Sabtu, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Sabtu, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Belajar dari Sepak Bola Vietnam

Sabtu 26 Jan 2019 09:51 WIB

Red: Endro Yuwanto

endro yuwanto

endro yuwanto

Gaya permainan timnas Vietnam dari level junior hingga senior jelas dan terarah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Endro Yuwanto *)

Langkah Vietnam terhenti hingga perempat final Piala Asia 2019 setelah dikalahkan Jepang dalam pertarungan ketat di Al Maktoum Stadium, Dubai, Kamis (24/1) malam. Sempat menahan imbang 0-0 raksasa Asia itu di babak pertama, tim berjuluk Golden Star itu akhirnya kebobolan melalui titik penalti di menit ke-57.

Titik putih ditunjuk wasit setelah melihat kembali tayangan ulang pelanggaran pemain Vietnam melalui layar Video Assistant Referee (VAR). Ritsu Doan yang menjadi algojo Samurai Biru akhirnya menggetarkan gawang Vietnam. Ini juga menjadi gol satu-satunya dalam laga itu.

Alhasil, mimpi Vietnam untuk menjadi wakil Asia Tenggara di semifinal akhirnya kandas. Meskipun, secara permainan Negeri Paman Ho mampu mengimbangi tim langganan Piala Dunia.

Langkah Vietnam selama perhelatan sepak bola terbesar di Asia ini tetap pantas diacungi jempol. Dalam dua tahun terakhir, Vietnam seakan menegaskan diri sebagai Raja Asia Tenggara dan sudah layak menjadi tim elite level Asia.

Vietnam telah mengecap manisnya jerih-payah perjuangan. Skuat mudanya pun berhasil menembus partai final Piala Asia U-23 2018. Hal ini tentu menjadi sejarah bagi Vietnam dan Asia Tenggara, lantaran berhasil sampai pada partai puncak pagelaran kompetisi Benua Asia. Meski pada akhirnya perjuangannya dikandaskan oleh Uzbekistan dengan skor tipis 1-2.

Perjuangan Vietnam yang dapat berjibaku dengan tim Asia lainnya hingga berhasil ke partai puncak, bukanlah hoki semata. Semua dibangun lewat proses matang. Kegagalan Vietnam di SEA Games 2017, menjadi catatan koreksi untuk federasinya.

Vietnam U-23 berangkat ke SEA Games 2017 dengan percaya diri. Skuat Golden Star menampilkan aksi impresif pada tiga laga pertama dengan total menggelontorkan 12 gol. Nasib Vietnam berubah pada pertandingan keempat ketiga ditahan Indonesia imbang tanpa gol.

Pada laga penentuan, Vietnam harus mengakui keunggulan Thailand 0-3 dan gagal melangkah ke semifinal karena kalah head-to-head. Tampil mengagumkan dengan naluri ofensif, Vietnam secara tragis gagal menjadi yang terbaik.

Menghadapi kualifikasi Piala Asia U-23 2018, Vietnam menunjuk juru taktik asal Korea Selatan (Korsel), Park Hang-seo, untuk menggantikan tugas Nguyen Huu Thang yang merangkap jabatan sebagai pelatih tim senior. Di bawah pelatih baru, skuat Naga Emas tampil lebih trengginas.

Seperti janji Hang-seo ketika ditunjuk, Vietnam mengaum keras di kancah Asia. Hang-seo mengubah Vietnam tampil lebih pragmatis pada Piala Asia U-23 2018.

Vietnam mengusung formasi 5-4-1 atau 5-3-2. Awalnya tidak berjalan mulus karena Vietnam menelan kekalahan 1-2 dari negara asal sang pelatih pada laga perdana Grup D.

Para pemain Vietnam kala itu sering merasa bingung ketika menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan tinggi. Namun, Hang-seo yakin timnya bisa lebih maksimal jika tampil penuh percaya diri. Ia pun mengubah sikap para pemain ketika menghadapi pemain yang bertubuh lebih besar.

Postur tubuh rupanya dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat. Ketika melawan Irak di perempat final, pemain Vietnam tampil all-out dan menang 3-0. "Tidak ada yang namanya keberuntungan hingga mukjizat datang. Mukjizat datang karena darah dan keringat," kata Hang-seo seusai pertandingan.

Pendekatan taktik dan keberanian Hang-seo memilih pemain dipuji publik Vietnam. Tak peduli tim kebanggaannya bermain lebih defensif dari biasanya, tapi yang lebih penting adalah bermain cerdik dengan memanfaatkan kelebihan dan intelegensia. Setiap kali menyerang balik, para pemain Vietnam paham harus melepaskan bola ke mana dan berada di posisi yang mana.

Di semifinal, Qatar memberi kredit atas penampilan Vietnam sepanjang turnamen. Tak mau mengulangi kesalahan Irak, pemain Qatar menerapkan taktik screening yang menyulitkan Vietnam melancarkan serangan cepat.

Setelah Qatar unggul 1-0 di babak pertama, Hong-sae melakukan pergantian penting saat jeda. Cong Phuong yang tak berkembang ditarik keluar. Lalu, pada menit ke-61 gelandang energik Hong Duy dimasukkan. Delapan menit berselang, Vietnam mencetak gol balasan melalui Nguyen Quang Hai.

Harapan Vietnam lolos ke final sepertinya buyar ketika Almoez Ali melesakkan gol pada menit ke-87. Alih-alih mentalnya rontok, dua menit berselang Vietnam justru mampu menyamakan kedudukan. Dengan penuh ketenangan Quang Hai melepaskan tembakan kaki kiri melengkung yang membuat jala gawang Qatar bergetar.

Mukjizat itu nyata setelah melalui perjuangan penuh peluh selama 120 menit plus adu penalti. Vietnam melaju ke final, meski akhirnya kalah tipis dari Uzbekistan.

Vietnam mencatatkan rekor beruntun ketika berlaga dalam Piala Asia U-23 2018. Ia menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang mampu menembus babak semi final dan partai final. Torehan tersebut tentu menaikkan status kesebelasan Asia Tenggara di mata Asia.

photo

Pemain Timnas Vietnam di ajang Piala Asia 2019.

Kunci sukses Vietnam

Pergantian pelatih sampai fokus kepada pembinaan pemain muda menjadi menjadi hal dasar namun krusial bagi perkembangan sepak bola Vietnam. Jadi tidak salah, kalau Vietnam dapat merengkuh gelar runner-up di ajang Piala Asia U-23 2018.

Perkembangan pemain muda Vietnam ditunjang akademi milik klub peserta liga dan kesempatan berkompetisi. Ada enam pemain anggota skuat Vietnam saat ini yang merupakan bagian dari skuat Piala AFF U-19 2013 lalu. Kala itu, Vietnam dikalahkan Indonesia di final melalui adu penalti.

Enam pemain itu adalah Pham Duc Huy, Vu Van Thanh, Luong Xuan Truong, Nguyen Cong Phuong, Nguyen Phong Hong Duy, dan Nguyen Van Toan. Sementara, skuat Indonesia saat itu antara lain Evan Dimas, Ilham Udin Armayn, dan Hansamu Yama Pranata.

Kemunculan angkatan Cong Phuong dkk kemudian disusul dengan angkatan Nguyen Quang Hai yang mampu menembus semifinal Piala Asia U-19 2016 sehingga berhak atas satu tiket ke Piala Dunia U-20 setahun kemudian. Di Korsel, Vietnam hanya mampu memetik satu poin saat mengimbangi Selandia Baru untuk kemudian dikalahkan Prancis dan Honduras.

Dengan gabungan dua angkatan itu, ditambah beberapa pemain baru, dan racikan Hang-seo, Vietnam kini layak disebut sebagai tim raksasa baru Asia. Hang-seo sadar, transformasi yang sedang dilakukannya tak akan lancar jika tidak didukung materi pemain yang sepadan.

Mayoritas kekuatan tim Hang-seo bertumpu pada dua akademi dengan nilai investasi besar, yaitu Hoang Anh Gia Lai dan Hanoi FC. Ada pula dua akademi besar lain, Vettel FC dan PVF FC, yang kerap menyumbangkan bibit pemain untuk timnas junior Vietnam. Vettel berafiliasi dengan Borussia Dortmund, sedangkan Oktober lalu PVF menunjuk legenda Manchester United Ryan Giggs sebagai konsultan.

Kunci keberhasilan pengembangan pemain muda dalam akademi tersebut tidak hanya sebatas scouting atau kecanggihan metode latihan. Empat akademi itu bernaung di bawah klub peserta V League top tier (HAGL dan Hanoi) dan divisi satu (Vettel dan PVF). Para pemain muda Vietnam benar-benar diberikan kesempatan menit bermain di liga.

Keseriusan Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) begitu terasa. Dimulai dengan membangkitkan pemain muda yang terkubur bakatnya, hingga regenerasi pemain dan pembinaan pemain muda dilakukan di setiap usia.

Dari berbagai ajang yang melibatkan usia muda, Vietnam terlihat selalu tampil memukau. Menembus partai semifinal Piala Asia U-19 2016, masuk putaran final Piala Dunia U-20 2017, runner-up Piala Asia U-23 2018, semifinalis Asian Games 2018, dan perempat final Piala Asia 2019.

Pelatih yang visioner, pendekatan taktik yang tepat, akademi yang mumpuni, serta kompetisi yang memberikan kesempatan bermain pemain muda, ini membuka jalan bagi Negeri Paman Ho. Vietnam kini memiliki segala syarat untuk membuat Asia Tenggara seperti bertekuk lutut di hadapan generasi emasnya.

Mantan pelatih timnas U-16 Indonesia, Fakhri Husaini, pun kagum dengan Vietnam sebagai negara yang sudah punya gaya sepak bola yang jelas dan terarah. Sebab, gaya permainan timnas Vietnam dari level junior hingga senior memang punya kemiripan satu sama lain.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Indonesia bisa dibilang saat ini masih terlampau jauh dari Vietnam, baik itu dari sisi prestasi, maupun hasil yang dapat direngkuh pemain muda. Agaknya Indonesia bisa belajar dari keberhasilan Vietnam.

Tanpa perlu menggali lebih dalam problem dan karut-marut sepak bola Indonesia, pembinaan pemain muda dan membangun liga yang berkualitas bisa menjadi solusi. Jelas solusi yang tak gampang karena liga di Indonesia masih berkutat pada sejumlah kasus.

Tentu, Indonesia akan sulit berprestasi jika masih mengandalkan pembinaan sporadis, tanpa perencanaan dan kurikulum yang matang dan didasari analisa kelayakan. Mendongkrak prestasi timnas tak bisa dilakukan secara instan, seperti yang sudah dilakukan dalam 15 tahun terakhir lewat naturalisasi pemain. Nihil.

Bahkan, salah satu pemerhati sepak bola asal Vietnam Kim Dien menyindir kegagalan timnas Indonesia di Piala AFF 2018 karena awalnya diprediksi menjadi juara dengan memakai jasa pemain naturalisasi. Berbeda dengan timnas Vietnam yang sukses menyabet gelar Piala AFF 2018 usai mengalahkan Malaysia. Kim bicara perbedaan keduanya.

Kim menjelaskan, Indonesia telah mengandalkan beberapa pemain naturalisasi. Tetapi hasilnya tak cukup pantas didapatkan Skuat Garuda.

Di saat sepak bola Indonesia masih dikelola tanpa program yang jelas, lupakan saja soal juara di level Asia Tenggara. Apa boleh buat timnas tetap harus ada selama Indonesia masih berdiri apalagi mayoritas warga Tanah Air memang menggemari sepak bola seperti warga Vietnam.

Upaya memang harus tetap dilakukan. Masyarakat pun diharapkan tetap memberi dukungan membakar semangat seperti warga Vietnam yang selalu mendukung timnasnya.

Namun sekali lagi, federasi jangan lupa mengupayakan kompetisi yang layak. Sangat sulit berharap kompetisi akan layak dan sehat ketika PSSI dan anggotanya (klub) justru tidak berpikir soal itu kecuali hanya bagi-bagi uang, pengaturan skor, dan praktik curang lainnya. Padahal, sudah menjadi rahasia umum, timnas yang hebat adalah muara kompetisi yang sehat dan konsisten.

*) jurnalis Republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA