Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Journey to Uighur: Kebisuan Ini Tanggung Jawab Siapa?

Selasa 22 Jan 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Muslim Uighur sedang bercengkerama.

Muslim Uighur sedang bercengkerama.

Foto: Uttiek M Panji Astuti
Di sana saya bertemu dengan wajah yang terlihat memilih diam.

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

Setiap melakukan perjalanan ke negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, saya sangat bersyukur sebagai orang Indonesia. Kata “I’m from Indonesia,” akan bersambut pelukan hangat dan ucapan selamat datang sepenuh hati.

Di Palestine tahun 2012, Fatima, seorang petugas di Masjidil Aqsa memeluk saya erat dan mengatakan, “Kabarkan pada saudaramu untuk datang kemari. Mereka hanya memusuhi kami. Masjid ini aman. Masjidil Aqsa aman karena Allah yang menjaganya,” katanya tegas tanpa melepaskan pelukannya.

Di Bukhara, Uzbekistan, saya dan Lambang diajak foto bersama ala artis yang sedang jumpa penggemar. Di Old Madina, Fes, Maroko, saya mendapat barang dengan harga lebih murah disertai ucapan, “Because you’re my sister from Indonesia.”

Kabar kebaikan hati dan kedermawanan orang Indonesia untuk saudara-saudara muslimnya di dunia telah menyebar ke pelosok-pelosok negeri.

photo
Perumahan Muslim Uighur. (foto: Uttiek M Panji Astuti)


Tapi, ada yang berbeda dalam perjalanan saya kali ini. Jawaban, “I’m from Indonesia,” bersambut dengan tatapan mata yang sulit saya artikan. Tidak ada pelukan hangat dan ucapan selamat datang ke negerinya, seperti yang biasa saya terima.

Sebegitu parahkan perang psikologi yang dikondisikan sehingga membuat mereka betul-betul tercekam ketakutan. Ataukah larangan berbicara dengan orang asing membuat mereka memilih menahan diri?

Di Sunday Market, sewaktu memotret, seorang perempuan penjual buah berkali-kali mencuri pandang dan menatap saya. Saat saya dekati dan minta izin memotretnya, tiba-tiba ia berkata pelan, “Indonesia?” yang saya jawab dengan anggukan kepala.

Hanya itu sepenggal kalimat yang membuat saya tertegun. “Apa yang engkau harapakan dari kami, saudaraku?” bisik saya dalam hati. Apakah engkau sudah terlalu lama menunggu uluran tangan kami?

photo
Muslim Uighur (foto: Uttiek M Panji Astuti)


Prof DR. Raghib As-Sirjani dalam bukunya “Palestina Kewajiban yang Terlupakan” menuliskan secara rinci apa kewajiban kita pada Palestina. Semua muslim di seluruh dunia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada tanah waqaf Palestine.

Saya merenung. Kewajiban yang sama harusnya juga berlaku untuk saudara-saudara muslim di seluruh dunia yang kini tengah dirundung duka. Di Uighur, mereka tidak membutuhkan bantuan dana, karena sistem komunis membuat semua penduduk mendapat jaminan kebutuhan sandang pangan sama rata.

Namun, kebutuhan dasar manusia untuk beragama dan dimanusiakan itu yang direnggut paksa. Haruskah kita diam saja?

Suarakan penderitaan mereka dengan suara lantang maupun doa dalam diam. Kuatkan hati mereka untuk menggenggam erat kalimat Tauhid di hatinya. Dengan segala risiko yang harus diterima.

Saya teringat perjalanan ke Uzbekistan akhir tahun 2017 lalu. Saya bertemu dengan beberapa imam muda. Melihat usianya yang masih di bawah saya dan Lambang, saya membayangkan para imam ini harus menyembunyikan agamanya di era Uni Soviet menguasai negerinya. Hafalan surat-surat yang dikuasainya, pastilah tidak terjadi dalam semalam.

Sepanjang pendudukan Uni Soviet, secara diam-diam, mereka dan keluarganya tetap mempertahankan Tauhid, mendaras bacaan Al-Qur’an dalam kesunyian. Setelah rezim komunis berlalu, mereka melanjutkan pendidikan ke negeri yang menjadi sumber-sumber Cahaya hidayah, menyerap ilmu, dan kini bisa membagikannya pada umat di sekitarnya.

photo
Kemasan makanan halal di Uighur. (foto: Uttiek M Panji Astuti)



Sungguh-sungguh saya deraskan doa, supaya mereka diberi kesabaran, hingga tiba waktunya. Hangat CahayaNya kembali menghangatkan negeri ini. Dan musim dingin bisa segera berganti.

Hari ini saya harus melangkahkan kaki meninggalkan negeri ini. Berat rasanya. Pagi ini menggunakan China Southern Airlines saya akan terbang dari Urimqi transit di Guangzhou, lalu dari Ghuangzhou ke Jakarta.

Setiba di Urumqi dari Kashgar semalam, saya kembali berjumpa dengan Mr. Chang. Saya katakan padanya, besok berangkat lebih pagi tidak apa-apa, karena pemeriksaan saya di bandara pasti lebih lama. Saya tidak mau terburu-buru.

Tepat pukul 7.30, yang di sana berarti sebelum Subuh, Mr. Chang sudah menjemput saya dan Lambang di lobby hotel. “Kita gantian shalat Subuh di mobil,” pesan saya pada Lambang yang duduk di kursi depan.

Menembus pekatnya pagi di musim dingin, saya bertakbir. Ada satu pinta yang saya panjatkan usai salam, “Izinkan saya menyaksikan orang menegakkan shalat di negeri ini, sekali saja ya Rabb.”

Saya yakin di kegelapan sana ada orang-orang yang saat ini sedang terbangun, bermunajad, membenamkan sujudnya dalam-dalam.

Di check-in desk, saya minta Mr Chang memastikan ada dua boarding pass yang kita terima. Urumqi-Guangzhou dan Guangzhou-Jakarta. Serta bagasi kita langsung ke Jakarta. Karena waktu transit di Guangzhou yang sempit, semua harus beres di sini.

Sekali lagi boarding pass Lambang bermasalah. Nama tengahnya tidak muncul. Tapi karena ada Mr. Chang, jadi bisa diselesaikan dalam 5 menit. Kita diminta menuju salah satu konter, lalu nama tengah Lambang dituliskan menggunakan bolpen dan distempel. Beres!

Padahal kemarin di Kashi Airport, saat mengalami masalah serupa kita kalang kabut bukan main. Karena tidak ada yang bisa menjelaskan masalahnya dan apa yang harus dilakuan dalam bahasa Inggris (baca Journey to Uighur-Xinjiang.

Di mesin pemindai, karena tidak bersedia melepas kerudung, seperti biasa saya harus masuk ke ruang pemindai khusus. Tapi karena sudah beberapa kali, jadi saya sudah santai. Apalagi cukup waktu, sehingga tidak terburu-buru.

Saya berjalan pelan dengan Lambang menuju boarding gate. Sempat mampir di salah satu toko buku untuk membeli tempelan kulkas berbentuk peta Xinjiang. Bukan tak mungkin, peta ini kalau diikutkan 10 Year Challenge akan berubah 10 tahun lagi.

“Aku ke toilet terus ambil minum. Kamu mau?” Tawar saya ke Lambang yang dijawab dengan anggukan kepala.

Kebiasaan penduduk setempat di musim dingin seperti sekarang ini kemanapun pergi akan membawa termos kecil. Di bandara dan tempat-tempat umum lainnya banyak tersedia dispenser air panas gratis.

Mengapa air panas? Karena temperatur yang selalu di bawah 0 derajat di musim dingin membuat air dalam kemasan cepat sekali membeku. Saya pernah meninggalkan botol air mineral di mobil, sewaktu mau diminum bagian bawahnya sudah membeku.

Deg! Rasnya jantung saya seperti berhenti berdetak. Saya tersentak.

Di belakang mesin dispenser saya lihat seorang pria berwajah Timur Tengah, mengenakan hem biru dan syal kotak-kotak serupa kafayeh yang juga berwarna biru dililit ke lehernya, tampak menggelar sajadah untuk shalat Subuh.

Sudut mata saya terasa hangat. Hati saya gerimis. Allah langsung mengabulkan doa yang saya pinta usai shalat Subuh di dalam mobil dalam perjalanan ke bandara tadi.

Akhirnya, saya menyaksikan orang menegakkan shalat di negeri ini. Allahu akbar!

Sambil menyerahkan cup kertas berisi air panas ke Lambang, saya bisikkan pelan, “Pelan-pelan nolehnya. Arah jam 6 kamu ada orang lagi shalat. Jangan bikin gerakan ngagetin. Noleh pelan saja.”

Penerbangan Urumqi-Guangzhou ditempuh dalam waktu 5 jam. Hampir sama dengan waktu tempuh Guangzhou-Jakarta. Menu muslim food yang kita request oline sejak dari Jakarta dihidangkan awak kabin, “Are you request muslim food?” tanyanya, yang saya jawab dengan anggukan kepala. Begitu dibuka, isinya ubi rebus, yang membuat saya dan Lambang tersenyum.

Dalam semua penerbangan ke luar negeri, kalau tidak menggunakan Garuda Indonesia atau maskapai Timur Tengah seperti Emirates dan Qatar Airways, kita selalu request muslim food secara online begitu dapat kode bookingnya. Namun, penerbangan kali ini yang paling kocak karena dapatnya ubi rebus!

Menjelang landing di Guangzhou, saya ke toilet. Tak sengaja saya antre di belakang pria yang tadi shalat Subuh di bandara. “Assalamualaykum, Brother,” sapa saya. Yang dijawab dengan senyum ramah, “Wa’alaykum salam.”

“Where do you come from?” Tanya saya.
“Kuwait. And you?”
“Indonesia,” jawab saya.
“Aah, Indonesia. Beautiful country. Ahlan.”

photo
Sebuah masjid di Uighur, (foto: Uttiek M Panji Astuti)



Sekalipun bukan Muslim Uighur yang menyambut, di atas ketiggian 35.000 kaki, akhirnya ada yang mengucapkan selamat datang. Saya ceritakan obrolan singkat itu ke Lambang yang dijawab dengan senyuman.

Dari jendela pesawat yang terlihat hanya awan putih. Entah berada di mana saat ini. Saya renungi perjalanan ini. Betapa banyak hikmah berserak yang bisa dipunguti.

Nikmat shalat tanpa tekanan dan rasa takut yang tak akan saya rasakan kalau tidak mengalaminya di negeri ini. Betapa iman yang sudah tertanam di hati harus digenggam erat. Jangan pernah terlepas sekalipun. Hangat Cahaya hidayah menyusup ke relung hati. Mata saya basah. Hati saya apalagi!

Saya bulatkan tekad, “Akan aku kabarkan keadaanmu saudara-saudaraku. Akan aku tuliskan kisahmu. Akan aku bagikan pada siapa saja yang mau membacanya. Akan aku sorongkan doa-doa terbaik ke pintu langit supaya pertolongan Allah segera datang ke negerimu.”

Seluruh hatiku bersamamu, saudaraku!

Jakarta, 8/1/2019

Follow me on IG @uttiek.herlambang
Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA