Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Kementan Kaji Kurikulum Polbangtan dengan Kadin

Senin 26 Nov 2018 19:00 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Muhammad Hafil

Logo Kadin (ilustrasi)

Logo Kadin (ilustrasi)

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Kewirausahaan milenial tani meningkat hingga 103 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yang berada di bawah Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menggodok kurikulum pendidikan yang tepat. Hal ini dilakukan bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang sesuai dengan keinginan dunia industri.

"Jadi lulusan kami langsung diserap oleh mereka (Kadin).Bahkan kalau diperlukan mengubah kurikulum pun saya setujui," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Momon Rusmono, Senin (26/11).

Kadin, ia melanjutkan, akan turut berperan dalam proses sertifikasi dosen dan mahasiswa. Ia berharap, Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian ke depannya tetap profesional, mampu mandiri dan berdaya saing. Apalagi saat ini merupakan jaman milenial yang turut dilengkapi dengan perkembangan reformasi industri 4.0.

Polbangtan merupakan transformasi dari Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) yang dilengkapi dengan peningkatan jumlah program studi (prodi). Misalnya, prodi khusus mekanikal enjinering di bidang pertanian, teknologi pengolahan pangan dan irigasi yang pendekatannya menyerupai reformasi industri 4.0.

"Meningkatan prodi berdampak pada minat generasi muda untuk masuk di Polbangtan," ujar dia.

Menurut Momon, minat milenial meningkat 12 kali lipat atau 1.237 persen yaitu dari 980 pendaftar pada 2013 menjadi 13.111 pendaftar di Polbangtan pada 2018. Hal ini dikarenakan transformasi STPP menjadi Polbangtan yang didesign untuk mencetak milenial tani profesional yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan memiliki sertifikasi internasional untuk dapat bekerja di perusahaan multinasional.

Kewirausahaan milenial tani pun meningkat hingga 103 persen  dari 500 kelompok Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) di tahun 2016 menjadi 1.013 kelompok PWMP di 2018.

"Polbangtan berhasil mencetak miliarder-miliarder tani millenial seperti kelompok PWMP Utami Super Broiler dari timur Indonesia yaitu Manokwari Papua yang berhasil mengembangkan usaha mereka hingga mencapai omzet Rp 1,5 miliar dalam jangka waktu satu tahun," ujarnya.

Sementara itu, Wisman Djaja dari PISAgro, lembaga kemitraan Kadin mengatakan, pihaknya telah terlibat denggan berbagai kelompok kerja. Kemitraan tersebut menerapkan kurikulum guna meningkatkan kemampuan petani untuk meningkatkan budidaya. Program itu lah yang nantinya akan dijadikan kurikulum nasional melalui Polbangtan.

"Jadi kita satu bahasa di dalam melatih petani ini," ujarnya. Dengan sinergi tersebut, apa yang diterapkan industri ke petani melalui kelompok kerja adalah sama dengan apa yang disampaikan lulusan Polbangtan kepada petani.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah mendorong peningkatan pendidikan vokasi yang bertujuan menghasilkan tenaga kerja terampil dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi negara. Bagi PISAgro sendiri, terlibat dalam pendidikan Polbangtan adalah hal baik yang berdampak pada keberlangsungan industri.

Menurutnya, industri membutuhkan bahan baku secara berkelanjutan atau sustainable. Itu artinya pasokan bahan baku harus terus tersedia. Menurutnya, pendapatan petani juga perlu terus dijaga tetap baik agar terjadi regenarasi.

"Cara kita melakukannya adalah meningkatkan produktivitas. Itu lah objektif kita di PISAgro. Kalau tidak ada bahan baku dari petani, perusahaan kita engga ada," katanya yang menjabat sebagai Sustainable Agriculture Development and Procurement Director PT Nestle Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA