Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

102 Pemrotes Rompi Kuning Ditangkap di Prancis

Ahad 13 Jan 2019 14:19 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pengunjuk rasa rompi kuning.

Pengunjuk rasa rompi kuning.

Foto: EPA-EFE/CAROLINE BLUMBERG
Aksi protes kelompok Rompi Kuning sudah dimulai sejak 17 November 2018 lalu

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Sedikitnya 102 pemrotes Rompi Kuning ditangkap pada Sabtu (12/1) di Ibu Kota Prancis, Paris. Polisi kota Paris terpaksa menggunakan gas air mata serta semprotan air terhadap para pengunjuk rasa itu.

Suasana di sekitar Champs-Elyesees tenang pada pagi hari. Namun ketegangan antara polisi dan pemrotes meningkat pada siang hari.

"Para demonstran melemparkan batu ke polisi sementara polisi menggunakan air mata dan semprotan air ke arah pemrotes," kata Kantor Berita Anadolu.

Di Bourges, Prancis Tengah, 500 pemrotes berusaha memasuki pusat kota yang bersejarah, tempat protes dilarang masuk oleh kantor gubernur. Sementara itu di Belanda, kelompok Rompi Kuning menggelar protes terhadap pemerintah di 14 kota besar, termasuk di Den Haag, Amsterdam dan Rotterdam.

Aksi protes kelompok Rompi Kuning, yang dimulai sebagai reaksi terhadap kenaikan pajak bahan bakar dan berkembang menjadi demonstrasi terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron, telah berlangsung terus. Kendati pemerintah telah menyerukan agar kegiatan tersebut dihentikan.

Aksi protes itu mula-mula digelar di Prancis pada 17 November. Aksi tersebut dengan cepat meluas serta merembes ke negara lain Eropa.

Ribuan pengunjuk rasa dengan mengenakan rompi kuning terang, sehingga mereka dijuluki pemrotes Rompi Kuning, telah berkumpul di berbagai kota besar utama Prancis, termasuk ibu kotanya, Paris, untuk menentang kenaikan pajak kontroversial Macron dan situasi ekonomi yang memburuk.

Para pengunjuk rasa menggelar protes dengan menghalangi jalan dan lalu-lintas, dan juga menghalangi jalan masuk dan ke luar pada banyak stasiun pompa bensin.

Pemrotes tersebut, yang pada umumnya tinggal di daerah pinggir kota akibat tingginya harga sewa rumah dan apartemen di kota besar, telah mendesak Macron agar memangkas pajak bahan bakar dan meringankan kesulitan ekonomi mereka.

Macron, yang menghadapi tekanan dari pemrotes, mengumumkan kenaikan upah minimum dan membatalkan kenaikan pajak bahan bakar. Sedikitnya 10 orang meninggal, lebih dari 5.500 orang lagi ditahan, dan lebih dari seribu orang lagi cedera dalam protes.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA