Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

BNPB Sebut 40 Juta Orang Terancam Jadi Korban Longsor

Rabu 02 Jan 2019 17:07 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Bayu Hermawan

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nughroho

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nughroho

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Lonsor berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali Kalimantan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meneliti banyak kawasan rawan longsor di Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Potensi longsornya bahkan mengancam lebih dari 40 juta orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan potensi di Indonesia menyebar di hampir semua wilayah yaitu di sepanjang Bukit Barisan Sumatra, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku dan Papua. Hanya terkecuali di pulau Kalimantan.

"Jumlah penduduk terpapar dari bahaya longsor sedang hingga tinggi ada 40,9 juta jiwa. Mereka tersebar di 274 Kabupaten/Kota," katanya dalam konferensi pers di kantor BNPB, Rabu (2/1).

Menurutnya tak mudah menangani longsor bagi masyarakat yang tinggal dekat daerah longsor. Ia menyebut tugas pemda perlu dipertegas dalam perizinan bangun rumah supaya bisa dikendalikan. Ia menyarankan rumah dibangun pada daerah aman dengan mempertimbangkan analisis resiko bencana.

"Sehingga walau bencana longsor ningkat, tata ruang dan implementasinya jadi kunci atasi longsor cegah korban. Ini jadi bom waktu," ujarnya.

Terlebih, pemerintah mengalami keterbatasan menyediakan alat pendeteksi longsor. Sebab jumlah kebutuhannya amat tinggi sampai tak mampu ditalangi anggaran. Sehingga tak semua lokasi rawan longsor terpantau.

"Ada 300 hingga 400 unit deteksi longsor dari jutaan unit kebutuhannya. Ada yang berbasis curah hujan bunyi sirenenya atau berbasis retakan tanah alat bunyi," katanya.

Selain itu, ia mengkhawatirkan alihfungsi lahan lereng dengan kemiringan tinggi. Hal tersebut bisa memicu longsor. Ia mengimbau agar diadakan konservasi berbasis bioteknologi dengan menanam pepohonan berakar dalam. Tujuannya menahan longsor.

"Tanaman sukun akarnya dalam buat jaga tanah hindari longsor. Bisa jadi nilai ekonomi juga, jadi dipertahankan. Kalau pohon jati, sengon pasti ditebang demi alasan ekonomi, lalu ditanam lagi dari nol butuh waktu," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA