Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Keadaban Politik di Tengah Ancaman Serigala Berbulu Domba

Selasa 15 Jan 2019 06:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Politik post-truth tidak akan diterima dan bertahan lama.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Kini, dunia sedang dihadapkan kepada apa yang disebut Revolusi 4.0 dengan segala dampak positif dan negatif, konstruktif yang makin memudahkan manusia untuk mengurus hidup duniawinya dan destruktif jika buah revolusi itu disalahgunakan karena mengabaikan acuan moral transendental yang diperintahkan oleh semua agama.

Sudah sejak 300 tahun yang silam sebagian umat manusia ingin membunuh Tuhan karena dinilai mengganggu kebebasannya, tetapi dengan bergulirnya waktu keinginan congkak itu telah gagal total. Sebab, tanpa Tuhan dunia akan kehilangan rujukan moral tertinggi. Perang nuklir jika sampai meledak adalah salah satu corak dari dunia tanpa Tuhan itu. Sudah sejak 15 abad berjalan,

Alquran mengingatkan melalui ungkapan berikut ini: “Janganlah kamu jadi seperti orang yang melupakan Allah, maka Dia membuat mereka lupa terhadap dirinya sendiri. Itulah mereka orang-orang yang fasik (pembangkang/pemberontak).” (QS al-Hasyr: 19).

Dalam perspektif Alquran ini, apa yang disebut politik pascakebenaran tidak akan bertahan lama. Pada saatnya ketika umat manusia telah menjadi babak belur karena kecongkakannya, tentu mereka akan sadar, entah generasi yang mana, tentang betapa remuknya dunia manakala kehilangan kontak dengan Tuhan.

Baca Juga

Kehidupan bumi tanpa sapaan Langit sungguh akan kacau dan runyam. Semuanya berantakan, semuanya kehilangan arah, sedangkan Tuhan sendiri tentu tidak tersinggung. Hanya merasa iba mengapa makhluk terbaik ciptaan-Nya menjadi lupa diri, menjadi sangat rakus, seolah-olah telah menjadi tuhan, tuhan rekayasa angan-angannya sendiri yang menipu.

Akibatnya, apa yang terjadi? Ungkapan Latin ini adalah jawabannya: homo homini lupus (manusia bak serigala terhadap satu sama lain). Mereka saling menerkam, saling memusnahkan. Hukum rimba merajalela di mana-mana. Semuanya berubah jadi makhluk ganas, bengis, dan biadab.

Sedangkan agama mengajarkan filosofi ini: homo homini socius (manusia sebagai sahabat bagi sesamanya). Maka, dalam sejarah pertarungan antara dua mazhab itu tidak pernah usai, tetapi agama tetap memerintahkan manusia untuk menganut mazhab: homo homini socius, jika tidak demikian, dunia akan hancur dalam hara-kiri kebiadaban.

Mazhab homo homini lupus umumnya dipraktikkan oleh politisi yang lupa diri, hampir sepanjang sejarah, di semua kepingan bumi, termasuk oleh mereka yang mengaku penganut agama, tidak terkecuali di Bumi Pancasila dengan sila keduanya yang teramat mulia yang juga sedang terancam: “kemanusiaan yang adil dan beradab”, sebagaimana telah saya kupas dalam Resonansi (4/12/2018). Berkali-kali telah saya lontarkan bahwa bangsa ini cukup piawai dalam rumus-merumus tentang corak idealisme yang harus dipedomani, tetapi sering tersungkur di saat pelaksanaannya.

Inilah penyakit kultural yang belum hilang dari tubuh dan jiwa bangsa ini. Dengan masifnya penggunaan medsos, kita siang dan malam disuguhi ujaran antagonisme antara idealisme yang mesti memimpin dengan realisme yang serbabusuk, dusta, kumuh, dan hina. Jalan keluarnya hanya satu: pedomani bersama secara jujur mazhab: homo homini socius.

Di bawah payung mazhab ini, pelaksanaan pileg dan pilpres 17 April 2019 akan terhindar dari serangan brutal gerombolan “serigala berbulu domba". Dengan mengacu kepada mazhab: homo homini socius, maka perbelahan dan perpecahan komunitas di Indonesia tidak perlu diulang lagi. Cukup berlaku sekali saja, untuk kemudian kita kutuk dan kita kuburkan bersama karena bisa meluluhlantakkan hari depan bangsa tercinta ini.

Tidak ada pengkhianatan yang lebih kejam dari pada sikap membiarkan bangsa dan negara ini berkeping-keping karena permainan politik kotor serigala berbulu domba. Kita harus menolak itu semua, pihak manapun yang melakukannya.

Tidak ada pilihan lain, kecuali merapatkan barisan kekuatan akal sehat yang masih hidup pada sebagian besar rakyat Indonesia. Harapan besar kita tertumpu kepada kekuatan dahsyat yang tidak pernah mati ini. Jika pun kadang-kadang terlihat mati suri, itu hanyalah gejala sementara. Unsur peradaban impor yang sedang membusuk dari kawasan lain pasti pada akhirnya akan kalah terkapar di nusantara ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA