Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Temuan Baru tentang Sindrom Kelelahan Kronis yang Misterius

Kamis 03 Jan 2019 14:40 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ani Nursalikah

Lelah.

Lelah.

Foto: Pixabay
Rasa lelah ekstrem ini kadang disertai gejala menyerupai flu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sindrom kelelahan kronis (CFS) bisa dikatakan sebagai suatu kondisi yang misterius. Alasannya, hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya CFS.

Gejala utama CFS adalah rasa lelah yang ekstrem dan sering terjadi tanpa henti. Terkadang, CFS juga disertai dengan gejala lain seperti nyeri otot dan nyeri sendi, gangguan tidur serta gejala menyerupai flu.

Karena penyebab CFS belum diketahui secara pasti, pengobatan yang dapat diberikan saat ini masih sebatas meringankan gejala. Meski begitu, beberapa peneliti meyakini CFS berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri, perubahan sistem imun, ketidakseimbangan hormon atau kondisi kesehatan mental.

Belum lama ini, tim peneliti dari Institute of Psychiatry, Psychology and Neuroscience di King's College London berhasil mengungkap temuan baru terkait CFS. Temuan ini didapatkan setelah tim peneliti melakukan investigasi terhadap 55 orang yang menjalani terapi hepatitis C dengan obat Interferon Alpha. Gejala menyerupai CFS kerap dilaporkan oleh orang-orang yang menjalani terapi ini.

Tim peneliti mengukur tingkat kelelahan para partisipan sebelum terapi Interferon Alpha diberikan. Tim peneliti juga mengukur marker atau penanda imun pada tiap partisipan sebelum menjalani terapi dengan obat interferon Alpha.

Hasilnya, sebanyak 18 orang partisipan diketahui mengalami gejala menyerupai CFS. Gejala ini bahkan bisa berlangsung hingga enam bulan setelah terapi selesai dilakukan. Beberapa gejala menyerupai CFS yang dialami adalah kelelahan, gangguan kognitif serta nyeri sendi dan nyeri otot.

Tim peneliti melakukan observasi lebih jauh terhadap 18 orang partisipan ini. Tim peneliti menemukan mereka memiliki respons imun yang lebih besar terhadap terapi Interferon Alpha dibandingkan partisipan lain yang tidak mengalami gejala CFS.

Sebanyak 18 partisipan ini diketahui memproduksi molekul interleukin-10 dan interleukin-6 dua kali lipat lebih besar. Kedua molekul ini merupakan pengirim pesan sistem imun yang penting.

"Untuk pertama kalinya, kami menemukan orang-orang yang rentan mengalami penyakit menyerupai CFS memiliki sistem imu yang terlalu aktif," ujar ketua peneliti  Alice Russell seperti dilansir Medical News Today.

Temuan ini mengindikasikan orang-orang yang memiliki respons imun berlebih terhadap rangsangan kemungkinan lebih berisiko mengalami CFS. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme molekular yang mendasari respons imun berlebih pada seseorang.

"Dan juga mekanisme molekular yang berkaitan dengan perubahan sindrom kelelahan dari akut menjadi persisten," kata tim peneliti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA