Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

KH Ma'ruf Ingatkan Kiai Banten Sejarah Bangsa

Ahad 16 Dec 2018 19:00 WIB

Red: Indira Rezkisari

Cawapres yang juga Ketua MUI KH Maruf Amin

Cawapres yang juga Ketua MUI KH Maruf Amin

Foto: Antara/Asep Fathulrahman
Sejarah mencatat santri ikut memperjuangkan kemerdekaan dan menjadi pemimpin.

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut satu, KH Ma'ruf Amin, mengajak para kiai Banten untuk kembali mengingat sejarah bangsa. Menurutnya, belajar dari sejarah sangat penting.

"Kita harus belajar dari sejarah, bagaimana para pendahulu kita membangun kesepakatan, mitsaq. Berupa NKRI dan Pancasila. Nabi sendiri pernah melakukan mitsaq, kesepakatan untuk kedamaian Madinah," kata KH Ma'ruf Amin dalam Silaturahmi Nahdliyin Kabupaten dan Kota Serang, serta Kota Cilegon, di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata) Serang, di Serang, Ahad (16/12).

Di Indonesia, menurut KH Ma'ruf, para ulama juga menjaga negara ini dengan luar biasa. Ketika Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus, beberapa bulan kemudian, di bulan Oktober, Belanda dan Sekutu ingin merebut Indonesia. Para ulama yang dipimpin Rais Akbar mengeluarkan Resolusi Jihad yang melahirkan semangat Umat Islam untuk melawan penjajah  Belanda.

"Ulama kita telah membangun kesepakatan tentang konsep dan dasar Negara ini. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila. Kita harus menaati dan menjaga kesepakatan itu. Jika dilihat dari isi Pancasila,  apa negara ini islami, ya tentu Indonesia ini negara kebangsaan yang bertauhid, karena ada Sila Ketuhanan yang Maha Esa," katanya.

KH Ma'ruf juga mengingatkan para Nahdliyin untuk tidak kagetan. Terbawa arus opini yang mendegradasi santri dan kiai seolah santri dan kyai tak layak jadi pemimpin, tak layak jadi politikus dan memimpin birokrasi.

"Santri itu bisa jadi apa saja. Zaman dulu, Bupati dan Wedana itu Kyai, di Serang ada Kyai Sjam'un, Kiai Abdul Halim Bupati Pandeglang.

Sekarang banyak juga santri dan kiai jadi kepala daerah. Jawa Barat dipimpin oleh kiai, wakil gubernurnya kiai. Jawa Tengah wakil gubernur juga kiai, putranya Mbah Moen. Jawa Timur juga dipimpin Nyai Khofifah, seorang santriwati. "Gus Dur juga pernah jadi Presiden. Jadi kalau kiai dipilih jadi Wakil Presiden, bukan hal aneh," kata KMA.

Karena itu, KH Ma'ruf pun mengajak masyarakat untuk membantah tudingan bahwa dipilihnya dia sebagai Cawapres oleh Presiden Joko Widodo hanya akan jadi alat. "Masa saya jadi alat. Saya tentu paham politik. Sebab sejak muda saya sudah jadi anggota DPRD DKI, menjadi anggota DPR-MPR, menjadi Dewan Pertimbangan Presiden dua periode, menjadi Rais Amm PBNU, Ketua MUI, masa bisa diperalat. Saya menerima tawaran menjadi Wapres adalah untuk memperjuangkan kemaslahatan bangsa ini," katanya.

Upaya pembelaan terhadap umat, dilakukan sejak lama dan banyak mendapat respons positif di era Presiden Jokowi. "Saya pernah usul kepada Pak Jokowi, ekonomi Islam itu sangat penting bagi umat, sekaligus juga potensial untuk meningkatkan ekonomi nasional. Di antaranya adalah konsep bagi hasil. Kemudian Pak Jokowi setuju membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah. Saya usulkan juga agar Presiden langsung yang menjadi ketua komitenya," kata KH Ma'ruf Amin.

Dalam kesempatan lain, KH Ma'ruf juga meminta Pemerintah untuk perhatian kepada pesantren, yang kemudian direspons menjadi RUU Pesantren.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA