Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Arab Saudi Berhasil Buat Negara Barat Lupakan Khashoggi

Kamis 24 Jan 2019 21:31 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi

Foto: Metafora Production via AP
Arab Saudi mulai berbisnis kembali dengan negara-negara Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, DAVOS -- Di ajang World Economic Forum di Swiss, kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi sama sekali tidak memengaruhi Arab Saudi. Tidak ada sisa-sisa kemarahan masyarakat internasional atas pembunuhan Khashoggi di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Pada Kamis (24/1), kantor berita Reuters melaporkan Kerajaan Arab Saudi mengirimkan delegasi terkuatnya ke pegunungan Swiss, bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi negara lain atau melakukan rapat dengan pemimpin-pemimpin bisnis di seluruh dunia.

Pemimpin bisnis Barat duduk bersebelahan dengan pejabat-pejabat Arab Saudi di panel debat yang bertajuk 'Langkah Selanjutnya di Arab Saudi'. CEO perusahaan minyak dari Prancis Total, Patrick Pouyanne dan CEO perusahaan investasi Margon Stanley James Gorman duduk di sebelah menteri keuangan dan perdagangan Arab Saudi. 

Ajakan Arab Saudi ke negara-negara Barat untuk melupakan kasus Jamal Khashoggi dan mulai berbisnis tampaknya berhasil. Presiden Swiss Ueli Maurer mengatakan negaranya sudah melangkah maju dari kasus Khashoggi dan ingin membangun hubungan yang kuat dengan Riyadh.

"Kami sudah lama berurusan dengan kasus Khashoggi, kami sudah sepakat untuk melanjutkan dialog keuangan dan kembali menormalisasi hubungan," kata Maurer kepada kantor berita Swiss, SDA, Kamis (24/1).

Pertemuan di Davos tersebut menjadi kesempatan Arab Saudi untuk melepaskan diri dari tekanan yang diberikan negara-negara Barat atas pembunuhan Khashoggi. Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman dihujani kritikan karena ia dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan penulis kolom the Washington Post tersebut.

Negara-negara Barat yakin Mohammed bin Salman mengetahui tim yang melakukan operasi pembunuhan tersebut. Hal itu membuat nama baik pangeran yang sempat dipuji atas reformasi pajak, pembangunan infrastruktur dan mengizinkan perempuan mengemudi itu tercemar. 

Kini di Davos, Mohammed bin Salman dapat mengembalikan nama baiknya. Padahal sebelumnya beberapa politisi Amerika Serikat meminta Riyadh menahan orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi.

Jaksa penuntut umum Arab Saudi sudah menuntut mati lima tersangka kasus itu. Kerajaan Arab Saudi ingin segera menyelesaikan krisis terburuk yang mereka alami sejak beberapa dekade terakhir.

Sempat ada keraguan status Arab Saudi di Davos. Sebelumnya investor-investor global kelas A juga sempat menjauh dari Mohammed bin Salman di konferensi bisnis Future Investment Iniative bulan Oktober lalu. Banyak pemimpin-pemimpin bisnis terutama di bidang teknologi yang menolak hadir karena kasus Khashoggi.

Dalam pertemuan G-20 di Buenos Aires, beberapa pemimpin negara juga mengabaikan Mohammed bin Salman di sesi foto bersama. Meski sesudah itu mereka melakukan pertemuan tertutup dengan pangeran tersebut.

Tapi delegasi Arab Saudi memiliki jadwal yang sangat padat di Davos. Selain itu, Menteri Ekonomi Arab Saudi Mohammad Al Tuwaijri mengatakan tidak ada investor Barat yang menolak untuk bertemu mereka.

"Sehari-hari di Arab Saudi bisnis berjalan seperti biasa. Tugas kami sebagai pemerintah adalah memastikan infrastruktur, terutama hukum berjalan stabil, perjalanan transformasi ini diharapkan menarik perhatian investor," kata Tuwaijri.

Kepada stasiun televisi CNBC, Menteri Keuangan Arab Saudi mengatakan ia menyesali apa yang terjadi dengan Khashoggi. Tapi di sisi lain ia juga meminta masyarakat internasional untuk menunggu hasil persidangan. Ia juga mengatakan fakta obligasi Arab Saudi sebesar 7,5 miliar dolar AS sangat dimintai menandakan kepercayaan investor sudah kembali pulih.   

Salah satu pejabat Arab Saudi mengatakan berdasar data yang sudah ada menunjukkan investasi asing ke Arab Saudi naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. World Economic Forum menunjuk dua perusahaan Arab Saudi, Aramco dan Sabic menjadi dua dari 100 mitra strategis pada 2019.

Salah satu petinggi Aramco juga mengatakan perusahaan minyak raksasa itu akan mengeluarkan mega obligasi pada tahun ini. Di masa mendatang Aramco masih berencana untuk mendaftarkan sahamnya pada 2021 yang dapat menjadi penawaran umum perdana (IPO) terbesar di dunia.

Salah satu panel kebebasan pres di Davos membicarakan kasus Khashoggi. Tapi tidak ada satu pun delegasi Arab Saudi yang menghadiri panel tersebut.

Kritikus Vladimir Putin, Bill Browder yang berhasi mendorong AS memberlakukan sanksi terhadap Rusia atas pembunuhan seorang pengacara HAM menanggapi kasus Khashoggi. Browder yakin Arab Saudi dapat dikenakan sanksi yang dikenal Magnistky Act.

"Sampai akhirnya Mohammed bin Salman bertanggung jawab atas kejahatan yang diperbuatnya, tidak bisa melakukan bisnis seperti biasa dengan Arab Saudi," kata Browder.

Sepertinya tinggal Turki yang masih bergelut dengan kasus Khashoggi. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kini saatnya melakukan investigasi internasional atas kasus pembunuhan Khasoggi.

Di stasiun televisi A Haber, Cavusoglu mengatakan hal itu akan dibahas dengan Pelapor Khusus PBB bidang Ekstrayuridis Agnes Callamard yang akan datang ke Turki pada pekan depan. Sebelumnya Kantor berita Turki, Anadolu Agency melaporkan Cavusoglu mengatakan negaranya sedang mempersiapkan penyelidikan internasional atas kasus Khashoggi.

Di sebuah pertemuan pemuda-pemudi di Istanbul pada Selasa (24/1) lalu Cavusoglu mengatakan dalam kasus ini Turki bertindak dengan bijak sana. Ia menambahkan Turki juga sangat paham sulitnya mendapatkan titik terang dalam kasus pembunuhan tersebut.

"Sekarang kami sedang mempersiapkan penyelidikan internasional dalam beberapa hari kedepan, kami akan melakukan langkah yang diperlukan," katanya.

sumber : Reuters/AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA