Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Menjaga Alam Tetap Lestari Bentuk Ibadah yang Mulia

Senin 03 Dec 2018 21:43 WIB

Red: Agung Sasongko

Warga menyelam untuk mengambil sampah di terumbu karang taman laut. ilustrasi

Warga menyelam untuk mengambil sampah di terumbu karang taman laut. ilustrasi

Foto: Antara/Adiwinata Solihin
Pemeliharaan dan pelestarian lingkungan kini menjadi keharusan tak terelakkan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah menciptakan alam beserta isinya untuk dipergunakan dan diambil manfaatnya oleh manusia. Alam itu merupakan ruang hidup yang teratur dalam bentuk yang serasi dan selaras dengan kepentingan mereka.

Namun, manusia memiliki kecenderungan merusak ekosistem alam. Kerusakan yang terjadi pada alam, hakikatnya, akibat ulah manusia yang telah merusak keseimbangan itu. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Ruum [30]: 41).

Padahal, semestinya keserasian dan keselarasan itulah yang perlu terus dipelihara agar tercipta apa yang diistilahkan Alquran dengan keseimbangan (al mizan). Konsistensi dan komitmen memelihara alam itu agar terhindar dari bencana di jagat raya. Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS ar-Rahman [55]: 7-9).

Dalam buku Ensiklopedi Muhammad disebutkan, Rasulullah menunjukkan kesadaran cara pandang terhadap alam ini dalam banyak bentuk. Nabi pernah menyatakan sebuah ungkapan rasa perhatian terhadap Gunung Uhud sebagai salah satu bagian kecil dari alam: innahu yuhibunna wu nuhibbuhu, sesungguhnya ia (Uhud) mencintai kita, begitu pula sesungguhnya kita mencintainya.

Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Adalah Abu Darda’, sahabat yang pernah dijuluki sebagai prajurit berkuda terbaik di Perang Uhud oleh Rasulullah itu, pernah menceritakan bagaimana para sahabat mendapatkan pelajaran dan pendidikan tentang pemanfaatan dan penge lolaan sumber daya alam.

Rasulullah menekankan agar bercocok tanam dan menghijaukan kembali tanah-tanah mati. Oleh tokoh ulama terkemuka masa kini, Syekh Yusuf Al Qaradhawi, ikhtiar penghijauan tersebut di kategorikan sebagai amalan yang mendatangkan pahala. Dan, memakmurkan bumi adalah ibadah mulia di sisi-Nya.

Dalam kitab monumentalnya— Muqaddimah—Ibnu Khaldun mengatakan, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan kini menjadi keharusan tak terelakkan bagi segenap umat manusia di muka bumi. Bila alam terjaga dan terpelihara, maka secara langsung akan memberikan dampak positif bagi kelangsungan dan keseimbangan hidup.

Hal inilah yang mendorong Umar Bin Khattab mengeluarkan ketetapan tentang pengelolaan lahan mati. Keputusan yang ia ambil tersebut merujuk pada hadis-hadis terkait penghidupan kembali lahan mati (ihya’ al mawat).

Pesan Rasulullah

Bila ditelusuri teks-teks hadis Rasulullah, akan didapati sejumlah riwayat yang memuat perintah menjaga alam dan melarang perusakan lingkungan. Hadis itu, antara lain, pertama, hemat meng guna kan air. Anjuran berhemat air ini antara lain terlihat dalam penggunaan air untuk ber suci dari hadas, baik kecil mau pun besar. Rasulullah me minta agar tidak boros air saat wudhu, cukup satu mud (1,5 liter menurut takaran Hijaz dan dua liter sesuai ukur an orang Irak). (HR Mutta faq’alaih). Sedangkan, mandi hendaknya tak lebih dari lima mud.

Kedua, jangan mengotori dan merusak tempat umum atau alam yang dibutuhkan banyak orang, seperti air, udara, dan tanah. La rangan ini sebagaimana tertuang di hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Kedua riwayat itu me nya takan, Rasulullah meminta ber hati-hati terhadap dua kutukan (riwayat lainnya menyebut tiga), yaitu membuang hajat di tengah jalan atau di tempat orang yang berteduh. Riwayat lain menyebut tempat sumber air.

Ketiga, hendaknya tidak merusak tanaman dengan memotong dahannya tanpa manfaat dan atau menoreh kulit batangnya. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang memotong pohon bidadara, maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam neraka.” (HR Abu Dawud). Pohon bidadara itu merupakan jenis pepohonan besar dan rindang. Selain berguna sebagai penyerap air, bidadara juga bermanfaat untuk berteduh. Dalam konteks kekinian, perusakan tanaman yang memiliki kriteria serupa bisa dianalogikan, misalnya, dengan aktivitas perusakan hutan atau daerah resapan air. Misalnya, membangun vila atau tempat tinggal di kawasan hijau dan resapan air.

Keempat, menggalakkan re boisasi atau penghijauan kembali lahan tandus. Kegiatan tersebut akan mendatangkan banyak man faat. Penanaman kembali pohonpohon di tanah kosong berguna untuk kelangsungan ekosistem. Dengan menaman pepohonan itu, maka bermanfaat meresap air dan mengurangi risiko banjir dan tanah longsor. Bukan mustahil bila dikelola secara baik bisa meraup hasil yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala.” (HR Ahmad).

sumber : D
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA