Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Satu Per Satu Desa Terpencil di Sumbar Terlistriki

Kamis 22 Nov 2018 05:17 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Dwi Murdaningsih

Warga Jorong Lubuk Labu di Kabupaten Dharmasraya, Sumbar menyaksikan peresmian sambungan listrik setelah puluhan tahun menunggu.

Warga Jorong Lubuk Labu di Kabupaten Dharmasraya, Sumbar menyaksikan peresmian sambungan listrik setelah puluhan tahun menunggu.

Foto: Republika/Sapto Andika Candra
Listrik sudah menyala di Lubuk Labu dan Sungai Limau di Nagari Banai.

REPUBLIKA.CO.ID,DHARMASRAYA -- Impian warga Jorong, setingkat dusun, Lubuk Labu dan Sungai Limau di Nagari Banai, Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat untuk bisa menikmati sambungan listrik selama 24 jam penuh akhirnya terwujud. Meski terletak di kabupaten yang kaya dengan hasil alam berupa karet dan kelapa sawit, warga di kedua dusun tersebut sudah melalui 73 kali perayaan HUT Kemerdekaan RI tanpa aliran listrik dari PLN.

Baru pada Rabu (21/11) ini, sebanyak 58 Kepala Keluarga (KK) di kedua jorong bisa menyalakan lampu di siang hari. Menyambungkan aliran listrik untuk warga Nagari Banai yang letaknya sekitar 60 kilometer (km) dari pusat Kabupaten Dharmasraya memang tak mudah.

Demi mencapainya, butuh sekitar 4 jam perjalanan dari Kota Padang menuju Pulau Punjung di Dharmasraya, berlanjut perjalanan sekitar 3 jam membelah hutan dengan medan berlumpur. Bila hari hujan, tentu waktu tempuhnya akan lebih panjang karena mobil dobel gardan dipaksa ekstra hati-hati saat melintasi jalanan licin dan sungai dengan aliran yang makin deras.

photo
Warga Jorong Lubuk Labu di Kabupaten Dharmasraya, Sumbar menyaksikan peresmian sambungan listrik setelah puluhan tahun menunggu.
Namun segala tantangan itu tak menjadi halangan bagi PLN untuk menyambungkan aliran listrik kepada warga di desa terpencil sekalipun. Setelah memakan waktu 3 tahun dan anggaran sekitar Rp 7 miliar, infrastruktur listrik bisa tersambung menuju Jorong Lubuk Labu dan Sungai Limau. Warga dusun kini bisa menjalankan aktivitas hariannya tanpa terhalang akses listrik yang terbatas.

"Sebelum tahun 2008 masyarakat kami hanya pakai lampu botol yang dikasih sumbu dan dibakar dengan api. Kemudian tahun kami diberi bantuan mesin diesel untuk listriki warga dari jam 6 sore sampai jam 10 malam," ujar Wali Jorong Sungai Limau Muslihadi, Rabu (21/11).

Perjuangan warga untuk mendapat aliran listrik memang cukup berat. Sebelum PLN merealisasikan sambungan listik ke dua dusun itu, warga harus iuran Rp 80 ribu per bulan untuk menutup biaya operasional mesin diesel. Itu pun, kapasitas listrik yang dibangkitkan terbatas sehingga warga hanya bisa menggunakan listrik untuk keperluan penting.

Muslihadi berharap dengan adanya akses listrik nonsetop sehari penuh, warga bisa meningkatkan produktivitas ekonominya, termasuk memajukan pendidikan anak-anak desa.

Bupati Dharmasraya Sutan Rizka Tuanku Kerajaan menyebutkan bahwa dari sisi ekonomi, PLN merugi dalam proses penyambungan listrik ke Nagari Banai. Menurutnya, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur listrik sebesar Rp 7 miliar tak sebanding dengan perolehan pembayaran dari 58 KK.

Namun Sutan memandang bahwa pembangunan saat ini tak lagi terpatok pada ekonomis tidaknya bagi perusahaan. Pemerintah, ujar Sutan, ingin memeratakan pembangunan di seluruh negeri. Satu per satu, lanjutnya, desa terpencil akan terlistriki.

"Ini bagian dari janji kami untuk memberikan hak bapak ibu memperoleh listrik. Dengan masuknya listrik ke sini, seluruh desa di Dharmasraya sudah tersentuh listrik 100 persen," kata Sutan.

GM PLN Wilayah Sumbar, Susiana Mutia, menilai akses listrik bagi warga desa yang berbatasan dengan Kabupaten Solok Selatan ini barangkali bisa dimaknai dengan maka 'kemerdekaan'. Bagi warga desa terpencil, ujar Susiana, menikmati aliran listrik adalah bentuk kemerdekaan untuk mendapat hak yang sama seperti warga negara Indonesia lainnya.

"Perjalanan ke tempat ini tidak mudah. Tentu kita bisa membayangkan bagaimana perjuangan petugas-petugas PLN untuk mengalirkan listrik ke Desa Lubuk Labu ini," ujar Susiana.

PLN mencatat, program Lisdes sekaligus meningkatkan realisasi rasio elektrifikasi (RE) yang sudah ditargetkan. Target RE untuk unit induk wilayah (UIW) Sumbar, ujar Susiana, sebesar 91,59 persen. Realisasi RE wilayah Sumbar pada Oktober 2018 sudah tercapai 92,3 persen. Khusus untuk Kabupaten Dharmasraya, termasuk Desa Lubuk Labu yang akhirnya teraliri listrik, angka RE bisa menyentuh 90,11 persen per Oktober 2018.

"PLN juga salurkan CSR kepada Masjid Baitul Rahman Desa Lubuk Labu sebesar 50 juta rupiah," kata Susiana.

Khusus untuk warga Desa Lubuk Labu yang baru saja menikmati listrik, PLN menyediakan program cicilan biaya pasang baru dengan bunga 0 persen yang dapat dinikmati sampai 24 kali cicilan dengan keleluasaan pembayaran yang disesuaikan. PLN juga menawarkan program Rejeki Dunsanak Minang yang berhadiah utama Ibadah Umroh.

"Bagi pelanggan PLN, untuk mendapatkan kupon cukup dengan membeli token listrik minimal 500 ribu rupiah bagi pelanggan Prabayar dan membayar tagihan sebelum tanggal 20 setiap bulannya bagi pelanggan Pascabayar," kata Susiana.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA