Wednesday, 24 Zulqaidah 1441 / 15 July 2020

Wednesday, 24 Zulqaidah 1441 / 15 July 2020

Pembenahan BTS di Pelosok Bencana, Pemulihan Ekonomi Rakyat

Sabtu 29 Dec 2018 07:53 WIB

Red: Endro Yuwanto

Suasana dampak kerusakan pasca bencana Tsunami di Kawasan Sumur, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12).

Suasana dampak kerusakan pasca bencana Tsunami di Kawasan Sumur, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12).

Foto: Republika/Prayogi
Jaringan komunikasi yang lancar sangat membantu warga terdampak bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Endro Yuwanto

Jaringan komunikasi menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam upaya penanganan dampak bencana. Selain untuk mendukung proses evakuasi korban, peringatan dini bencana susulan, koordinasi stakeholder agar lebih mudah, serta komunikasi dalam pencarian jenazah, jaringan komunikasi juga sangat membantu warga yang terdampak bencana agar bisa menghubungi keluarga, teman, dan kerabat dekat.

Tsunami di Selat Sunda Banten dan Lampung, Sabtu (22/12) malam, menjadi kisah memilukan bagi warga dan juga wisatawan di Pantai Anyer yang menghabiskan libur akhir tahun di pantai yang menjadi salah satu tujuan wisata favorit itu. Salah satu saksi mata tsunami adalah seorang karyawati, Sari (35 tahun), asal Jakarta Selatan.

Sari mengisahkan, dirinya sedang berlibur bersama keluarga di Pantai Anyer saat ombak tsunami melanda sekitar tempat ia menginap. Pada pukul 21.30 WIB hal yang aneh sempat ia rasakan. Ia mendengar suara ombak yang kencang. Tak lama air bah datang.

Sari dan keluarga pun kemudian dievakuasi keluar oleh staf penginapan, dibawa ke tempat yang lebih tinggi, dan diinapkan di masjid dan rumah warga. Keluar dari tempat penginapan, jalan telah tertutup puing warung yang ambruk dan tembok beberapa penginapan yang hancur diterjang air.

Namun Sari beruntung telepon selulernya masih menyala sehingga ia bisa menghubungi keluarga di Jakarta untuk mengabarkan kondisi dirinya dan keluarga. "Sinyal telepon saya sempat hilang sebentar, tapi tak lama kemudian bisa dipakai," kata Sari yang sudah lima tahun menggunakan kartu perdana Simpati dari operator seluler PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), kepada Republika.co.id, Ahad (23/12).

Sari hanya sedikit kerepotan ketika telepon selulernya lowbatt. Ia harus mengantre colokan dengan sejumlah pengungsi lain untuk mengisi baterai telepon selulernya.

Manager Corporate Communication Telkomsel Area Jabotabek Jabar Aldin Hasyim mengatakan, layanan telekomunikasi memang sempat mengalami gangguan akibat tidak adanya pasokan jaringan listrik untuk sejumlah Base Transceiver Station (BTS) di wilayah terdampak. Namun demikian, upaya pemulihan terus dilakukan.

"Telkomsel langsung memasang genset ke sejumlah BTS yang listriknya padam agar layanan komunikasi pulih kembali," ujar Aldin kepada Republika.co.id, Rabu (26/12).

Aldin menekankan, BTS Telkomsel tak terkena air akibat gelombang tinggi tsunami. Hanya beberapa layanan BTS yang tak dapat berfungsi karena padamnya arus listrik dari PLN.

Menurut Aldin, untuk bencana tsunami Banten, kebetulan posisi tower Telkomsel (di atas tower ada BTS) tidak terkena dampak langsung. Ini karena BTS tidak terkena air dan di Banten tak terjadi gempa. "Kemarin down karena aliran listrik dari PLN padam. Kami backup dengan mobilisasi genset pengganti listrik," jelasnya.

Kecepatan memobilisasi genset, lanjut Aldin, adalah salah satu poin penting agar BTS yang down segera normal kembali. "Ini untuk solusi padamnya listrik PLN."

Namun demikian, kata Aldin, ada kalanya pemasangan genset yang sebenarnya tak sulit justru menjadi lama karena biasanya terkendala akses jalan yang putus atau imbauan menjauhi lokasi bencana. "Sehingga tim tidak bisa masuk," ujarnya.

Aldin tak menampik ada permasalahan lain dalam penggunaan genset yakni bahan bakar minyak (BBM) yang cepat habis jika listrik PLN belum juga menyala. Mencari BBM ketika kondisi bencana, sambung dia, juga cukup merepotkan apabila akses ke wilayah itu sedang lumpuh. "Itu kadang yang membuat agak lama untuk membuat BTS hidup," katanya menjelaskan.

Aldin mengaku bencana tsunami Selat Sunda berbeda dengan bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). Di Sulteng, sejumlah BTS rusak. "Nyawa BTS itu ada dua, satu listrik, satu lagi transport (kabel fiber optik (FO)/kabel laut). Kasus Banten kemarin kabel tidak terganggu, yang terganggu hanya listrik."

Adapun di Sulteng, lanjut Aldin, dua-duanya terkena dampak. "Analogi sederhananya seperti itu," jelasnya.

Kecepatan memobilisasi genset, lanjut Aldin, adalah salah satu poin penting agar BTS down segera normal. Adapun untuk solusi padamnya listrik PLN adalah genset dan solusi kedua perbaikan kabel transportnya. "Bahasa teknisnya FO cut fiber, optik putus. Cuma kadang banyak kendala ketika FO cut, jadi nggak bisa sebentar pengerjaannya karena melibatkan perusahaan lain penyedia fiber optik, misalnya Telkom. Nanti Telkom yang akan handle pengerjaan perbaikan FO cutnya. Nyawa lain pengganti FO adalah penggunaan satelit."

GM Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin menyampaikan, layanan komunikasi baik SMS, suara, dan internet dalam kondisi normal di wilayah terdampak bencana tsunami Selat Sunda. "Seratus persen dalam kondisi normal," ujar dia pada Republika.co.id.

Telkomsel pun menurunkan tim Telkomsel Emergency Response dan Recovery Activity (TERRA). Tim ini bertugas mendirikan posko darurat dan mempercepat pemulihan layanan jaringan telekomunikasi. Apalagi beberapa BTS sempat belum berfungsi karena tidak adanya pasokan listrik. “Kami terus fokus untuk memonitor jaringan kami agar layanan telekomunikasi tetap lancar dengan menyiagakan Mobile Backup Power (MBP) sebagai perangkat penunjang catuan listrik," ujar Denny.

Telkomsel juga menyediakan fasilitas telepon gratis di Posko Pengungsian Kantor Camat Labuhan Kabupaten Pandeglang, Posko Pengungsian Kecamatan Angsa Kabupaten Pandeglang, Gedung PGRI Mancak Kabupaten Serang, dan Desa Cugung Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. Perusahaan operator telekomunikasi seluler ini pun memberikan bantuan pangan, obat-obatan, dan tenda pengungsi untuk Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Serang. Telkomsel bersama Rumah Zakat juga memfasilitasi para pelanggan untuk berdonasi melalui UMB *800*01# dan aplikasi T-Cash.

Selalu tanggap bencana

Bukan sekali ini saja PT Telkomsel memastikan membenahi sarana telekomunikasi yang rusak akibat bencana. Telkomsel juga telah berhasil melakukan pemulihan jaringan 100 persen pasca-bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulteng, Jumat (28/9) lalu.

photo
Sejumlah pekerja memperbaiki Base Tranceiver Station (BTS) milik Telkomsel yang terdampak gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10).


Denny bersyukur saat ini layanan komunikasi suara, SMS, dan data Telkomsel sudah kembali normal di wilayah Palu dan Donggala. "Terima kasih pada seluruh pihak yang bekerja keras dan membantu selama masa pemulihan jaringan kami pasca-gempa. Kini masyarakat Palu dan Donggala serta pihak-pihak yang terlibat dalam upaya pemulihan dapat menggunakan layanan komunikasi dengan normal tanpa ada gangguan yang berarti," ujarnya.

Untuk kenyamanan jaringan komunikasi, Telkomsel terus memantau site-site jaringan yang berpotensi mengalami gangguan dengan menyiapkan 218 mobile genset untuk catuan daya dan 3 mobile BTS. Telkomsel juga menyiagakan 200 personel teknis yang ditempatkan di posko-posko monitoring, command center, serta lokasi-lokasi BTS untuk melakukan troubleshoot dan back-up genset

Telkomsel juga telah mengupayakan normalisasi jaringan dengan menggunakan genset mobile untuk kembali mengoperasikan BTS yang terkendala pasokan listrik saat bencana gempa bumi mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, Ahad (5/8) lalu. Akibat guncangan ini, layanan Telkomsel memang sempat mengalami kendala dan tak berjalan optimal di wilayah yang terkena dampak gempa.

Menurut Denny, gangguan ini dialami karena putusnya pasokan listrik yang digunakan untuk mengoperasikan BTS. Adapun BTS yang mengalami gangguan berlokasi di sekitar kawasan Lombok Utara.

Denny menyatakan semua pemulihan BTS yang terkena dampak bencana selama ini memang diusahakan dilakukan dengan cepat. Tujuan akhirnya tak lain agar ketika jaringan komunikasi pasca-bencana pulih, seluruh aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa dan perekonomian kembali bergerak.

Jaringan komunikasi yang lancar memang diperlukan bagi warga terdampak untuk kembali beraktivitas normal, termasuk kembali menjalankan usaha. Seperti kisah salah satu penjual kopi Lombok yang biasa memasarkan kopinya melalui perusahaan e-commerce, Nurul Inayati.

Saat ditemui Republika.co.id di Mataram, Nusa Tenggara Barat, September lalu, Nurul yang rumahnya luluh lantak karena gempa pada 5 Agustus 2018 ini mengaku terbantu dengan jaringan komunikasi Telkomsel yang masih bisa berfungsi pasca-bencana.

"Karena internet masih bisa nyala, saya pun bisa berbisnis secara online, sehingga saya tetap bisa memasarkan produk kopi saya. Ini tentu sangat membantu perekonomian saya setelah bencana gempa," jelas ibu tunggal satu anak ini.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA