelenteng itu berdiri. Meski tak tahu tanggal pasti wihara itu didirikan, yang dia ketahui dari berbagai sumber literasi dan cerita nenek moyang, kelenteng itu dibangun dari spirit kebersamaan marga Hokkian.

“Waktu itu pengikutnya Laksamana Cheng Ho yang tidak ingin kembali ke Cina, memutuskan untuk menetap di Bogor ini dan beranak-pinak,” kata dia saat ditemui Republika, kemarin.

photo
Umat yang merayakan hari raya Imlek nampak melakukan ibadah di Vihara Dharma Bakti, di bilangan petak 9, Jakarta, Selasa (5/2).

Laksamana Cheng Ho merupakan seorang pejabat Dinasti Ming yang dipercayai memimpin ekspedisi laut besar-besaran pada abad ke-15. Meski merupakan seorang Muslim, armada agung yang ia pimpin terdiri atas berbagai golongan.

Pola kisah anak buah Laksamana Cheng Ho yang enggan pulang ini dengan mudah kita temukan di beberapa permukiman Cina sepanjang Pantai Utara Jawa. Semisal di Klenteng Sam Po Kong di Semarang sampai ke sejumlah klenteng di Kota Lasem, Kabupaten Rembang.

Sebagian anggota armada tersebut akhirnya membentuk sebuah komunitas etnis Tionghoa Hokkian di sekitar wilayah Surya Kencana, Kota Bogor. Sebagai suatu komunitas baru di negeri yang baru pula, kata dia, masyarakat Hokkian mulai berbaur dengan masyarakat lokal dan lambat laun mendirikan kelenteng sebagai keperluan peribadatan dan kebudayaan.

photo
Perayaan imlek di Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Selasa (5/2).

Sedari sejarahnya, menurut Ayung, Laksamana Cheng Ho memang dikenal menanamkan sikap kebersamaan dan toleransi kepada para pengikutnya. Hal itulah yang hingga kini kerap diterapkan para keturunan dari pengikut Laksamana Cheng Ho yang menetap di Bogor.

“Peringatan Imlek kali ini kami berdoa agar Indonesia selalu diberi kedamaian oleh Tuhan. Kebersamaan yang telah kita punya selama ini adalah warisan yang perlu kita jaga,” kata Ayung Kusuma.

Semangat peringatan Imlek, kata dia, harus dimaknai sebagai sebuah ajang pemersatu bangsa yang harus diperjuangkan. Namun, terkait akidah dan keyakinan individu, kata dia, itu kembali ke penilaian masing-masing.

“Kalau semua warga etnis apa pun bersatu, negara kuat. Kalau negara kuat, Indonesia sejahtera,” ujar Ayung.

photo
Suasana perayaan Imlek di Vihara Dharma Bakti, Glodok, Jakarta Barat, Selasa (5/2).

Menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini, tak sedikit warga Tionghoa yang mendoakan serupa untuk Indonesia. "Mau pemilu juga kan tahun ini, ya biar selalu damai," kata Wendy (48), di Vihara Dharma Bakti yang berada di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat.

Menurut Wendy, masyarakat Indonesia akan menggelar pesta demokrasi secara serentak sehingga menjaga kedamaian dan kerukunan harus diperkuat. Kebanyakan dari mereka yang datang mengenakan pakaian bernuansa merah.

Wendy juga berharap pada tahun baru babi tanah ini memberikan rezeki, kesehatan, dan keselamatan yang lebih dibandingkan tahun sebelumnya.

Bonsu Anton Triyono, humas Kelenteng Eng An Kiong di Jalan Laksda Martadinata, Kota Malang, menuturkan, tahun baru Cina kali ini menandai masuknya tahun babi tanah atau kayu. Dalam ilmu astrologi khusus Cina, babi tanah/kayu bisa juga dibaca sebagai situasi tahun penuh uang atau keberhasilan.

Shio keberhasilan ini, menurutnya, tidak hanya bermakna khusus bagi setiap individu di Indonesia. Makna filosofis tahun babi ini juga memiliki keterkaitan erat dengan pemerintahan dalam hal saat ini merupakan masa Indonesia mulai memasuki Pilpres dan Pileg 2019.

"Sebagai pemerintah, tahun ini mengalami pemilu atau tahun uang. Kita berharap pemilu dapat berjalan damai dan lancar," ujar dia.

photo
Karnaval Grebeg Sudiro dalam merayakan Tahun Baru Imlek 2570/2019 di kawasan Pasar Gede, Solo, pada Ahad (3/2) diwarnai dengan hujan deras. Namun, peserta karnaval budaya dan masyarakat tetap antusias. 


Anton mengingatkan, Indonesia diciptakan oleh Tuhan dengan rasa cinta kasih. Hal itu terbukti dalam fakta bahwa Indonesia dilimpahi kesuburan dan kemakmuran yang berlimpah.

Dengan adanya anugerah tersebut, generasi penerus bangsa sudah pasti memiliki tugas penting dalam menjaga kemakmuran pada masa depan. Indonesia harus mampu mempertahankan kedamaian dan ketenteramannya lebih baik lagi.

Perayaan tahun baru Imlek 2570 di Aceh juga diisi doa agar pemilu serentak pada 17 April 2019 berlangsung sukses, tertib, dan aman. “Perayaan Imlek tahun ini, jatuh pada tahun shio babi tanah dan bersamaan dengan tahun politik. Kami mendoakan agar pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia berlangsung sukses dan lancar,” kata Ketua Vihara Dharma Bhakti, Peunayong, Banda Aceh, Yuswar.

Ia menekankan, masyarakat Aceh yang mayoritas Muslim sangat toleran terhadap umat beragama lain dan perayaan tahun baru Imlek berjalan aman dan lancar setiap tahunnya. “Ada sekitar 3.500 sampai 4.000 umat Buddha yang merayakan tahun baru Imlek. Dan, setiap tahun, perayaan Imlek berjalan aman di Banda Aceh. Masyarakat Aceh sangat toleran terhadap umat beragama lain,” kata Yuswar.

Umat Khonghucu di Kabupaten Garut, Jawa Barat, juga menggelar doa bersama untuk bangsa Indonesia agar terus damai, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. "Yang paling penting saat ini kami berdoa dan siap menyukseskan pemilu, pemilu yang damai," ujar Ketua Vihara Dharma Loka, Senjaya, di Garut, Selasa.

Ia menuturkan, umat Khonghucu di Garut lebih dari dua ratusan orang yang berkumpul dan merayakan Imlek di Vihara Dharma Loka, Jalan Guntur, Kecamatan Garut Kota, mulai Senin (4/2) malam sampai tengah malam.

Puncak acara Imlek itu, kata dia, salah satu agenda ritual keagamaannya yaitu berdoa untuk kedamaian Indonesia dan berharap negara Indonesia lebih maju dalam berbagai bidang.

"Harapan kita negara Indonesia lebih maju, lebih rukun, meskipun di Indonesia berbeda-beda, tapi tetap satu," kata Senjaya.

photo
Sea World sambut Imlek dengan pertunjukan Underwater Barongsai berjudul The Legend of 12 Shio.

Ia mengungkapkan, selama tinggal di Garut, warga Khonghucu merasa nyaman, tenteram dan aman sehingga berharap selamanya tetap seperti itu.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menyampaikan ucapan selamat tahun baru Imlek 2570 melalui akun Instagram resminya. Ia berharap pada tahun baru Imlek ini, persaudaraan antarmasyarakat lebih erat terjalin.

“Semoga di tahun baru ini, persaudaraan kita menjadi lebih erat, penuh sukacita, berlimpah cinta, dan kedamaian,” tulis Presiden dalam akun Instagram yang diunggah, Selasa (5/2).

BACA JUGA: Jokowi Jelaskan Istilah Propaganda Rusia tak Merujuk Negara Rusia

(wilda fizriyani/dessy suciati saputri/antara ed: fitriyan zamzami)

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA