Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Menristekdikti: Rektor Harus Inovatif

Selasa 29 Jan 2019 16:26 WIB

Red: Ratna Puspita

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir memberikan sambutan sekaligus

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir memberikan sambutan sekaligus

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Jika rektor tidak inovatif maka akan kalah bersaing.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan rektor harus bisa melakukan inovasi dalam menjalankan kampusnya agar bisa menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi. Jika rektor tidak inovatif maka akan kalah bersaing.

Menristekdikti mengutarakan itu usai meresmikan program studi pulp dan kertas di Universitas Riau, Pekanbaru, Selasa (29/1). Program studi setingkat diploma tiga tersebut, merupakan program studi pulp dan kertas satu-satunya di Tanah Air.

Program studi baru tersebut merupakan hasil kerja sama Universitas Riau, Tanoto Foundation dan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Dengan keberadaan program studi itu, Nasir berharap bisa menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu meningkatkan kesejahteraan di Riau. 

Program tersebut sengaja diselenggarakan untuk setingkat diploma tiga karena tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan profesional. "Kalau program studi ini tidak berdampak pada masyarakat sekitar, untuk apa diselenggarakan," ujar dia.

Ke depan dia berharap agar pihak Universitas Riau mengembangkan program studi itu, tidak hanya mengenai pulp dan kertas saja tetapi juga proses dan teknologi yang digunakan. Rektor Universitas Riau, Aras Mulyadi, mengatakan program studi tersebut merupakan program studi ke-94 yang ada di universitas itu.

"Kami berkomitmen untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang membawa manfaat bagi bangsa ini," kata Aras.

Presiden Direktur PT RAPP Sihol P Aritonang, berharap program studi ini dapat melahirkan tenaga-tenaga ahli di bidang industri kertas yang dikemudian hari dapat menjadi penggerak roda ekonomi di Riau. "Di Indonesia, Riau merupakan rumah bagi industri kertas. Paper One yang merupakan produk kami telah diekspor ke 70 negara," kata Sihol.

Sihol mengaku senang bisa menjembatani antara industri dan kampus. Ia berjanji tidak hanya memberikan gedung, tetapi juga kesempatan magang. Bahkan, yang berprestasi bisa mendapatkan peluang kerja.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA