Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Kasus Pembunuhan 31 Pekerja di Papua, Egianus Kogoya Disebut

Selasa 04 Des 2018 16:41 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Andri Saubani

Pemandangan Jalur Trans Papua di ruas jalan Wamena-Habema, Papua, Selasa (9/5).

Pemandangan Jalur Trans Papua di ruas jalan Wamena-Habema, Papua, Selasa (9/5).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Wilayah lokasi pembunuhan sama dengan kasus pemerkosaan guru di Distrik Mependuma.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang dipimpin Egianus Kogoya diduga sebagai dalang pembunuhan 31 pekerja di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. Wilayah lokasi kejadian pembunuhan tersebut tak jauh dari lokasi penganiayaan dan pemerkosaan terhadap guru di Distrik Mapenduma, Kabupaten Nduga, Papua, beberapa waktu lalu.

"Iya betul (dalangnya Egianus Kagoya), kita identifikasi itu. Dia yang melakukan penganiayaan terhadap guru dan tenaga kerja yang ada di Mapenduma. Nah Mapenduma dan ini tetangga kampung," jelas Kapendam Cenderawasih XVII, Kolonel Inf Muhammad Aidi, di Jakarta, Selasa (4/12).

Daerah tersebut, kata Aidi, termasuk daerah yang terisolasi selama ini, daerah yang dijadikan basis pergerakan oleh KKSB. Ia menduga, mereka melancarkan aksi-aksinya karena di daerah tersebut dilakukan pembangunan jalan untuk membuka isolasi selama ini.

"Dengan adanya pembangunan jalan yang membuka isolasi tersebut, mungkin mereka merasa terusik dengan kehadiran TNI yang ada di tempat tersebut. Sehingga mereka melakukan aksi-aksi," tuturnya.

Ia juga menduga, hal tersebut merupakan salah satu motif dari pembunuhan terhadap 31 pekerja di Distrik Yigi. KKSB, kata dia, merasa perjuangannya dapat terhambat jika dilakukan pembangunan yang akan berdampak pada kesehahteraan masyarakat di sana.

"Semakin banyak masyarakat yang pro terhadap negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mereka merasa terhambat perjuangannya dan meneror masyarakat yang ada di sana," kata dia.

Aidi menerangkan, KKSB memang memiliki senjata api. Namun, ia mengaku pihaknya tak tahu secara pasti berapa pucuk senjata yang KKSB miliki. Berdasarkan data dari laporan intelijen yang ia terima, beberapa senjata api yang KKSB miliki merupakan hasil rampasan dari TNI-Polri yang mereka serang.

"Sebagian juga yang selama ini berhasil kita sita senjatanya pada saat kontak tembak ada yang indeks TNI-Porli, ada juga yang bukan indeks TNI-Polri, artinya berasal dari luar (Papua)," tuturnya.

Tetapi, lanjut Aidi, pihaknya tidak bisa memastikan senjata dari luar itu berasal dari negara atau daerah mana. Ia menuturkan, memang tidak semua negara memiliki produksi senjata, tapi semua negara memiliki angkatan bersenjata.

"Jadi bisa dari mana saja senjata-senjata itu," sambungnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA