Rabu, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 Januari 2020

Rabu, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 Januari 2020

Ketika Arwah Khashoggi Jadi Alat Penekan Politik

Senin 26 Nov 2018 06:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Hubungan Turki-Saudi selama ini kurang harmonis terutama sejak pengangkatan MBS.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Kasus pembunuhan Jamal Khashoggi bila diurai sebagai berikut. Ia  wartawan Saudi, lulusan universitas di Amerika Serikat (AS), dan kariernya mentereng. Mula mula ia menjadi jurnalis di surat kabar al Madina, lalu di al Watan hingga menjadi pemimpin redaksi. Al Madina dan al Watan adalah media Saudi.

Usamah bin Ladin pernah ia wawancarai. Bahkan ia mendukung perjuangan Usamah untuk melawan invasi militer Uni Soviet di Afghanistan. Termasuk, perekrutan para milisi dari Saudi. Di tahun 1990-an, ia pun banyak menulis tentang para milisi berhaluan Islam ini.

Namun, ketika Usamah dan Alqaeda menyerang Menara Kembar World Trade Center di New York yang menewaskan empat ribuan warga, Khashoggi pun berbalik menyerang kelompok teroris ini. Dari sini Khashoggi pun dikenal sebagai pakar deradikalisasi.

Apalagi ia juga sangat kritis terhadap kelompok-kelompok Wahabi yang mendominasi Arab Saudi. Kelompok-kelompok yang dikenal sangat ketat dalam pandangan agama.

Di lingkaran Kerajaan Saudi, Khashoggi pun dikenal sebagai ‘orang dalam’. Ia banyak mengenal dan bergaul dengan orang-orang penting dalam keluarga kerajaan. Bahkan ia pernah jadi penasihat media untuk Pangeran Turki al Faisal ketika menjadi Duta Besar Saudi untuk Inggris dan kemudian AS.

‘Kemesraan’ Khashoggi dengan keluarga kerajaan mulai terganggu saat pecah revolosi rakyat menentang para pemimpin diktator bin otoriter di sejumlah negara Arab. Revolusi yang kemudian dikenal dengan al Rabi’ al ‘Araby atau the Arab Spring. Khashoggi berpihak pada kelompok oposisi yang mendesak perubahan di Mesir dan Tunisia.

Pandangan Khashoggi ini sangat bertolak belakang dengan kebijakan resmi negaranya. Saudi melihat pemberontakan rakyat Arab sebagai ancaman.

Ketika Ikhwanul Muslimin yang dianggap sebagai mewakili Islam politik dibubarkan oleh Presiden Mesir, Abdul Fatah Sisi, dan bahkan dianggap sebagai kelompok teroris, Saudi pun mendukung kebijakan tersebut.

Hubungan Khashoggi dengan kerajaan semakin renggang manakala ia memberikan wawancara dengan media asing. Ia mengecam monarki absolut Arab Saudi. Menurutnya, sistem demokratis diperlukan bagi kestabilan negara itu di masa depan.

Selanjutnya ia juga mengkritisi keputusan Pemerintah Saudi yang memutus hubungan dengan Qatar. Ia pun mendesak pemerintahnya berteman baik dengan Turki terkait sejumlah masalah di kawasan. Turki selama ini mendukung Qatar.

Puncak kerenggangan Khashoggi dengan kerajaan terjadi ketika ia menuduh Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS), yang merupakan pemimpin  de facto Saudi, telah menindas para aktivis yang kritis terhadap kebijakan penguasa Saudi. Jadilah Khashoggi sebagai unwanted di negaranya. Pada 2017, ia pun pergi ke AS dan menjadi kolomnis tetap di Washington Post.

Selain menulis, ia pun aktif memberikan wawancara, menjadi nara sumber, dan menghadiri seminar-seminar di New York, London, dan Istanbul. ‘’Saya meninggalkan rumah saya, keluarga, dan pekerjaan saya. Saya ingin menyuarakan pandangan saya dengan tegas,’’ ujar Khashoggi dalam sebuah wawancara. ‘’Jika (saya) tidak melakukannya, (itu) sama saja dengan mengkhianati orang-orang yang dipenjara. Saya bisa bersuara, sementara banyak orang lain tidak.’’

Maka, ketika Khashoggi memasuki kantor konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu dan kemudian dinyatakan hilang oleh tunangannya, tuduhan pun langsung dialamatkan ke pihak Saudi. Pada awalnya para pejabat Saudi membantah dan menyatakan Khashoggi telah keluar dari konsulat. Artinya, kalaupun ia hilang raibnya di luar konsulat Saudi.

Sejak itu kasus Khashoggi pun  seperti gelanggang tinju. Pihak Turki terus membombardir dengan berbagai pukulan, sementara pihak Saudi terus bertahan agar tidak KO (knock out).

Dari berbagai bukti baru yang terus dirilis pihak Turki melalui media, pihak Saudi pun beberapa kali harus mengubah cerita. Dari pernyataan Khashoggi telah keluar dari konsulat, lalu pengakuan ia telah terbunuh di dalam konsulat akibat perkelahian, hingga kemudian mengakui bahwa sang wartawan telah dibunuh secara berencana oleh sebuah tim. Pengakuan ini juga ditindaklanjuti dengan penahanan 18 warga Saudi yang diduga terlibat dalam pembunuhan berencana itu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA