Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Perintah Zakat dan Kisah Tsalabah

Senin 28 Jan 2019 22:42 WIB

Red: Agung Sasongko

zakat

Adalah Tsalabah Ibn Hathib al-Anshari yang membuat Allah geram atas sifat kikirnya.

Harinya semakin sibuk seiring bertambahnya jumlah ternak yang dimilikinya. Mereka beranak pinak bak belatung hingga Madinah menjadi penuh sesak. Akibatnya, dia dan ternaknya menyingkir dan tinggal di sebuah lembah dekat Madinah sehingga dia masih bisa shalat Zhuhur dan Ashar dengan berjamaah. Sedangkan, shalat lainnya dilakukannya sendirian.

Ternaknya terus bertambah dan dia menjadi sangat sibuk. Akhirnya, Tsa’labah mulai meninggalkan shalat Jumat. Dia hanya menemui orang-orang yang lewat padang gembalaannya untuk menuju shalat Jumat di Masjid Madinah dan hanya untuk menanyakan kabar.

Saat itu, Rasulullah menangkap ada hal yang aneh dari Tsa’labah. Dia pun bertanya kepada dua pengendara unta yang ditemuinya. “Apa yang dilakukan oleh Tsa’labah?” Mereka menceritakan soal ternak Tsa’labah kepada Nabi. Rasul terkejut dan bersabda. “Aduh celaka Tsa’labah, aduh celaka Tsa’labah, celaka Tsa’labah,” tuturnya.

Kejadian itu membuat Allah menurunkan surah at-Taubah ayat 103 yang berbunyi, “Khudz amwaalihim shadaqatan” (ambillah zakat dari harta mereka). Ayat ini menegaskan kewajiban zakat kepada seluruh umat Muslim dengan cara menyisihkan sebagian untuk menyucikan seluruh harta sehingga bisa menenteramkan jiwa pemiliknya. Nabi kemudian mengutus dua orang dari Bani Juhainah dan Salim untuk mengumpulkan zakat.

Namun, ketika mereka berdua datang ke rumah Tsa’labah, dia justru berusaha menghindari kewajiban itu. “Ini hanyalah pajak, ini adalah semacam pajak. Aku tidak tahu, apa ini? Pergilah sehingga selesai tugasmu, nanti kembali lagi kepadaku,” elak Tsa’labah.

Mereka kemudian pergi ke kabilah Bani Sulaim dan berhasil mendapatkan zakat berupa unta yang paling bagus. Ketika mereka kembali lagi ke Tsa’labah, lagi-lagi dia menghindar. Kabar ini sampai ke telinga Nabi dan membuatnya gusar. Maka, Allah kembali menurunkan ?rmannya dalam surah at-Taubah ayat 75-77 yang berisi sindiran kepada orang-orang yang sebelumnya berikrar akan menyedekahkan sebagian hartanya jika dikaruniai oleh Allah berupa kekayaan, te tapi setelah diberi kekayaan mereka justru menjadi kikir dan berpaling. Karena sikap seperti itu, Allah kemudian menanamkan kemuna ?kan pada hati mereka sampai tiba ajal sebab mereka telah memungkiri ikrar dan berdusta.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA