Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Ratusan Pekerja Federal AS Demo ke Gedung Putih

Jumat 11 Jan 2019 14:30 WIB

Red: Nidia Zuraya

'Governmet Shutdown' di Amerika Serikat (ilustrasi)

'Governmet Shutdown' di Amerika Serikat (ilustrasi)

Foto: news.yahoo.com
Sebanyak 800 ribu pegawai federal dirumahkan atau diminta bekerja tanpa gaji

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Ratusan pekerja federal Amerika Serikat (AS) yang dicutikan secara sepihak oleh Pemerintah AS menggelar aksi unjuk rasa yang digalang sebuah serikat kerja di Gedung Putih pada Kamis (10/1) waktu setempat. Para pekerja ini meneriakkan "kami ingin bekerja".

Unjuk rasa itu digelar pada hari ke-20 penutupan sebagian pemerintah (shutdown). Shutdown pemerintah AS ini sebagai imbas dari tuntutan Presiden Donald Trump untuk pendanaan pembangunan dinding perbatasan.

"Hey, Hey, ho, ho, penutupan berakhir," teriak pengunjuk rasa saat mereka berkumpul di tengah cuaca dingin di markas serikat kerja AFL-CIO. Mereka juga membawa poster yang bertuliskan "Trump: Akhiri penutupan," "Buka kembali layanan pemerintah," dan "Biarkan aku bekerja".

Sebanyak 800 ribu pegawai federal dirumahkan atau diminta bekerja tanpa gaji saat penutupan layanan pemerintah. Penutupan itu dipicu perselisihan antara Trump dan anggota Kongres dari Partai Demokrat atas tuntutan dana sebesar 5,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 80,1 triliun) untuk membangun dinding pembatas di perbatasan AS Selatan.

Trump, dalam janji kampanye pemilihan presiden 2016, berulang kali berjanji bahwa Meksiko akan membayar pembangunan tembok itu. Namun dia mengatakan dia tidak akan menandatangani rancangan undang-undang apa pun untuk membuka kembali layanan pemerintah jika tidak ada pendanaan untuk pembangunan pagar.

Pengunjuk rasa, banyak yang mengenakan rompi hijau terang dengan tulisan, "Aku pekerja. Aku menuntut suara". Mereka menuntut pemerintah membuka kembali layanannya, terpisah dari pembahasan soal pendanaan pagar pembatas.

"Kami mau gaji kami! Kami mau gaji kami! Kami mau gaji kami!" teriak pegawai dan kontrak pemerintah yang berkumpul di tengah cuaca dingin sambil mengenakan topi dan syal saat bersiap untuk aksi jalan.

Pada pekan ketiganya, penutupan layanan sekitar seperempat lembaga pemerintah federal telah menjadi penutupan terpanjang kedua sejak pertengahan 1970-an. Trump mengatakan pemerintahannya bisa melanjutkan penutupan hingga beberapa bulan bahkan tahun.

Banyak pegawai pemerintah yang dicutikan beralih ke laman penggalangan dana seperti GoFundMe.com untuk membantu menalangi pengeluaran mereka, dari makanan hingga kebutuhan lain.

Trump tidak berada di Gedung Putih begitu pengunjuk rasanya tiba. Dia bertolak menuju perbatasan AS-Meksiko di McAllen, Texas.

Trump mengatakan dia memiliki hak untuk mengumumkan darurat nasional jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dengan Kongres mengenai proyek pendanaan tersebut.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA