Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Kisah Guru Para Dokter dari Abbasiyah

Rabu 30 Jan 2019 20:20 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Sumbangan Dinasti Abbasiyah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tidak sedikit.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Sumbangan Dinasti Abbasiyah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tidak sedikit. Banyak ilmuwan mumpuni dari berbagai disiplin ilmu yang hidup pada masa dinasti ini. Salah satunya, yakni Abu Bakr Ar-Razi yang disebut oleh dunia Barat sebagai Razhes.

Cendekiawan yang hidup pada 865- 925 M ini berasal dari Ray, sebuah kota yang terletak di lembah selatan Dataran Tinggi Al borz. Kota ini berada di utara Teheran. Ar- Razi tinggal di Ray hingga usia 30 tahun.

Dikutip dari Ensiklopedia Peradaban Islam, semasa kecil, Ar-Razi menyukai musik. Namun, dia mulai belajar ilmu pengetahuan ketika remaja. Ar Razi mempelajari filsafat, kimia, matematika, hingga sastra. Pada usia 30 tahun, dia belajar ke Baghdad. Ar-Razi mendapatkan ilmu kedokteran dari Ali Ibnu Sahl at-Tabari, seorang dokter sekaligus filosof asal Merv. Ar-Razi pun dikenal luas sebagai dokter yang pandai.

Ketika penguasa Dinasti Abbasiyah hendak mendirikan rumah sakit di Baghdad, dia terpilih sebagai ketuanya. Padahal, usia Ar- Razi ketika itu baru 40 tahun. Dia menyisih kan ratusan dokter terbaik yang menjadi kandidat posisi tersebut.

Khalifah pun meminta Ar-Razi untuk mencari tempat terbaik untuk rumah sakit. Dia lantas memanggil sejumlah pembantu nya. Dia meminta mereka menggantungkan sepotong daging di beberapa tempat yang ditentukan. Setelah digantung beberapa hari, dia pun berkeliling untuk mengamati tempat mana yang dagingnya paling lama busuk.

Tempat itu menjadi lokasi rumah sakit. Ar-Razi pun dikenal sebagai guru para dokter. Di rumah sakit, dia menempati se buah ruangan bersama para muridnya. Me reka akan membentuk lingkaran. Lingkaran paling luar merupakan murid-murid pe mula. Sementara, lingkaran lapis berikutnya dihuni oleh murid yang lebih berpenga laman.

Ar-Razi akan menyerahkan kepada murid-murid lingkaran luar terlebih dahulu ketika ada pasien yang datang ke rumah sakit. Ketika mereka kesulitan, akan dilemparkan ke murid bagian dalam. Demikian seterusnya. Jika bagian paling dalam tidak juga berhasil, Ar-Razi yang akan turun ta ngan mengobati pasien tersebut.

Menjadi seorang guru, Ar-Razi pun menulis lebih dari 200 buku. Karya monumentalnya adalah Al Hawiy. Buku ini menjadi rujukan dalam bidang kedokteran dan prak tik operasi. Al Hawi merupakan satu dari sembilan buku wajib di fakultas kedokteran di Paris sepanjang abad ke-14.

Al Hawi diterbitkan dalam bahasa Latin pada 1486. Namun, keberadaannya sudah tidak utuh lagi. Beberapa bagian dari buku ini tersebar di berbagai perpustakaan dunia. Kitab Al Hawi terbagi menjadi 12 bab. Dalam buku ini, Ar Razi menjelaskan tentang cara pengobatan pasien dan penyakit (bab 1), cara menjaga kesehatan (bab 2), potensi obat, gizi dan bahan yang dibutuhkan dalam bidang kedokteran (bab 3).

Ar Razi juga menjelaskan tentang bentuk obat, warna, rasa, dan baunya. Ukuran dan timbangan. Fisiologi dan kegunaan anggota tubuh hingga pendahuluan untuk profesi dokter yang terdiri dari dua makalah.

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA