Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Menag Sebut Tugas Guru Semakin Kompleks

Senin 26 Nov 2018 09:43 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (kiri)

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (kiri)

Foto: Republika TV/Wahyu Suryana
Para siswa kini hidup di dua dunia, yakni dunia nyata dan dunia maya.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menghadiri puncak peringatan Hari Guru Nasional Kementerian Agama RI di  Dyandra Convention Hall, Jalan Basuki Rahmat, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya, Ahad (25/11) malam. Pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan kepada guru-guru berprestasi yang menjadi pemenang Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah 2018.

Melalui sambutannya, Lukman mengingatkan tantangan bagi para guru yang semakin kompleks. Saat ini masyarakat, tidak terkecuali para siswa hidup di dua dunia, yakni dunia nyata dan dunia maya. Menurutnya, pengaruh dunia maya ini, dalam banyak hal ikut memengaruhi, tidak saja tindakan dan perilaku, tapi juga tata nilai yang dianut di dunia nyata.

"Sesuatu yang tidak pernah dialami oleh generasi pendahulu kita. Itulah mengapa tugas kita sebagai pendidik tidak semakin sederhana," kata Lukman.

(Baca: Guru Agama PNS dan non PNS Segera Dapat Tunjangan Profesi)

Lukman menjelaskan dua pengaruh utama dari perkembangan teknologi, yang membuat manusia hidup di dua dunia tersebut. Pertama terkait globalisai yaitu teknologi yang semakin canggih, membuat masyarakat Indonesia hidup mengglobal.

Globalisasi ini, kata dia, memang mendatangkan banyk sisi positif. Karena membuat manusia berada pada wilayah yang tanpa batas, memiliki keterbukaan informasi, memiliki keterhubungan, keteemrjangkauan, yang membuat segalanya lebih mudah, murah, dan efisien.

Tetapi, globalisasi itu juga dirasanya diiringi hal-hal negatif yang harus dicermati. Seperti mudah terseburnya paham-paham yang bertolak belakang dengan kebudayaan ke-Idononesiaan dan juga keagamaan.

"Itu tidak hanya sekedar masuk ke lingkungan masyarakat tapi juga masuk ke ruang privat keluarga kita. Liberalisasi, dan sekukarisasi misalnya. Dengan perkembangan teknologi yang luar biasa itu mengubah tatanan kehidupan," ujar Lukman.

Kedua, pengaruh dari perkembangan teknologi adalah berkembangnya disrupsi teknologi. Ini juga menurutnya banyak sisi positifnya, termasuk di dunia pendidika. Dimana semakin mudah, murah, dam cepat mengakses informasi. Tapi, kata dia, yang harus diwaspadai dari efek tersebut adalah dampak ikutan dari revolusi teknologi informasi itu yaitu kemerosotan tata-nilai (dehumanisasi) yang dirasanya juga mengiringi perkambangan teknologi tersebut.

"Contoh kecilnya, kita sering sekali melihat kumpul bersama anggota keluarga dalam satu meja, tapi tidak saling menyapa karena asik dengan gedget kita masing-masing," kata Lukman.

Lukman melanjutkan, bagi tegaka pendidik, kesemuanya itu menjadi tantangan serius yang harus disikapi dengan kearifan dan penuh kebijakan. "Makanya saya mengajak untuk semakin meneguhkan diri, tidak ada pilihan lain, kita harus kembali ke jati diri bangsa Indonesia yang religius, yang agamis," ujar Lukman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA