Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

BI: Ketersediaan Uang Tunai Saat Natal dan Tahun Baru Cukup

Kamis 20 Des 2018 16:19 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Petugas menyiapkan pasokan uang tunai untuk kebutuhan anjungan tunai mandiri (ATM). ilustrasi (Dok Republika)

Petugas menyiapkan pasokan uang tunai untuk kebutuhan anjungan tunai mandiri (ATM). ilustrasi (Dok Republika)

BI memprediksi ada kenaikan permintaan uang tunai 10,3 persen dari tahun 2017

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memastikan ketersediaan uang tunai menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 cukup di pasar. Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan kelancaran sistem pembayaran tetap terpelihara, baik dari sisi tunai maupun sisi nontunai.

Baca Juga

Di sisi pembayaran tunai atau pengelolaan uang Rupiah, posisi uang yang diedarkan (UYD) meningkat 7,3 persen secara yoy di November 2018. Ini seiring dengan peningkatan musiman untuk kebutuhan uang menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

Deputi Gubernur BI, Rosmaya Maya telah memastikan kecukupan uang di wilayah. Menurutnya, ada prediksi kenaikan sebesar 10,3 persen dari tahun lalu yakni Rp 91,7 triliun menjadi Rp 101,1 triliun. Mayoritas uang tunai tersebar di Jawa.

"Ini sebaran wilayahnya untuk Jawa di luar kantor pusat Jabodetabek sebesar Rp 28,4 triliun dengan pangsa pasar 28,1 persen, untuk Jabodetabek sebesar Rp 23,4 triliun dengan pangsa pasar 23,2 persen," kata dia dalam konferensi pers di Kompleks BI, Kamis (20/12).

Sementara untuk untuk wilayah timur Indonesia sebesar Rp 28,1 triliun dengan pangsa 27,7 persen. Sumatra sebesar Rp 21,2 triliun dengan pangsa pasar 21 persen. Sebanyak 98 persen dari total beredar dalam pecahan uang besar Rp 20 ribu ke atas.

Perry memastikan jumlah tersebut akan cukup memenuhi kebutuhan pasar. Namun ia menyarankan agar masyarakat lebih menggunakan nontunai. "Sebaiknya transaksi menggunakan debit, kredit, uang elektronik, agar lebih cepat dan efisien," katanya.

Kalau pun harus menggunakan uang kartal, maka BI mengingatkan untuk menggunakannya dengan baik. Seperti tidak melipatnya, mencoret, membahasi, atau meremasnya hingga lecek. Ia mengingatkan biaya mencetak uang kartal sangat mahal.

Dengan menjaganya baik-baik maka masa berlaku uang akan lebih lama. Sebaliknya, uang yang rusak akan cepat dihancurkan dan harus mencetak uang baru untuk menjaga ketersediaan di pasar agar ekonomi dan nilai tukar Rupiah stabil.

Di sisi pembayaran nontunai nilai besar, nilai transaksi yang diselesaikan melalui transaksi BI Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada November 2018 sedikit menurun sebesar 1,7 persen (yoy). Sementara pada sistem pembayaran ritel, rata-rata harian nominal kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) tumbuh 9,7 persen (yoy) pada November 2018.

Jumlah ini meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 6,7 persen (yoy). Ada pun transaksi masyarakat menggunakan ATM-Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik tumbuh 13,2 persen (yoy) pada Oktober 2018.

"Bank Indonesia akan terus memastikan kelancaran dan ketersediaan sistem pembayaran nasional, baik terhadap sistem yang dioperasikan oleh Bank Indonesia maupun yang diselenggarakan oleh industri, termasuk menjamin keamanan dan kelancaran sistem pembayaran menjelang akhir tahun," tutup Perry.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA