Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wall Street Jatuh Dipicu Kekhawatiran Pertumbuhan Global

Sabtu 15 Des 2018 09:40 WIB

Red: Friska Yolanda

Wall Street

Wall Street

Foto: AP Photo/Richard Drew
Laporan perusahaan juga turun mengerek bursa saham ke zona merah.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Bursa saham Wall Street turun tajam pada penutupan perdagangan Jumat (14/12) waktu setempat karena kekhawatiran investor meningkat atas kemungkinan perlambatan ekonomi global dan sejumlah berita perusahaan negatif.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 496,87 poin atau 2,02 persen, menjadi berakhir di 24.100,51 poin. Indeks S&P 500 berkurang 50,59 poin atau 1,91 persen menjadi ditutup di 2.599,95 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir 159,67 poin atau 2,26 persen lebih rendah, menjadi 6.910,66 poin.

Dow merosot lebih dari 550 poin pada level terendahnya selama sesi dan menukik ke penutupan terendahnya sejak Mei. S&P 500 jatuh ke tingkat penutupan terendah sejak April. Semua 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih rendah, dengan sektor kesehatan dan teknologi masing-masing turun 3,37 persen dan 2,48 persen, memimpin pelambatan.

Setelah aksi penjualan yang tajam pada Jumat (14/12), indeks teknologi berat Nasdaq sekarang hanya naik 0,11 persen untuk tahun ini. Indeks Volatilitas CBOE, yang secara luas dianggap pengukur ketakutan terbaik di pasar saham, naik 4,75 persen menjadi 21,63 pada Jumat (14/12).

Pasar global berada dalam mode "risk-off" atau penghindaran risiko. Investor hanya mencoba untuk membatasi kerusakan kinerja daripada mencapai kinerja lebih baik, menurut beberapa analis.

Baca juga, Bedak Bayi Johnson Dituding Mengandung Asbestos

"Para pedagang menjual kembali saham-saham yang diperdagangkan menguntungkan sebelum penutupan tahun ini. Tidak ada volume yang besar dalam perdagangan saham hari ini, jadi itu berarti ada lebih sedikit perlawanan terhadap tekanan dari penjual hari ini," kata John Monaco, seorang pedagang di Wellington Shields & Co LLC.

Sementara itu, dolar AS yang kuat juga memperumit situasi. Dolar AS naik pada akhir perdagangan Jumat (14/12).

Wall Street juga mencerna banyak berita perusahaan. Saham Johnson & Johnson, anggota Dow, anjlok lebih dari 10 persen pada Jumat setelah Reuters melaporkan bahwa perusahaan tahu tentang asbes dalam produk bedak bayinya selama beberapa dekade. Saham Apple merosot 3,2 persen setelah analis top dari TF International Securities memangkas estimasi pengiriman iPhone hingga 20 persen.

Di sisi ekonomi, penjualan ritel AS meningkat 0,2 persen bulan lalu, dipimpin oleh toko daring (online), Departemen Perdagangan mengatakan pada Jumat. Angka ini mengalahkan ekspektasi pasar. Sementara itu, produksi industri AS naik 0,6 persen pada November, melampaui perkiraan pasar karena peningkatan di pertambangan dan utilitas mengimbangi penurunan dalam manufaktur, menurut Federal Reserve.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA