Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Darmin: Rupiah Bisa Menguat ke Level Rp 13.700 per Dolar AS

Rabu 05 Dec 2018 20:05 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Teguh Firmansyah

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi XVI di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi XVI di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Darmin menyebut nilai tukar saat ini belum sesuai dengan fundamental rupiah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksikan, nilai tukar rupiah masih bisa menguat hingga ke level Rp 13.700 per dolar AS. Menurut Darmin, posisi nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ini yang berada di kisaran Rp 14.200 hingga Rp 14.300 per dolar AS belum menunjukkan nilai fundamental rupiah.

"Saya menduga dia (rupiah) masih bisa tumbuh ke Rp 13 ribuan kalau didorong dengan baik. Walaupun, tidak bisa Rp 13.500 per dolar AS. Mungkin, di sekitar Rp 13.700 sampai Rp 13.800 per dolar AS," kata Darmin dalam paparan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019 di Jakarta, Rabu (5/12).

Darmin menjelaskan, pemerintah saat ini tengah berupaya memperbaiki tingkat defisit neraca transaksi berjalan (CAD)yang pada kuartal III 2018 mencapai 8,85 miliar dolar AS atau menembus level 3,37 persen terhadap PDB.

Baca juga,  Kurs Rupiah Ditutup Melemah 111 Poin.

Namun, kata Darmin, tantangan tahun ini bukan hanya memperbaiki CAD melainkan juga memperbaiki neraca transaksi modal dan finansial yang hanya surplus sebesar 4,2 miliar dolar AS. Dengan demikian, surplus tersebut tidak mampu menutupi CAD.

Darmin mengatakan, upaya memperbaiki CAD tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sehingga, untuk jangka pendek pemerintah berupaya memperbaiki kepercayaan pasar untuk mendorong aliran modal masuk dan menambah surplus neraca modal dan finansial.

"Sebenarnya aliran modal sudah mulai masuk dan itu diikuti Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga. Kemudian kita mengeluarkan paket kebijakan ekonomi ke-16. Itu untuk mendorong (arus modal masuk)," kata Darmin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA