Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Banyak Toko Ritel Tutup, Kadin Soroti Dampak ke Tenaga Kerja

Rabu 16 Jan 2019 18:36 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nidia Zuraya

Warga memasuki gerai Hero yang masih buka di kawasan Gondangdia, Jakarta, Selasa (15/1).

Warga memasuki gerai Hero yang masih buka di kawasan Gondangdia, Jakarta, Selasa (15/1).

Foto: Republika/Prayogi
Kadin menilai sudah seharusnya pemerintah memikirkan fenomena lesunya bisnis ritel

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tutupnya beberapa perusahaan ritel menjadi dilema karena memberi dampak besar terutama bagi tenaga kerja. Apalagi, tenaga kerja menjadi hal sangat krusial di Indonesia.

Wakil Ketua Kadin bidang ketenagakerjaan Anton J Supit mengatakan, hampir 60 persen tenaga kerja Indonesia merupakan pekerja informal. "Nah ini tidak ada kepastian. Hal tersebut tentunya harus dipikirkan," katanya kepada Republika, Rabu (16/1).

Kadin telah melakukan pembahasan mengenai para pekerja di tengah lesunya industri ritel. Namun pembahasan tidak mudah karena pengusaha perlu bersinergi dengan pemerintah.

Ia menambahkan kementerian terkait sudah seharusnya memikirkan fenomena yang terjadi. "Itu tidak bisa diretorika, hanya ngomong. Harus konkrit," ujar dia.

Dengan begitu, pemerintah dan dunia usaha bisa memetakan mana lapangan kerja yang bisa dipertahankan, yang tersingkir dan yang baru. Namun tenaga kerja harus dididik dengan baik.

"Karena itu menurut saya vokasi sangat penting," tegasnya.

Ia menjelaskan, vokasi merupakan pola pendidikan bekerja sambil sekolah. Berkaca dari Jerman, program vokasi ini diisi 70 persen praktik dan 30 persen teori. Namun, teori yang dimaksud bukan lagi pelajaran umum.

Guna menerapkannya, menurut Anton, diperlukan revolusi dan perubahan pola pikir. Vokasi ini diyakini Anton sebagai konsep yang serius.

"Jadi memberikan orang keterampilan yang minimal agar dia survive," kata Anton.

Lebih lanjut Anton menuturkan, dalam pelaksanaannya program vokasi ini tidak usah muluk-muluk. Ia mencontohkan tukang masak dan tukang jahit.

Dua pekerjaan tersebut, sambung Anton, masih sangat dibutuhkan. Namun, sebagai pekerja yang benar-benar terkualifikasi.

"Syukur kalau bisa ekspor," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA