Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Koran Ahad

Rabu 30 Jan 2019 14:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Koran Ahad

Koran Ahad

Foto: Rendra Purnama/Republika
Bukankah hati dicipta untuk membaca hati yang lain?

Tak lama, dari luar suara langkah kaki terdengar makin keras. Istri Koswara baru saja pulang dari pasar.

Bah ieu koranna. Nembe teh abdi pendak sareng tukang koranna. Saurna punten, koranna rada telat (Pak, ini korannya. Barusan saya bertemu dengan penjualnya. Katanya maaf, agak telat).” Setelah memberikan beberapa koran pada Koswara, lantas istrinya itu menuju dapur.

Ada lima buah koran di pagi itu. Koswara membuka satu per satu kolom sastra yang di dalamnya memuat cerpen juga puisi. Tak tunggu waktu lama, ia pun langsung melahapnya.

Setelah empat kolom sastra di koran Ahad itu selesai ia baca, tiba saat ia mencoba koran yang terakhir. Lantas, lembar demi lembar koran yang terakhir itu pun ia coba buka dengan perlahan. Hingga, sampai juga ia pada halaman itu, di mana cerpen dan beberapa puisi dimuat di satu halaman yang sama. Cerpen dan beberapa puisi di koran Ahad itu berdampingan letaknya.

Namun tak seperti biasanya, di mana Koswara selalu membaca dari prosa terlebih dahulu, tiba-tiba seperti ada yang menggerakkan hatinya untuk melihat beberapa puisi di halaman itu. Tak dinyana, sontak tubuhnya bergetar hebat. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Matanya pun terbelalak pada sebuah puisi di kolom itu. Iya, puisi itu. Puisi yang berjudul sama dengan puisi yang telah ia pajang di dinding rumahnya selama tiga puluh tahun itu.

Sungai Yangtze

Kita bertemu di tepi sungai Yangtze
Kau dan aku terpisah badannya
Karena minum dari aliran air yang sama,
Kau dan aku tak pernah lelah tuk saling memimpikan.

Adakah suatu masa kemarau menghabiskan airnya?
Akankah jarak tak bertepi menipiskan cinta kita?
Aku tak pernah berharap tuk memutus nadi yang telah bersatu
Kau dan aku tak kecewa untuk pernah saling mencinta.

Di bawah puisi itu, tertera nama sang penulis. Tan Ay Li. Sekejap, tulisan itu luntur. Kertasnya basah.


Catatan:
Puisi Dinasti Tang (“Sungai Yangtze”) juga nyanyian “Sepasang Kekasih Kupu-Kupu”, dikutip dari novel Pearl of China karya Anchee Min.


TENTANG PENULIS
Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2, OKU Sum-Sel. Alumnus Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya dimuat di media.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA