Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Maduro Siagakan Kekuatan Militer

Selasa 29 Jan 2019 19:48 WIB

Rep: Feriga/Afrizal/Lintar/ Red: Teguh Firmansyah

Nicolas Maduro

Nicolas Maduro

Foto: AP Ariana Cubillos
Trump sempat membuka opsi militer untuk Venezuela.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro semakin deras. AS telah memasukkan perusahaan minyak Venezuela ke dalam daftar hitam. Tujuanya satu, yakni ingin menghentikan logistik pemerintahan Maduro yang sangat bergantung dengan minyak.

Namun Maduro sepertinya ogah menyerah. Alih-alih menyerahkan kekuasaan kapda oposisi, ia justru menyiagakan semua kekuatan militernya.   Nicolas Maduro meminta militer untuk tetap bersatu dan disiplin terhadap berbagai upaya kudeta imperialis. 

Maduro juga menggarisbawahi, negara akan menjaga semua sistem senjata, kekuatan militer, kemampuan operasional, persatuan militer-sipil dan pasukan milisi. Sehingga, seluruhnya siap.

"Dan tidak ada yang bisa menyentuh langit suci kita," kata dia dalam kunjungannya ke Brigade Lapis Baja ke-41 di negara bagian Carabobo.

Baca juga, Erdogan Bela Maduro, Trump Dukung Oposisi Venezuela.

Maduro sangat yakin pasukan keamanan negara semakin loyal kepada Venezuela dan konstitusi meski ada beragam upaya untuk memecah belah tentara. Dia juga mengakui, Venezuela sedang mempersiapkan mobilisasi militer paling penting dalam sejarah negara itu.

Internal politik Venezuela sedang diguncang setelah Maduro terpilih kembali menjadi presiden untuk periode kedua selama enam tahun. Ia telah dilantik pada 10 Januari 2019 lalu.

Namun pihak oposisi yang dipimpin Juan Guaido menganggap kemenangan Maduro penuh kecurangan dan penipuan dari asing. Oposisi memboikot dan berupaya mengkudeta.

Pada Rabu (23/1) kemarin, Presiden AS Donald Trump mengakui pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido sebagai presiden interim negara itu. Maduro lantas membalas manuver AS itu dengan memutus hubungan diplomatik dengan Paman Sam. Maduro juga memberi waktu 72 jam bagi diplomat AS untuk meninggalkan Venezuela.

Dalam laporan terbaru, Presiden Trump disebut membahas opsi penggunaan militer di Venezuela selama percakapan dengan Senator Partai Republik Lindsey Graham.

Jejaring berita Axios melaporkan pada Ahad (27/1) malam bahwa Graham mengatakan di dalam satu perbincangan pada awal Januari, Trump meminta pendapatnya mengenai penggunaan militer untuk ikut-campur di Venezuela.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA