Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Menara Eiffel Ditutup Jelang Protes Susulan

Jumat 07 Dec 2018 18:36 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Esthi Maharani

Demonstran rompi kuning Prancis.

Demonstran rompi kuning Prancis.

Foto: AP
Pihak berwenang kembali bersiap menghadapi kerusuhan dalam demonstrasi kali ini.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS - Menara Eiffel dan sejumlah lokasi wisata di Paris akan ditutup menjelang kembali terjadinya aksi protes anti-pemerintah 'rompi kuning' pada Sabtu (8/12). Polisi juga telah mendesak toko-toko dan restoran, serta beberapa museum, di Champs-Elysees untuk tutup.

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan, pihak berwenang kembali bersiap menghadapi kerusuhan dalam demonstrasi kali ini. Para aktivis sayap kanan dan kiri telah merencanakan untuk berkumpul kembali di ibu kota.

Operator Menara Eiffel mengatakan ancaman kekerasan dalam aksi protes tidak memastikan kondisi keamanan yang memadai. Terlebih dalam kerusuhan pekan lalu, demonstran telah merusak bangunan terkenal Arc de Triomphe.

Menteri Kebudayaan Prancis, Franck Riester, mengatakan museum Louvre dan Orsay, gedung opera, dan kompleks Grand Palais merupakan situs-situs yang akan ditutup. "Kami tidak bisa mengambil risiko ketika kami tahu ancamannya," kata dia.

Serangkaian pertandingan sepak bola pada Sabtu (8/12) juga telah ditunda. Pertandingan yang ditunda di antaranya, Paris vs Montpellier, Monako vs Nice, Toulouse vs Lyon, dan Saint-Etienne vs Marseille.

Pada Sabtu (1/12) lalu, Paris telah mengalami kerusuhan terburuk dalam beberapa dekade. Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe mengumumkan, untuk menghadapi aksi protes pekan ini, sebanyak 89 ribu petugas polisi akan dikerahkan di seluruh Prancis.

Dalam wawancara dengan saluran TV TF1, Philippe mengatakan, di Paris saja, 8.000 polisi akan dikerahkan bersama puluhan kendaraan lapis baja. "Kami menghadapi orang-orang yang bukan untuk memprotes, tetapi untuk menghancurkan, dan kami ingin memiliki sarana untuk tidak memberi mereka kebebasan," ujar Philippe, dikutip BBC.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA