Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

ESDM: Pemanfaatan Kemiri Sunan Terkendala Suplai

Jumat 18 Jan 2019 16:11 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda

Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Dibyo Pranowo (baju putih), memegang kemiri sunan yang akan diolah sebagai biodiesel, Rabu (16/1).

Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Dibyo Pranowo (baju putih), memegang kemiri sunan yang akan diolah sebagai biodiesel, Rabu (16/1).

Foto: Republika/Adinda Pryanka
Kendala lain untuk mengolah biji kemiri sunan hingga menjadi minyak butuh 3-5 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah melihat potensi kemiri sunan sebagai jenis tanaman sumber bahan baku biodiesel yang potensial. Tapi, masih ada berbagai poin yang menjadi tantangan termasuk faktor ketersediaan.

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan, kemiri sunan memiliki produktivitas minyak yang tinggi. Setidaknya 15 ton sumber minyak per hektare per tahun mampu didapatkan yang berasal dari bijinya. "Ini keunggulan kemiri sunan," ucapnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jumat (18/1).

Tapi demikian, Andriah menjelaskan, kemiri sunan masih belum dapat dimanfaatkan karena ketersediaannya yang masih sangat terbatas. Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan, hanya sekitar 1.000 hektare luas area kemiri sunan. Total tersebut tersebar di daerah Jawa Barat.

Kendala lain yang disampaikan Andriah adalah masa panen. Untuk memanen biji kemiri sunan yang dapat diolah sebagai sumber minyak, dibutuhkan waktu tiga sampai lima tahun. "Sebab, dibutuhkan masa penyiapannya terlebih dahulu," tuturnya.

Selain isu ketersediaan, kemiri sunan belum memiliki produk bernilai tambah potensial lain di luar minyak. Misalnya, kayu, bahan kosmetik, obat dan sebagainya. Andriah menjelaskan, kondisi ini membuat sisi ekonominya lebih sulit tercapai dibanding dengan jenis bahan baku biodiesel yang lain seperti nyamplung dan pongam.

Secara garis besar, Andriah menuturkan, pemanfaatan kemiri sunan untuk komersial skala besar masih sulit dilakukan. Hal ini berbeda dengan sawit yang dari sisi hulunya sudah mengalami perkembangan bagus.

Dengan segala tantangan yang ada, Andriah menjelaskan, kemiri sunan tetap memiliki potensi untuk dikembangkan. Sebab, tanaman ini dapat ditanam di daerah marjinal yang menjadi nilai positif dibandingkan tanaman lain.

Sementara itu, Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Togar Sitanggang mengakui, pemanfaatan kemiri sunan sebagai alternatif minyak sawit untuk biodiesel sebenarnya sudah lama dibicarakan. "Sejak sebelum 2017, sudah ada diskusi," ucapnya.

Tapi, Togar menambahkan, asosiasi belum dapat mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai tingkat efisiensi dari kemiri sunan dibanding dengan minyak sawit ataupun bahan baku lain. Termasuk, berapa yield per hektare minyak yang dapat dihasilkan dan besaran biaya produksi.

Terlepas dari itu, Togar menjelaskan, asosiasi terbuka untuk memanfaatkan berbagai sumber minyak nabati sebagai komplementer minyak kelapa sawit. Sejauh ini, sudah ditemukan tanaman yang dapat diolah menjadi biodiesel selain kemiri sunan. "Misalnya, biji jarak pagar, biji bintaro, biji nyamplung, biji kepuh dan biji kapuk randu," ucapnya.

Sejumlah tanaman tersebut masih perlu diteliti kelayakan bisnisnya untuk menjadi industri biodiesel skala besar dan ramah lingkungan. Selain itu, Togar mengatakan, semuanya harus ditelaah apakah mereka tergolong tanaman pangan atau bukan untuk mengantisipasi persaingan dengan sumber pangan manusia.

Sementara itu, Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Dibyo Pranowo, mengatakan, kemiri sunan merupakan komoditas unggulan yang dapat dimanfaatkan sebagai biodiesel. Apabila dibuat peringkat berdasarkan sisi ekonomis, kemiri sunan berada di posisi kedua setelah kelapa sawit.

Dari 100 kilogram bahan baku kelapa sawit, lebih dari 50 kilogram biodiesel dapat dihasilkan. Sedangkan, untuk kemiri sunan, sekitar 48 kilogram biodiesel dapat dihasilkan dari 100 kilogram bahan baku. "Memang keduanya tidak berbeda jauh," ucap Dibyo yang sudah meneliti kemiri sunan sejak 2005.

Tapi, kemiri sunan memiliki banyak keunggulan dibanding dengan kelapa sawit. Khususnya, tidak harus bersaing dengan pangan karena memiliki kandungan venom atau racun yang tidak memungkinkan untuk diolah sebagai bahan makanan. Menurut Dibyo, karakteristik ini memungkinkan olahan kemiri sunan dapat difokuskan 100 persen untuk biodiesel.

Keunggulan lain adalah kemiri sunan dapat berguna sebagai tanaman konservasi. Diversifikasi produknya pun tinggi, dari sabun, cat hingga produk kosmetik. Produktivitas kemiri sunan juga terbilang tinggi, yakni tujuh ton per hektare per tahunnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA