Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Peternak Unggas Blitar Akui Kebijakan Kementan Pro Rakyat

Kamis 29 Nov 2018 11:25 WIB

Red: EH Ismail

Pengurus PPRN (Paguyupan Peternak Rakyat Nasional) yang sekaligus  Ketua Koperasi Putra (Koperasi Peternak Unggas Sejahtera) Blitar, Sukarman.

Pengurus PPRN (Paguyupan Peternak Rakyat Nasional) yang sekaligus Ketua Koperasi Putra (Koperasi Peternak Unggas Sejahtera) Blitar, Sukarman.

Peternak di Blitar merasa banyak dibantu Kementerian Pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, BLITAR -- Asosiasi peternak Indonesia mengakui kebijakan Kementerian Pertanian selama ini sangat berdampak terhadap keberlangsung usaha mereka. Pengurus PPRN (Paguyupan Peternak Rakyat Nasional) yang sekaligus  Ketua Koperasi Putra (Koperasi Peternak Unggas Sejahtera) Blitar, Sukarman mengatakan, Blitar memiliki 4.200 peternak dengan populasi ayam layer sekitar 19 juta ekor dan produksi telur mencapai 650 ton per hari.

Menurutnya selama ini peternak di Blitar merasa banyak dibantu oleh Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. "Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir ini kami banyak dibantu oleh Kementan. Saat harga telur jatuh pada 2017 mencapai Rp.13.500,-  Kementan langsung datang, bahkan Dirjen PKH atas instruksi Bapak Mentan datang sendiri sampai tiga kali ke Blitar,” kata Sukarman.

Sukarman menjelaskan, untuk mengatasi penurunan harga telur tersebut, Kementan mengundangnya ke Jakarta dan dilibatkan dalam penyusunan kebijakan perunggasan di sektor hulu hingga terbitlah Permentan 32 tahun 2017.

"Untuk mengakomodir suara kami, Kementan merevisi Permentan sebelumnya menjadi Permentan No. 32 tahun 2017, dimana dalam Permentan tersebut diatur pembagian DOC layer, dimana peternak mandiri mendapatkan DOC 98% dan integrator cuma 2%, bahkan integrator tidak boleh menjual telur di pasar becek,” ujarnya.

Ia menuturkan, produksi telur sebelumnya kurang baik karena banyak ayam yang afkir, hingga harga telur setelah lebaran kembali mengalami penurunan sekitar Rp 15.500 - Rp 16 ribu,-. Menyikapi hal ini Dirjen PKH kembali turun ke lapangan dan menghimbau agar ayam yang sudah tidak berproduksi untuk diafkir.

"Saat ini yang berproduksi adalah ayam-ayam muda dan sudah berproduksi maksimal,” papar Sukarman.

Menurutnya, dalam dua minggu ini harga telur ayam telah membaik, yaitu berkisar antara Rp 19.500 – Rp 20 ribu, sebelumnya sekitar Rp 16 ribu,-. "Harga saat ini sudah sesuai dengan harga acuan yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Permendag No 96 Tahun 2018 yakni Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu,” kata Sukarman.

Sukarman menambahkan, jika jumlah anggota koperasinya saat ini ada 350 peternak, sedangkan anggota dari assosiasi PPRN banyak sekali. Rata-rata kepemilikan ayamnya 3 ribu – 10 ribu, bahkan ada yang ratusan ribu. Ia kembali menekankan bahwa Kementan sangat membantu keberlangsungan usaha peternak-peternak kecil di Blitar dari hulu hingga hilir.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA