Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Brexit Bawa Ekonomi Inggris di Ambang Bahaya

Rabu 28 Nov 2018 10:00 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara selama konferensi pers di akhir KTT Uni Eropa di Brussels, Ahad (25/11) waktu setempat. Pemimpin negara Uni Eropa berkumpul untuk menyepakati perpisahan blok tersebut dengan Inggris pada tahun depan.

Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara selama konferensi pers di akhir KTT Uni Eropa di Brussels, Ahad (25/11) waktu setempat. Pemimpin negara Uni Eropa berkumpul untuk menyepakati perpisahan blok tersebut dengan Inggris pada tahun depan.

Foto: AP
Theresa May masih berupaya meyakinkan parlemen menyetujui kesepakatan Brexit.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pemerintah Inggris dan bank sentral mereka, Bank of England akan meningkatkan peringatan mereka tentang dampak ekonomi bila kesepakatan Brexit tidak terjadi. Hal itu membantu Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk mengatasi perlawanan terhadap rencana kesepakatan yang telah ia ajukan.

Empat bulan sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa, May gagal untuk menyakinkan partai pengusungnya Partai Konservatif untuk mendukung kesepakatan yang akan diajukan ke pemimpin-pemimpin Uni Eropa. Kegagalan itu dapat membuat Brexit tanpa ada kesepakatan sama sekali.

Gubernur Bank of England Mark Carney dan Menteri Keuangan Philip Hammond sebelumnya telah menekankan pentingnya masa transisi. Hal itu termasuk rencana May untuk mempermudah keluarnya Inggris dari Uni Eropa setelah menjadi anggota selama empat dekade.

Pekan lalu Carney mengatakan jika Brexit tanpa masa transisi maka dampak yang ditinggalkan akan sama seperti krisis minyak pada 1970-an. Tapi kemungkinan Brexit mengalami disruptif tetap ada mengingat besarnya jumlah anggota parlemen yang menentang rencana kesepakatan tersebut.

Parlemen Inggris akan melakukan pemungutan suara pada 11 Desember mendatang. Untuk menentukan disetujui atau tidaknya kesepakatan Brexit yang telah dibuat May.

Lembaga Penelitian Institut Ekonomi dan Sosial Nasional mengatakan kesepakatan Brexit yang dibuat May akan membuat perekonomian Inggris lebih lemah 3,9 persen dibandingkan tetap bertahan di Uni Eropa pada 2030 nanti. Itu setara dengan 1.100 poundsterling per orang per tahun.

Tapi beberapa pendukung Brexit yakin memutus hubungan dengan Uni Eropa akan membantu pertumbuhan ekonomi Inggris yang kini perekonomian terbesar nomor lima di dunia. Mereka yakin setelah lepas dari Uni Eropa lebih mudah bagi Inggris untuk membuat kesepakatan dengan negara-negara dan wilayah yang berkembang pesat di luar Eropa.

Rakyat yang memilih untuk melepaskan diri dari Uni Eropa pada referendum 2016 lalu mengabaikan peringatan pemerintah tentang dampak yang mengerikan terhadap perekonomian Inggris jika keluar dari Uni Eropa. Belum diketahui apakah para anggota legislatif Inggris terpengaruh dengan peringatan menteri keuangan dan Bank of England atas dampak dari tidak adanya kesepakatan Brexit.

Pemerintah Inggris diharapkan akan segera memberikan penjelasan tentang dampak Brexit. Hal itu termasuk memberikan perbandingan jika mereka tetap bertahan di Uni Eropa. Bank of England juga akan mempublikasikan penilaian mereka tentang implikasi Brexit untuk suku bunga dan beberapa skenario di sektor perbankan.

Carney dan beberapa pejabat senior di Bank of England telah memperingatkan para investor untuk tidak mengandalkan pemotongan biaya pinjaman jika terjadi krisis ekonomi yang disebabkan kegagalan kesepakatan Brexit. Mereka mengatakan hal itu dapat mendorong inflansi yang tajam dan juga merusak pertumbuhan ekonomi.

Selain hasil analisis mereka terhadap Brexit, Bank of England juga akan mempublikasikan laporan tahunan Financial Stability Report. Financial Services Authority, semacam Otoritas Jasa Keuangan di Inggris, juga akan mempublikasikan dampak Brexit versi mereka.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA