Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Pamali dan Kisah Santap Bakmi Bawah Pohon di Yogya

Ahad 20 Jan 2019 11:15 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Dapur warung bakmi Mbah Gito, Yogyakarta,

Dapur warung bakmi Mbah Gito, Yogyakarta,

Foto: ilham bintang
Pengunjung bisa bernostalgia karena bersantap bisa di bawah pohon rimbun.

Oleh: Ilham Bintang, Jurnalis Senior dan Pimred Cek and Ricek

Kalau sekarang di media sosial tengah ribut soal potong rambut (mencukur) di bawah pohon di Garut, saya kini lagi asyik mengingat kenangan mencicipi makan bakmi di bawah pohon. Peristiwa itu tepatnya terjadi semalam yang juga merupakan malam terakhir di Yogyakarta saat menikmati kuliner Bakmi Jawa Mbah Gito.

Meski begitu, sembari menikmati tudingan pencitraan atau lainnya, apa pun itu tempat kuliner bakmi Gito unik. Di sana kita akan merasa bersantap bakmi seperti berada di dalam semak belukar di bawah rimbunan pepohonan. Desain interiornya pun begitu khas. Agak magis. Ada batang pohon berhiaskan relief tiga Presiden RI, Soekarno, Soeharto, dan BJ Habibie. Ini surprise bagi kami yang baru pertama kali ke warung itu. Lokasi berada di jalan Nyi Ageng Nis, Rejowinangun, Sleman.

photo
Patung wajah Presiden BJ Habibie di warung bakmi Mbah Gito.

Kami tiba sekitar pukul sepuluh malam, setelah acara resepsi perkawinan anak kemanakan rampung. Pelayan menginformasikan, stock makanan mereka tidak lengkap lagi. Ayam habis. Tinggal bakmi dan telor. Ini yang bikin penasaran. Menambah kepercayaan kuliner ini maknyus, seperti diceritakan Mas Kris, supir kendaraan kami. 

Setelah semua masuk ke dalam warung, kami pun diantar masuk cari tempat. Suasana di dalam memang ramai pengunjung. Hampir semua meja terisi. Kami pesan bakmi kuah dan goreng. Minumnya wedang jahe uwoh. Ini minuman andalan mereka. Ramuan jahe dan rempah-rempah. Mienya maknyus, minumannya segar beraroma rempah tentu saja.

Rumah makan Mbah Gito berdiri di lokasi ini belum lama, tahun 2008. Tapi pemiliknya, Mbah Gito, pemain lama. Tiga puluh tahun lalu ia sudah berdagang mie gerobak keliling kampung. Tapi kemudian berhenti sekian lama karena bekerja di perusahaan swasta.

photo
Suasana warung bakmi Mbah Gito yang di bawah pohon.

Setelah resign di perusahaan itu, Mbah Gito melanjutkan usaha berdagang bakmi kembali. 
Dalam kurun sepuluh tahun ia pun meraih sukses. Rumah makannya terkenal. Menjadi salah satu tujuan wisata kuliner di Yogyakarta. Terutama bagi penggemar bakmi Jawa.


Bakmi Jawa Mbah Gito buka setiap hari mulai jam 6 sore sampai sehabisnya. Pas kami membayar di kasir, ada belasan pengunjung terpaksa balik kanan karena bakmi sudah habis. Termasuk adik kami Fadlan Bintang, yang datang belakangan.

Saya sempat ketemu dengan Mbah Gito malam itu. Wajahnya sekaligus jadi maskot rumah makannya. Ngobrol sebentar seputar keberhasilannya. Ditanya omzet perhari, Mbah Gito langsung melipir. Sambil tertawa, dia bilang: “ Rahasia toh Mas. Pokoknya bagus,” katanya. Kalau begitu, syukurlah. Alhamdulillah.

Mendengar itu, saya pun hanya menganguk-angguk dan tersenyum. Saya hanya berpikir, kalau di garut ada tukang cukur di bawah pohon, di Yogya ternyata ada tukang bakmi yang di bawah pohon pula.Ternyata selera orang Indonesia sama saja.

Namun terlintas soal itu, tiba saya pun tiba-tiba tersenyum sendiri. Apa pasal? Jawabnya sepele saja. Yaitu, kalau di zaman kecil dulu anak-anak pasti takut bukan main ketika bermain di bawah pohon karena di sana dikatakan banyak hantu. Takut kerasukan setan. Nah, ternyata di zaman milenial dan di era teknologi 4.0 ini, bermain dan bersantap --apalagi malam hari -- tak menakutkan lagi. Kata-kata hardikan dan pamali dari para orang tua tak terdengar lagi.

Atau jangan-jangan hantunya sudah berubah jadi manusia?

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA