Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

DBD Mewabah, Fogging Bukan Solusinya

Selasa 29 Jan 2019 00:00 WIB

Red: Joko Sadewo

Gita Amanda

Gita Amanda

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Kasus DBD memang meningkat tajam saat musim penghujan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Gita Amanda*

Meningkatnya curah hujan sejak awal tahun, berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penderita Demam Berdarah Dengue alias DBD di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sejak 1 Januari hingga 24 Januari lalu sudah ada sedikitnya 9.868 kasus DBD di Indonesia.

Menurut Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, kasus DBD memang meningkat tajam saat musim penghujan. DBD bahkan telah memakan 94 jiwa di seluruh Indonesia, sejak awal tahun.

Tak heran DBD meningkat tajam di musim penghujan. Sebab nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit ini berkembang biak dengan subur di musim ini.

Menurut Nadia, pada dasarnya nyamuk sudah ada sejak musim kemarau. Tapi jumlahnya masih sedikit, karena saat kemarau mereka tidak menemukan wadah untuk menetaskan jentik-jentik. Sedangkan saat musim hujan banyak genangan sehingga mereka dapat menetaskan telurnya dengan mudah.

Inilah yang membuat DBD begitu cepat menyebar dengan luas menjangkiti warga di berbagai wilayah di Indonesia. Dari 34 provinsi, ada empat wilayah yang telah menyatakan ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena masifnya korban.

Tapi Nadia mengatakan, hanya orang dengan daya tubuh yang buruk atau lemah dapat terserang DBD. Itu mengapa, Kemenkes berharap pencegahan bisa dilakukan dari hulu. Hulu artinya dari satuan sosial terkecil yakni keluarga.

Selama ini, jika DBD mewabah maka masyarakat akan fokus melakukan fogging beramai-ramai. Kegiatan pengasapan ini dinilai paling ampuh memberantas nyamuk-nyamuk penyebab DBD. Padahal pengasapan dengan pestisida nyamuk ini menurut Kemenkes bukan upaya ampuh mencegah wabah DBD.

Kemenkes melalui Sekretaris Jenderalnya, Oscar Primadi, mengatakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan metode 3M Plus lebih efektif dibanding fogging. Asalkan metode ini dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

PSN 3M Plus yakni Menguras dengan membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.

Kedua Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Dan ketiga Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Nah, plus dari 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan lain. Mulai dari menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, kedua menggunakan obat nyamuk atau antinyamuk.

Saat tidur bisa juga menggunakan kelambu, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah. Hindari pula kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat bersarang nyamuk.

Pada daerah yang sudah terjadi KLB yang penanganan perawatan sudah dilakukan di rumah sakit. Pemerintah Daerah diminta mengerahkan semua sumber daya kesehatan yang ada. Termasuk untuk menampung pasien di rumah sakit.

Kemenkes menyatakan telah siap mendistribusikan bantuan. Di antaranya yang paling penting obat-obatan dan menyiapkan kantong-kantong darah jika diperlukan.

Jadi, menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan harus dilakukan setiap hari, konsisten dan serentak oleh seluruh masyarakat. Dengan begitu diharapkan angka penyebaran DBD dapat terus ditekan dari lingkup terkecil, keluarga dan individu. Yuk, beberes rumah dan lingkungan!

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA