Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Fikir Air dan Siaga Banjir

Sabtu 08 Dec 2018 11:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Hujan lebat mengakibatkan genangan air/ilustrasi

Hujan lebat mengakibatkan genangan air/ilustrasi

Foto: wikipedia
Sejumlah kota di Indonesia rawan banjir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia tergolong kaya sumber daya air. Pada musim hujan seperti sekarang, hampir setiap hari hujan turun dengan intensitas ringan sampai lebat, bahkan airnya melimpah. Limpahan air hujan itu terkadang menyebabkan banjir.

Ibu Kota DKI Jakarta termasuk kota rawan terdampak banjir, baik karena hujan lokal maupun kiriman dari kawasan Bogor dan Puncak. Air yang sejatinya anugerah Allah SWT, berubah menjadi musibah merugikan dan menimbulkan banyak korban.

Akibatnya, lalu lintas semakin macet, energi banyak terbuang sia-sia, waktu, tena ga, dana terkuras untuk mengatasinya. Layanan masyarakat tidak maksimal. Pengguna lalu lintas dibuat stres dan terlambat sampai tempat kerja atau sampai rumah.

Banjir DKI tidak hanya menjadi ancaman kemanusiaan yang sangat serius, tetapi juga merupakan 'langganan rutin' yang tidak bisa dielakkan, karena menjadi lintasan dan mua ra sungai dari Puncak dan Bogor.

Salah satu penyebab banjir Jakarta ka rena buruknya kondisi hutan di kawasan hulu, yaitu Cisarua, Jawa Barat. Dari 30 persen lahan ideal untuk kawasan hutan, saat ini hanya tersisa 9,5 persen. Agar tidak menjadi musibah, sumber daya air harus dikelola de ngan baik.

Maka itu, kesadaran dan komitmen bersama mengelola dan menabung air menjadi salah satu solusi mengatasi banjir. Bahkan, menabung air sejatinya tidak sulit sebab hampir semua warga bisa melakukannya.

Karena itu, pemahaman tentang air atau fikih air sangat penting demi terwujudnya tata kelola air yang bermaslahat bagi semua. Esensi fikih air adalah pemahaman tentang hukum, siklus, fungsi, karakter, dan mana je men pendayagunaan air.

Melalui fikih air, minda warga perlu di ubah dari paradigma lama yang disharmoni dengan air, seperti membuang sampah sem barangan ke arah paradigma baru bahwa ekosistem itu sangat menentukan kualitas hidup manusia.

Artinya, jika lingkungan rusak (tidak se hat, tidak bersih, tidak indah, tidak nyaman), rusaklah kehidupan manusia, termasuk sum ber daya air di perut bumi ini.

Akibat pemanasan global dan Siklon Cempaka, misalnya, perubahan cuaca menjadi sangat ekstrem dari panas menyengat, lalu tetiba turun hujan lebat disertai angin puyuh, tanah longsor, banjir bandang.

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA