Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Kisah Dua Orang Sakti Majapahit di Kaki Gunung Rinjani

Senin 03 Dec 2018 09:42 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Menikmati  Gunung Rinjani dari Bukit Pergasingan, Sembalun, Lombok.   (Republika/ Wihdan Hidayat)

Menikmati Gunung Rinjani dari Bukit Pergasingan, Sembalun, Lombok. (Republika/ Wihdan Hidayat)

Foto: Republika/ Wihdan
Raden Arya Pati dan Raden Arya Mangunjaya berada di Lombok 700 tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, Kebesaran Majapahit memang melegenda hingga seantero Nusantara, bahkan ke mancanegara, ketika itu. Di nusantara, Majapahit juga terungkap menancapkan jejaknya di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. 

Nama tempatnya Sembalun Lawang. Lokasinya tepat berada di kaki Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mpdl), Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. 

Dengan dikelilingi bukit yang menjulang tinggi dan punggungan gunung yang hanya ditutupi padang sabana sehingga tidak malu-malu lagi menampakkan kekekaran dan kemolekkan tubuhnya, untuk ditonton oleh siapa saja yang berada di kakinya. 

Dari sanalah dipercaya awalnya peradaban Pulau Lombok yang terus mengalir ke arah hilir pascaletusan hebat Gunung Samalas pada 1257. Gunung Samalas merupakan gunung sebelum Rinjani yang letusannya menghentakkan dunia hingga mengubah iklim global serta berdampak pada kelaparan dan kematian sampai Benua Eropa selama dua tahun. 

Berdasarkan cerita warga dari leluhurnya secara turun-temurun, sekelompok warga yang berada di kaki gunung itu, itupun mengungsi ke tempat yang aman menuju ke arah timur, yakni hutan Pilin di daerah Sambalia, Labuan Lombok, sampai Selaparang. 

"Selama ratusan tahun mereka mengungsi akibat trauma letusan itu, ada inisiatif dari beberapa orang yang mengajak kembali ke Sembalun sekaligus mencari leluhurnya," kata Mertawi, Ketua Lembaga Adat Sembalun Lawang yang juga Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur kepada Antara.

Ketujuh kepala keluarga itu, kembali ke Sembalun dengan mendaki bukit sampai ke Bukit Nanggi. Dalam perjalanan itu mereka menghadapi derasnya sungai hingga tidak bisa menyeberang dan terus menyusuri tepi sungai. Akhirnya mereka tiba di kaki Bukit Selong. 

Karena tidak bisa juga menyeberang, mereka pun beristirahat di satu tempat yang kemudian merasa nyaman dan dibuatkan "dangau" atau tempat tinggal sementara dan selanjutnya menetap di situ. Jumlah bangunan sebanyak tujuh rumah yang saat ini menjadi Desa Adat Beleq. 

"Tetapi dalam perjalanan waktu beranak pinak tetapi setiap ada keinginan membangun rumah yang baru selalu ada musibah yang mereka alami, misalnya anaknya meninggal pokoknya tidak bisa berkembang biak, termasuk membangun fondasi rumah ada musibah," katanya. 

Mereka berkesimpulan di tempat itu tidak boleh ada bangunan tambahan selain bangunan yang sudah ada dan kemudian mereka berpikir untuk mengembangkan ke lokasi yang lebih luas di tempat lain. 

Pada waktu yang disepakati mereka bergerak ke arah barat, lagi-lagi dihadang kali yang sangat deras dan dalam, lalu mereka bergerak ke arah selatan, menyusuri kali itu. Sampailah di bawah Bukit Majapahit. 

Di situlah mereka bertemu dengan dua orang asing, namanya Raden Aria Pati dan Raden Aria Mangunjaya. Mereka yang berdua itu mengaku dari Kerajaan Majapahit. 

"Datu Majapahit dikenal bagi kita adalah punggawa Majapahit. Tetapi dua orang ini bukan sembarang memiliki kesaktian yang luar biasa, bisa hadir dengan cara gaib," katanya. 

Kedua orang itu, menawarkan untuk membantu mencari tempat baru tersebut dan bergerak ke arah selatan mencari lokasi yang layak untuk diseberangi, mereka sampai di satu titik yang paling sempit.

"Lalu kemudian mereka berusaha membuat jembatan sederhana. saling dukung saling pegang sampai mereka menyeberang. Saling membantu itu diabadikan jadi nama 'Loko Sangka Bira' atau tempat saling membantu dengan ikhlas atau dikenal dengan gotong royong," katanya. 

Hingga akhirnya menamai tempat baru untuk dihuni itu, yakni, Sembalun yang merupakan gabungan dari kata sembah atau menyembah sedangkan wulun berarti penguasa/raja/pimpinan, sehingga diartikan dari kata tunduk kepada yang Maha Kuasa.  

Sungai itu pun sampai sekarang dikenal oleh masyarakat sebagai Sungai Majapahit, sedangkan Bukit Majapahit dikenal sebagai tempat tapak kaki para punggawa Kerajaan Majapahit yang sekarang ini. 

Di bawah kaki bukit tersebut saat ini, terpampang tulisan, "Selamat Datang di Wisata Budaya Petilasan Majapahit. Petilasan Majapahit konon adalah tempat bersemedi orang-orang sakti dari Majapahit, yang sudah ada sebelum Desa Sembalun berdiri.

Tempat ini adalah bekas petilasan Raden Arya Pati dan Raden Arya Mangunjaya. Pertama kali warga menemukan kedua Raden Majapahit itu, saat periode Sembalun Kedua (600-700 tahun yang lalu).

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA