Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

BPPT Siapkan Baruna Jaya I Teliti Penyebab Tsunami

Selasa 25 Des 2018 19:30 WIB

Red: Muhammad Hafil

Asap hitam menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018).

Asap hitam menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018).

Foto: Antara/Weli Ayu Rejeki
Ada indikasi tsunami tersebut disebabkan oleh erupsi Anak Krakatau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyiapkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I. Tujuannya,  untuk meneliti penyebab tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada Sabtu (22/12).

"Nanti pakai Baruna Jaya I, karena kapal riset lainnya sedang dipakai di timur (wilayah timur Indonesia). Kami lakukan penelitian geologi dan oseanografi," kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT Hammam Riza melalui sambungan telepon di Jakarta, Selasa (25/12).

Fokus penelitian, menurut Hammam Riza, mencari tahu penyebab tsunami mengingat bencana tersebut tidak didahului gempa tektonik. "Apakah benar ada longsor (di bawah laut)? Karena tidak ada yang terdeteksi sehingga tidak ada peringatan dini apa pun dari BMKG kan," ujar Hammam.

Saat ditanya kapan penelitian tersebut akan dimulai, ia mengatakan segera setelah delapan peneliti geologi dan oseanografi dan enam orang dari tim kapal riset terkumpul.

Sebelumnya ia mengatakan bahwa tim dari Pusat Teknologi Reduksi dan Risiko Bencana (PTRRB) BPPT saat ini sedang melakukan kajian di wilayah terdampak bencana.

Berdasarkan kaji cepat pakar gempa dan tsunami BPPT Widjo Kongko, ada indikasi tsunami tersebut disebabkan oleh erupsi Anak Krakatau.

"Kemungkinan besar terjadi flank failure atau ollapse akibat aktivitas Anak Krakatau pada Sabtu petang (22/12) dan akhirnya menimbulkan tsunami," katanya.

Jika benar hal itu menjadi penyebab, menurut dia, maka fenomena ini diduga masih berpotensi terjadi lagi.

"Aktivitas Anak Krakatau belum selesai dan  "flank" atau `"ollapse" yang terjadi bisa memicu ketidakstabilan berikutnya".

Sesuai arahan BMKG maka diimbau agar masyarakat tetap tenang dan siaga dengan mengikuti instruksi aparat yang berwenang, lanjutnya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA