Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Harga Beras Medium Dekati HET, Pedagang: Tak Boleh Terjadi

Kamis 22 Nov 2018 13:18 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pedagang beras dengan bermacam harga.

Pedagang beras dengan bermacam harga.

Foto: Republika/Yasin Habibi
Pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi beras medium Rp 9.450 per kilogram

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Cipinang Zulkifli Rasyid menjelaskan, harga beras medium di PIBC sudah mencapai Rp 9.225 per kilogram. Angka tersebut sudah mendekati harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp 9.450 per kilogram.

Kondisi itu dinilai Zulkifli tidak boleh terjadi sebenarnya. Sebab, kalau dijual ke pasar wilayah, pedagang akan sulit mencari keuntungan.

"Normalnya, kami jual Rp 9.000 per kilogram, sehingga ada margin Rp 450 per kilogram yang bisa dimiliki pasar kecil," ucapnya ketika ditemui di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Kamis (22/11).

Melalui operasi pasar, Zulkifli berharap, harga beras medium optimistis kembali stabil. Sebab, ketika informasi operasi pasar baru beredar beberapa hari lalu saja, harga beras mulai perlahan turun seiring dengan keyakinan pedagang. Apalagi, ketika beras dari Bulog itu sudah benar akan turun ke pasar-pasar wilayah.

Zulkifli menilai, peningkatan harga beras medium tidak terlepas dari minimnya komunikasi antar lembaga dan kementerian di pemerintahan. Menurutnya, terjadi keterlambatan pemerintah operasi pasar dari Kemendag ke Bulog yang menyebabkan stok berad di pasar berkurang.

"Saya sudah meminta satu bulan lalu, tapi baru terjadi hari ini," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Bahan Pokok dan Kebutuhan Penting Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tuti Prahastuti menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan harga beras medium di pasaran naik. Di antaranya, peningkatan permintaan pasca bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat yang membutuhkan.

Tuti menjelaskan, dengan BLT, masyarakat bisa membeli beras di pasaran terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan konsep beras sejahtera (rastra), di mana beras langsung disalurkan ke warga.

"Dengan begitu, mereka ke pasar dan memilih beras yang bagus," ujarnya.

Tuti menambahkan, rata-rata masyarakat lari ke beras medium karena memiliki kualitas baik dan harganya cenderung terjangkau dibandingkan premium. Dengan tingginya permintaan, ketersediaan di pasaran berkurang dan menyebabkan harga naik di beberapa bulan belakangan.

Tapi, Tuti mengatakan, pihaknya tidak bisa menyalahkan siapapun karena semua pemangku kepentingan bertanggung jawab atas kestabilan harga beras medium di pasaran. Menurutnya, kunci utama dalam kestabilan harga adalah supply dan demand. Kalau permintaan banyak, tetapi ketersediaan kurang, pasti akan berdampak.

"Di PIBC saja, yang 20 persen konsumsi beras seluruh Indonesia, ternyata beras medium nggak ada. Ini yang harus jadi concern," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA