Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Modric, Sang Penghenti Dominasi Ronaldo-Messi

Selasa 04 Des 2018 15:06 WIB

Red: Joko Sadewo

Israr Itah

Israr Itah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Modric mengirimkan pesan sarat makna di panggung penghargaan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Israr Itah*

Grand Palais, Paris, Prancis, menjadi saksi terciptanya sejarah baru. Senin (3/12) malam waktu Paris, nama Luka Modric diumumkan sebagai pemenang Ballon D'Or 2018. Tepuk tangan riuh membahana menyambut kehadiran sosok baru di atas panggung penghargaan yang digagas oleh majalah France Football tersebut.

Kehadiran Modric telah lama dinanti. Sebab dalam 10 tahun ke belakang, sebagian pecinta sepak bola dunia sepertinya 'bosan' disuguhkan dua wajah bintang yang bergantian meraih trofi individual bergengsi untuk pesepak bola sejagat tersebut, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Terlebih dalam beberapa edisi, kemenangan Ronaldo dan Messi menuai kontroversi. Keduanya dianggap menang karena kharisma dan nama besar. Wajar karena pemenang Ballon D'Or ditentukan oleh pilihan para jurnalis perwakilan negara dari seluruh dunia. Ada unsur subjektivitas yang cukup kental di sana. Meskipun sudah ada kriteria yang ditetapkan bagi para jurnalis dalam menentukan pilihan dari 30 nama yang sudah diseleksi pihak France Football.

Pertama, pemain yang dipilih harus punya prestasi atau performa yang bisa dikategorikan level atas dalam tahun tersebut. Kemudian, ada penilaian talenta dan fair play. Berikutnya, aspek kiprah sang pemain sepanjang tahun itu.

Hal serupa terjadi saat France Football masih bekerja sama dengan FIFA dalam penghargaan bertajuk FIFA Ballon d'Or. Selain jurnalis, kapten tim dan pelatih dari seluruh anggota FIFA menjatuhkan pilihannya. Tak ada yang bisa menjamin pilihan mereka dilakukan dengan pertimbangan matang dan seobjektif mungkin.

Contoh yang paling nyata misalnya terjadi pada 2015. Roy Hodgson yang menjadi pelatih timnas Inggris saat itu memilih Javier Mascherano, Philip Lahm, dan Manuel Neuer sebagai kandidat peraih penghargaan. Pertimbangannya mungkin, Mascherano berkontribusi besar Barcelona yang memenangi La Liga dan Liga Champions pada tahun itu. Pada akhirnya, Messi-lah yang meraih penghargaan bergengsi itu.

Piala Dunia membantu Modric

Tidak bisa dimungkiri, Modric merupakan motor penggerak Real Madrid. Pelatih boleh datang dan pergi, namun tempat pria 33 tahun ini sebagai pengatur serangan Los Blancos tak tergantikan. Tapi Modric 'tak beruntung' harus satu tim dengan Ronaldo. Sederet kesuksesan Madrid di kompetisi lokal, Eropa, maupun Piala Dunia Antarklub selalu diidentikkan dengan kesuksesan Ronaldo. Jadilah ia hanya bisa memberikan selamat kepada sang rekan setiap tampil dalam ajang penghargaan individual bergengsi seperti Ballon d'Or atau Pemain Terbaik FIFA.

Tapi kali ini berbeda. Modric yang tak pernah sekali pun masuk tiga besar langsung menyabet trofi Ballon d'Or 2018. Aksi impresif di Piala Dunia 2018 berkontribusi besar dalam kesuksesannya meraih gelar ini. Kroasia lolos ke 16 besar sebagai juara Grup D, di antaranya dengan mempermalukan Argentina yang diperkuat Messi dengan skor 3-0. Modric ikut menyumbang gol kemenangan.

Kroasia kemudian menyingkirkan Denmark dengan skor 3-2 lewat adu penalti pada babak 16 besar. The Blazers melaju ke semifinal setelah kembali menang lewat adu penalti 4-3. Modric dan rekan-rekan akhirnya sampai di partai puncak setelah menaklukkan Inggris 2-1 lewat babak perpanjangan waktu.

Kroasia memang kalah 2-4 di partai puncak. Tapi langkah the Blazers menuju final mengejutkan banyak pihak. Terlebih para pemain yang sudah berumur harus melalui laga melelahkan dengan melewati babak perpanjangan waktu.

Modric yang menjadi orkestrator permainan Kroasia mendapatkan berkah dari pencapaian ini. Ia mendapatkan gelar Pemain Terbaik Piala Dunia 2018, meneruskan tradisi unik sejak 2006 bahwa pemain bernomor 10 dari tim runner-up yang akan mendapatkan penghargaan ini.

Agustus 2018, Modric kemudian menyabet gelar Pemain Terbaik UEFA. Sebulan berselang, giliran trofi Pemain Terbaik FIFA ada dalam genggamannya. Tahun 2018 ini dipungkasinya dengan menyabet gelar Ballon d'Or.

Modric meraih total poin 753, unggul jauh dari mantan rekannya Ronaldo yang mengoleksi nilai 476. Antoine Griezmann berada di posisi ketiga dengan nilai 414. Jika dibagi berdasarkan konfederasi, Modric unggul di Concacaf, Eropa, Asia, dan Afrika. Ia hanya kalah di Amerika Selatan yang menempatkan Griezman di atas.  Sementara di Oseania, Ronaldo mengumpulkan nilai sama dengan Kylian Mbappe.

Pesan sarat makna

Dalam sambutannya di panggung penghargaan, Modric mengirimkan pesan sarat makna. "Trofi ini saya persembahkan untuk para pemain yang mungkin layak memenangkannya tapi ternyata tidak," kata dia setelah menerima penghargaan.

Boleh jadi, komentar ini menjadi kritik bagi proses penjurian trofi Ballon d'Or yang terlalu menilai berlebihan Ronaldo dan Messi. Di sisi lain, bisa juga pria kelahiran Zadar ini berusaha menghibur Antoine Griezmann yang jauh-jauh hari menunjukkan ambisinya untuk juara. Bisa pula, ia menghormati para pesepak bola top dunia yang sebelumnya gagal meraih penghargaan ini meskipun punya cukup syarat mendapatkannya. Sebut saja Andres Iniesta dan Xavi Hernandez yang meraih gelar juara Piala Dunia 2010, tapi harus merelakan trofi Ballon d'Or kepada rekan satu timnya, Messi.

Apa pun, ini menjadi sinyal bahaya bagi Ronaldo dan Messi yang dikirimkan oleh Modric, sang penyintas Perang Balkan.  Sosok pemalu yang besar dengan desingan peluru dan ledakan bom ini akhirnya mewujudkan mimpi menjadi pemain terbaik dunia.

Saya tak berpikir ini benar-benar menjadi akhir era Ronaldo dan Messi. Sebab keduanya masih punya beberapa tahun emas ke depan. Ronaldo berusia 33 tahun dan Messi baru 31. Keduanya lebih muda dari Modric yang berjaya tahun ini.

CR7 kemungkinan besar akan menjuarai Serie A bersama Juventus musim ini. Jika dia mampu meraih trofi Liga Champions bersama Nyonya Tua, peluang untuk meraih Ballon d’Or tetap terbuka tahun depan. Apalagi jika Ronaldo tampil memperkuat Portugal pada empat besar Liga Bangsa-Bangsa. Gelar juara turnamen baru gagasan UEFA ini bisa menjadi nilai tambah untuknya.

Sementara Messi harus bisa kembali membawa Barcelona tampil konsisten. Gelar juara La Liga masih terbuka, namun trofi Liga Champions bakal sulit melihat performa Barcelona yang angin-anginan separuh musim ini. Musim Messi bisa diselamatkan jika ia kembali ke timnas Argentina dan membawa Tim Tango juara Copa America.

Ronaldo dan Messi harus bisa menjaga performa puncak. Sebab pemain seperti Griezmann, Neymar, dan Kylian Mbappe siap benar-benar menghentikan dominasi keduanya di pentas penghargaan individual pesepak bola terbaik dunia. Bagaimana menurut Anda?


*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA