Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Jokowi: Kita Sudah Kurangi Impor Jagung 3,4 Juta Ton

Ahad 03 Feb 2019 18:09 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Ratna Puspita

Joko Widodo

Joko Widodo

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Pemerintah mencatat, besaran impor jagung pada 2014 lalu sebesar 3,6 juta ton.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan pemerintahannya telah berhasil menekan angka impor jagung hingga 3,4 juta ton selama empat tahun terakhir. Pemerintah mencatat, besaran impor jagung pada 2014 lalu sebesar 3,6 juta ton. 

Angka ini turun drastis menjadi hanya 180 ribu ton pada 2018 lalu. Artinya, ujar Presiden, pemerintah bisa mengurangi 3,4 juta ton impor jagung. 

Presiden Jokowi juga mengingatkan perlunya mengatur waktu penanaman agar saat panen tidak kelebihan suplai yang mengakibatkan harga anjlok. "Diperlukan pengaturan-pengaturan, komunikasi antara kita diseluruh tanah air diperlukan untuk menjaga supply dan demand pada manajemen makro," jelas Jokowi, Ahad (3/2). 

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan kebijakan pemerintah telah membuahkan hasil luar biasa pada Era Kabinet Jokowi-JK. Ia mencontohkan, terkait produktivitas jagung, tidak lepas dari inisiatif Kementan untuk menetapkan aturan harga jagung di petani minimal Rp 3.150 per kg pada awal pemerintahan. 

Kebijakan ini juga ditopang dengan program lain terkait produksi jagung secara besar-besaran. Programnya terobosa berupa pemanfaatan benih unggul jagung tongkol dua dan jagung hibrida.

Selain itu juga dilakukan peningkatan Indeks Pertanaman jagung di sawah, perluasan di lahan kering, integrasi jagung-sawit lewat tumpangsari, tanam jagung di lahan hutan. "Bahkan di lahan seperti kuburan, pematang sawah dan pinggir jalan pun ditanami jagung saat ini. Pemuda tani milenial pun bertanam jagung karena menguntungkan," jelas Amran.

Amran, menyatakan dari aspek hilir, Kementan juga memperhatikan disediakan sarana pasca panen dan bermitra dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Hasilnya, produksi meningkat sehingga Indonesia mampu menyetop impor 3,5 juta ton, dalam hitungan kasar bila dihitung selama 4 tahun itu setara Rp 40 triliun.

Pada 2017, Amran mrnyatakan tidak impor jagung pakan ternak, dan bahkan tahun 2018 sudah ekspor 341 ribu ton. "Memang ada impor sisa 130 ribu ton pada akhir 2018 oleh BULOG, bukan oleh swasta. Ini dibagikan khusus peternak kecil untuk pakan unggasnya dan sebagai stock berjaga-jaga, tidak dijual bebas di pasar," tegas Amran.

Untuk diketahui data FAO, 2018 Indonesia peringkat 8 produsen jagung terbesar dunia setelah Amerika Serikat, China, Brasil, Argentina, Ukraina, Mexico dan India. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA