Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Indef: Tekanan Terhadap CAD Meniingkat di Akhir Tahun

Rabu 19 Des 2018 23:59 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati

Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati

Foto: ROL/Havid Al Vizki
Enny menyatakan pemerintah perlu mengembangkan pusat logistik seperti di Batam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan tekanan terhadap defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) cenderung meningkat pada akhir tahun. 

Enny menyebut tekanan terhadap CAD pada Desember 2018 meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya karena banyaki warga masyarakat berlibur ke luar negeri atau melakukan transfer repatriasi devisa. Ia menilai CAD masih menjadi momok utama bagi stabilitas sistem keuangan, terutama dari sisi pengaruhnya ke nilai tukar mata uang.

CAD harus dicarikan solusinya yang menjawab persoalan fundamental dan struktural, bukan upaya yang bersifat responsif dan jangka pendek. Ketika ditanya mengenai pengaruh tekanan CAD terhadap rupiah, Enny mengatakan bahwa penguatan rupiah yang terjadi belakangan ini bukan berasal dari perbaikan pada faktor fundamentalnya.

"Kalau menyadari bahwa yang terjadi buka kontribusi dari sektor fundamental, maka harus ada antisipasi untuk menyelesaikan problem itu dari strategi yang lain," ujar dia.

Selain itu, Enny juga memandang bahwa impor barang juga berkontribusi terhadap pelebaran neraca transaksi berjalan. Menurut catatan BPS, struktur impor Indonesia menurut penggunaan barang pada November 2018 didominasi bahan baku sebesar 76,16 persen dari total impor 16,88 miliar dolar AS atau sekitar 12,86 miliar dolar AS.

Sementara struktur impor berikutnya yaitu barang modal sebesar 15,35 persen (2,59 miliar dolar AS) dan barang konsumsi 8,49 persen (1,43 miliar dolar AS).

Secara tahunan atau perubahan November 2018 terhadap November 2017, impor barang konsumsi meningkat 6,79 persen, bahan baku meningkat 15,56 persen dan barang modal menurun 2,13 persen.

"Kalau impor (barang konsumsi) masih besar, maka industri harusnya tumbuhnya tidak di bawah ekonomi nasional. Kalau benar impor barang konsumsi meningkat, juga berpotensi industri dan sektor riil bisa terdampak negatif," kata Enny.

Ia juga menilai sektor jasa merupakan persoalan fundamental dan struktural yang berkontribusi besar terhadap pelebaran defisit neraca transaksi berjalan.

"Di antaranya jasa transportasi yang melayani kegiatan perdagangan internasional. Kalau pemerintah mau menyelesaikan secara komprehensif, perlu mulai mendesain apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan dari defisit neraca jasa," kata Enny ditemui usai sebuah diskusi di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah yang bisa dilakukan pemerintah adalah pengembangan pusat logistik nasional, misalnya di Batam. Apabila impor hanya sampai ke Batam, maka pelayaran di dalam negeri tidak perlu pakai jasa transportasi asing.

"Itu akan menyelesaikan defisit neraca jasa secara signifikan. Jadi yang melayani impor jasa di perairan dalam negeri adalah pelayaran domestik dan kontribusi menekan CAD akan signifikan," ujar Enny. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA