Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Harga Minyak Berbalik Menguat

Selasa 27 Nov 2018 07:37 WIB

Red: Friska Yolanda

Ilustrasi Kilang Minyak

Ilustrasi Kilang Minyak

Foto: Foto : MgRol112
Penguatan harga terbatas ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak melonjak hampir tiga persen pada akhir perdagangan Senin (27/11) waktu setempat, mengembalikan beberapa kerugian tajam pekan lalu. Namun demikian, kenaikannya dibatasi oleh ketidakpastian atas pertumbuhan ekonomi global dan tanda-tanda lebih lanjut dari peningkatan pasokan, termasuk rekor produksi Saudi.

Minyak mentah Brent berjangka naik 1,68 dolar AS atau 2,9 persen menjadi menetap di 60,48 dolar AS per barel. Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), meningkat 1,21 dolar AS atau 2,4 persen, menjadi ditutup pada 51,63 dolar AS per barel.

Harga minyak pada Jumat (23/11) jatuh mencapai tingkat terendah sejak Oktober 2017, di tengah peningkatan kekhawatiran tentang melimpahnya pasokan. Brent merosot ke 58,41 dolar AS per barel, sementara WTI jatuh ke 50,15 dolar AS per barel.

"Kami enggan membaca banyak tentang kenaikan harga minyak hari ini mengingat kondisi teknis sangat oversold yang hanya membutuhkan reli pasar saham moderat untuk memaksa beberapa short-covering," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Mendukung harga minyak, pasar saham AS secara luas menguat karena Cyber Monday, hari belanja daring (online) terbesar tahun ini, dimulai. Minyak mentah berjangka kadang-kadang mengikuti pasar ekuitas.

Harga meningkat didorong beberapa dukungan karena stok minyak mentah di titik pengiriman untuk WTI di Cushing, Oklahoma, naik hanya 126 barel dari Selasa (21/11) hingga Jumat (23/11). Namun, kekhawatiran permintaan dan rekor produksi dari Arab Saudi membatasi kenaikan harga minyak lebih lanjut pada perdagangan Senin (26/11).

Produksi minyak mentah Saudi mencapai 11,1-11,3 juta barel per hari (bph) pada November. Sebuah sumber mengatakan produksi ini merupakan yang tertinggi sepanjang masa.

Meningkatnya dolar AS yang telah melemahkan permintaan di negara-negara pasar berkembang utama. Penguatan dolar AS mendorong tingginya biaya pinjaman dan ancaman terhadap pertumbuhan global dari sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina.

OPEC akan bertemu di Wina pada 6 Desember, di tengah harapan bahwa Arab Saudi akan mendorong pemotongan produksi hingga 1,4 juta barel per hari oleh klub produsen dan sekutu-sekutunya. Goldman Sachs mengatakan pertemuan G20 pekan ini bisa menjadi katalis untuk rebound harga-harga komoditas, mungkin mendorong pencairan ketegangan perdagangan AS-Cina dan menawarkan kejelasan lebih besar tentang potensi pembatasan produksi minyak OPEC.

Goldman percaya OPEC dan negara-negara lain akan mencapai kesepakatan, yang akan mendorong pemulihan harga Brent. "Meskipun kami tidak berpikir bahwa harga Brent dibenarkan pada 86 dolar AS per barel, kami juga tidak percaya bahwa mereka berada di 59 dolar AS dengan perkiraan Brent 2019 kami di 70 dolar AS," kata Goldman.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA