Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Kepergian King Henry Menyingkap Banyak Masalah

Senin 28 Jan 2019 06:00 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Thierry Henry

Thierry Henry

Foto: AP Photo/Claude Paris
Henry diketahui gemar memaki dengan kasar pemain dan lawan.

REPUBLIKA.CO.ID, MONACO -- Hanya bertahan tiga bulan dari durasi kontrak selama tiga tahun. Itulah waktu yang dijalani Thierry Henry sebagai pelatih AS Monaco. Selekas itu pula debut Henry sebagai pelatih utama di sebuah klub berakhir dengan tragis. Nama besar dan status legenda yang disandang Henry di klub berjuluk Les Rouges et Blancs itu ternyata tidak cukup mengangkat performa AS Monaco.

Pada 18 Oktober silam, manajemen klub menunjuk Henry untuk menjadi pelatih AS Monaco, menggantikan Leonardo Jardim. Kendati tidak pernah memiliki pengalaman sebagai pelatih utama, tapi manajemen Monaco merasa yakin dengan kemampuan Henry.

Misi utama pencetak gol terbanyak sepanjang masa Arsenal itu adalah untuk membawa juara Ligue 1 musim 2016/2017 keluar dari zona degradasi klasemen sementara Liga Prancis 2018/2019, setelah hanya mampu mengemas satu kemenangan dan menelan enam kekalahan dari sembilan laga awal Liga Prancis.

Namun, tiga bulan pasca kedatangan Henry, posisi Monaco di papan klasemen ternyata tidak berubah banyak. Monaco masih berada di peringkat ke-19 dan hanya mengantongi selisih satu poin dari posisi ke-20. Di tangan mantan asisten pelatih Roberto Martinez di timnas Belgia itu, Monaco cuma memetik dua kemenangan dan menelan delapan kekalahan dari 13 partai di Liga Prancis.

Secara keseluruhan, dari 20 laga yang dilakoni Monaco bersama Henry di semua ajang, Radamel Falcao dan kawan-kawan hanya mencatatkan lima kemenangan, empat hasil imbang, dan 11 kekalahan. Hilang sudah kesabaran manajemen Monaco. Dianggap tidak memberikan dampak positif pada permainan Monaco, manajemen klub memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan Henry pada Jumat (24/1) waktu setempat.

Berakhir sudah debut Henry sebagai pelatih utama, yang hanya berjalan selama 104 hari, tanpa bisa menampilkan catatan istimewa. Melakoni partai debut sebagai pelatih, kala Monaco dikalahkan Strasbourg, 0-2, Henry pun melakoni laga terakhirnya sebagai juru taktik Monaco saat Les Rouges et Blancs dibekap Starsbourg, 1-5, dua pekan lalu.

"Dia mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa mengaplikasikan rencananya, tapi, kami tidak memiliki banyak waktu. Kami butuh solusi cepat demi keluar dari periode sulit ini. Henry merupakan legenda sepak bola. Sayangnya, dengan berbagai masalah, seperti cedera pemain, dan masalah lain, membuat dia tidak bisa membawa kami keluar dari krisis," kata Wakil Presiden AS Monaco, Vadim Vasilyev, seperti dikutip Sky Sports, kemarin.

 

photo
Bakat melatih Henry mulai terasah ketika menjadi asisten pelatih Roberto Martinez di tim nasional Belgia.


Pemecatan pelatih berusia 41 tahun, yang diawali dari penangguhan statusnya itu, sebenarnya tidak hanya berpangkal dari penampilan Monaco di atas lapangan. Tidak jarang, Henry mengkritik secara pedas anak-anak asuhnya dalam sesi konferensi pers seusai laga. Tidak hanya sekali, Henry sering menyoroti soal para pemain Monaco yang tidak memiliki gairah, semangat bertanding, dan keinginan untuk meraih kemenangan.

Bahkan, dalam sesi konferensi pers terakhir sebagai pelatih Monaco, Henry sempat menyebut, para penggawa Monaco adalah para pemain egois, yang tidak mempedulikan perjalanan klub. Tidak hanya itu, jika bisa memilih, salah satu pemain di timnas Prancis kala menjadi juara Piala Dunia 1998 itu tidak menginginkan sebagian besar pemain Monaco berada di skuatnya. Kondisi ini membuat Henry disebut-sebut kehilangan kepercayaan dari para pemain Monaco.

Henry memang dikabarkan tidak bisa menjaga emosi dan amarahnya. Dalam suatu laga, Henry sempat berteriak kepada gelandang Youri Tielemans lantaran dianggap tidak menjalankan instruksinya. Ini terjadi saat Monaco dikalahkan Monpellier di ajang Ligue 1, awal Desember silam.

"Bermain seperti saat menghadapi Atletico Madrid (di ajang Liga Champions). Tiga pemain di tengah, dengan Golo (Aleksandr Golovin) di kiri. Bagaimana lagi saya harus menjelaskannya kepadamu. Dengan bahasa Inggris, bahasa Prancis, sebenarnya apalagi yang kamu inginkan?," ujar Henry kepada Tielemans, seperti dikutip The Guardian.

Emosi berlebihan Henry ini juga sempat ditujukan ke pemain lawan. Puncaknya, saat Henry kedapatan memaki pemain Strasbourg, Keny Lala, yang dinilai membuang-buang waktu saat Monaco dalam posisi tertinggal. Dalam umpatannya itu, Henry menyebut, Lala sebagai anak pelacur dan cucu dari seorang pelacur. Kendati telah meminta maaf atas ucapan kasarnya itu, tapi perilaku Henry ini tetap menjadi catatan buruk Henry terkait penguasaan emosinya.

Sebagai pemain, Henry memang telah mendapatkan hampir semua gelar bergengsi yang bisa diraih seorang pesepak bola profesional. Mulai dari titel Piala Dunia 1998 dan kampiun Piala Eropa 2000 bersama Prancis, juara Liga Champions bersama Barcelona pada 2009, hingga semua gelar domestik di sepak bola Inggris bersama Arsenal.

Namun, semua prestasi ini belum bisa menjamin seorang mantan pemain bisa menjadi pelatih ataupun manajer yang sukses. Henry belum banyak belajar dalam penguasaan emosi, karakteristik pemain, dan menjaga ruang ganti pemain tetap kondusif. Untuk hal ini, Henry mungkin bisa belajar dari mantan rekan setimnya di timnas Prancis, Zinedine Zidane, yang mampu membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions dalam kesempatan debutnya sebagai pelatih utama sebuah tim.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA